Anjing Masuk Masjid dan Kaum yang Suka Memanas-manasi Kondisi

Breaking News 4

Anjing Masuk Masjid dan Kaum yang Suka Memanas-manasi Kondisi

Anjing Masuk Masjid dan Kaum yang Suka Memanas-manasi Kondisi

Beberapa hari silam, ada wanita beragama lain mengamuk seraya bawa anjing ke masjid. Saya marah? Iya. Jangankan masjid, kalau ada orang masuk ke rumah saya seraya bawa haewan ternak-pun, saya akan muntab.

Tetapi waktu tahu, dan tampaknya terbukti, kalau wanita itu depresi, maka saya menunda kemarahan. Orang gila kok diladeni. Kalau orang ini menderita schizofrenia, saya kira case closed. Membawa orang gila ke ranah hukum itu perbuatan sia-sia. Yang pas membawanya ke RS jiwa.

Jadi, tidak Penting adu dalil. Tidak Penting juga membawa konteks perilaku orang Badui yang pipis di dalam masjid di era Rasulullah untuk membela wanita gila ini. Karena, konteksnya geografis, sosiologis, dan psikologis tak sama. Tidak Penting juga mendramatisir jika ini salah Joko Widodo (apa korelasinya, coba?), ulah kaum kafir, dan “gorengan” lain yang dapat memanaskan suasana. Karena, muara kasusnya 1, pelakunya wong gendeng.

Dalam banyak hal, saya kira kita Penting melokalisir problem, termasuk dalam Perkara ini. Melokalisir problem artinya menelusuri sebab-musababnya, mempreteli akarnya dan mencari solusinya, biar tidak merembet dan menimbulkan problem baru. Ini penting, sebab bermacam kerusuhan dan tindakan barbar yang melibatkan massa biasanya muncul dari 1 problem yang disangkutpautkan dengan masalah lain. Lantas ada banyak pihak berkepentingan yang memainkan Perkara sensitif sampai pada akhirnya, api permusuhan tersulut, membesar, kemudian menghasilkan ledakan kerusuhan. Menakutkan!

Dalam Perkara ini, penting kiranya kita menahan diri. Bukan malah dengan memanas-manasi. Kalaupun pelakunya normal, kemudian kita marah, dan lalu bilang “Dasar, Katolik Bajingan!”, bukankah ini sama biadabnya dengan makian kaum fasis-rasis di Amerika dan Eropa yang bilang “Dasar, Muslim Keparat!” saat menyaksikan aksi muslim Srilanka mengebom gereja.

Contoh lain. Misalnya, anak saya bertengkar dengan sahabatnya yang beragama Hindu. Tatkala melokalisir problem, maka saya pantang mengata-ngatainya dengan sebutan “Dasar Hindu Kurangajar”. Pun sedemikian dengannya. Nggak usah bilang “Muslim Teroris”. Karena, ada banyak sensitivitas di negeri ini, termasuk ungkapan bernama SARA. Cukup diselesaikan dengan baik-baik. Masing-masing ortu ngobrol dengan kepala dingin. Selesai di tahap kekeluargaan. Tanpa wajib naik di level hukum. Banyak Perkara sesungguhnya yang dapat diselesaikan dengan cara “minum secangkir kopi bersama-sama”, tapi sebab gengsi dan harga diri salah kaprah, akhirnya berlanjut ke level hukum. Problem level RT, tapi ditangani di Mahkamah Agung. Konyol, namanya.

Dalam Islam, sikap menahan diri dan jernih menyaksikan masalah itu disebut al-Hilmu. Orang Jawa menyebutnya “Aris”. Ini pantulan karakter mulia. Rasulullah dan para manusia mulia lain punya karakter ini. Orang yang punya sifat al-Hilmu biasanya dipercayai masarakat selaku al-mushlih, rekonsiliator, juru damai.
Karena dia dapat menyaksikan permasalahan dengan obyektif, jernih, dan solutif, bukan problematik.

Mereka dimusuhi provokator dan tukang jualan konflik. Lho, memangnya ada pebisnis konflik? Gamblang ada. Ini bisnis purba. Mereka ialah para pecandu pertengkaran yang punya insting lalat, berkerumun menikmati cedera dan nanah. Mereka inilah para penghasut permusuhan yang lekas beringsut menyingkir di pinggir gelanggang manakala korban hasutannya mulai bersiap adu pukul.

Saya percaya, jika kita tidak dapat menuntaskan problem, potensi kitalah yang bermasalah, atau kita malah jadi bagian dari problem itu sendiri.

Wallahu A’lam Bisshawab

Dishare dari Gus Rijal Mumazziq

Anjing Masuk Masjid dan Kaum yang Suka Memanas-manasi Kondisi

Anjing Masuk Masjid dan Kaum yang Suka Memanas-manasi Kondisi by A. Zain

You might like

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *