Beda Muka Nasib Syiah: Catatan Singkat dari 4 Wilayah Jawa Tengah
Beda Muka Nasib Syiah: Catatan Singkat dari 4 Wilayah Jawa Tengah

Beda Muka Nasib Syiah: Catatan Singkat dari 4 Wilayah Jawa Tengah

Diposting pada
Views: 25
Read Time:4 Minute, 33 Second

Beda Muka Nasib Syiah: Catatan Singkat dari 4 Wilayah Jawa Tengah

Ilustrasi


Perkara persekusi kepada ummat Syiah di Surakarta Sabtu (9/8/2020) memantik pertanyaan penting soal eksistensi dan dinamika kubu ini di Jawa Tengah. Di tiap-tiap kabupaten/kota, setidaknya yang saya ketahui, ada ummat Syiah dalam hitungan total serta afiliasi keorganisasian yang bervariasi. Pertanyaannya, mengapa ada aksi anarkis di Surakarta tapi kejadian serupa tidak ada di Jepara? Ummat Syiah di Kota Semarang juga telah selangkah lagi jadi korban persekusi, tapi tidak berujung pada penganiayaan. Apa yang membedakannya dengan situasi di Surakarta?

Semenjak terlibat percakapan serta penelaahan kepada ummat Syiah di Jawa Tengah, situasi yang dijumpai di lapangan sungguh tidak seragam. Faktornya bermacam ragam. Baik itu yang berporos dari internal mereka maupun faktor dari luar; negara, warga lain dan seterusnya.

2 kota yang seringkali disebut selaku poros Kemajuan Syiah di Jawa Tengah ialah Pekalongan dan Jepara.

Ustadz Abdul Ghadir Bafaqih ialah nama penting dalam Kemajuan Syiah di Jepara. Waktu Revolusi Iran (1977-1979) berlangsung, di Jepara belum muncul Syiah. Baru sesudah itu, Ustadz Abdul Ghadir memperoleh banyak buku kiriman dari Kuwait terbitan Darut Tauhid.

Dengan bekal buku-buku tersebut, lantas Abdul Ghadir banyak mengkaji dan bicara soal Syiah sampai wafatnya pada 17 Agustus 1993. Jepara ialah wilayah dengan populasi Syiah yang cukup besar. Setidaknya sampai tahun 2006, ada kisaran 500 kepala Famili penganut Syiah di Jepara.

READ  Peduli Corona, Fatayat NU Serahkan APD ke Puskesmas di Sumenep

Dengan populasi yang cukup besar tersebut, perkumpulan Syiah di Jepara sampai sekarang tidak pernah mengalami tindakan persekusi, diskriminasi apalagi aksi anarkis fisik. Kesanggupan untuk masuk dalam struktur warga yang lebih besar ialah bagian argumentasi mengapa harmoni itu tetap terjaga. Faktor sejarah tentu tidak dapat dinafikan. Mereka yang pernah mengkaji ilmu ke Bafaqih, selain dari kalangan Syiah sendiri, juga ada yang berlatar Sunni.

Di Pekalongan, peran Ustadz Ahmad Baraghbah tidak dapat dinafikan. Ustadz Baraghbah pernah belajar di Qum Iran selama 5 tahun lebih, selepas belajar di Universitas Gajah Mada Yogyakarta jurusan Bahasa Arab. Ia lantas mendirikan Pondok Pesantren Al-Hadi pada tanggal 4 Juli 1989 dan berkiblat ke Iran yang berfaham Syiah. Baraghbah merasa prihatin dengan keadaan ummat Islam yang ia ibaratkan pohon yang rimbun dan berbuah serta mempunyai akar yang kuat tetapi tidak pernah merasakan rindangnya pohon dan lezatnya buah (Balitbang, 2008: 19-20).

Back-ground lain ialah untuk memberikan pemahaman ke ummat Islam kepada persepsi yang salah atau salah kepada faham Syiah sekaligus mengembangkan faham Syiah. Di luar 2 argumentasi itu, kehadiran pesantren Al-Hadi juga didorong oleh perhatian Baraghbah secara pribadi kepada kaderisasi bagi kalangan internal Syiah.

Beda dengan Jepara, ummat Syiah disana pernah mengalami memori aksi anarkis; tahun 1992 dan 2000. Tahun 1992, mereka yang menamakan diri perwakilan umt Islam mengeluarkan resolusi untuk Tidak mau kehadiran Pesantren Al-Hadi di Pekalongan. Saat tahun 2000 ummat Syiah membangun pesantren di Wonotunggal, Batang (timur Pekalongan), masa membakarnya. Itu jadi pengalaman terburuk tetapi juga sekaligus yang terakhir. sesudah itu, tidak ada lagi. Bahkan, Pesantren Al Hadi berdiri megah di Comal, Kabupaten Pemalang (barat Pekalongan) semenjak tahun 2010-2011.

READ  Kerancuan Nalar Radikal | The Truly Islam

Kota Semarang ialah Perkara yang sedikit unik dalam konteks dinamika ummat Syiah. Sorotan media mulai mengarah ke kota ini semenjak tahun 2002-2003 sebab warning Asyuro dihelat dengan pelibatan massa yang banyak dari semua kota di Jawa Tengah (rata-rata 3000-5000 peserta). Mereka menghelat perayaan ini secara berpindah-pindah. Pada 6 Desember 2011 mereka melaksanakannya di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Keadaan ”non-taqiyyah” ini ternyata memantik kubu takfiri. Usaha untuk menggagalkan aktifitas Asyuro diawali semenjak tahun 2015. Setahun seterusnya, dengan konsolidasi yang lebih masif, mereka sukses memaksa pelaksana aktifitas, Yayasan Nurut Tsaqolain untuk melakukan Asyuro di masjid milik bagian yayasan Syiah tersebut. Usaha tersebut kembali diulangi pada 2017 sekaligus jadi penolakan yang terakhir. Menariknya, meski tuntutan yang diusulkan ialah pembubaran aktifitas Asyuro, tetapi aktifitas tersebut tetap dapat dikerjakan dengan pengamanan yang cukup ketat.

Kejadian di Surakarta memanggungkan langgam yang sungguh lain, sekaligus menakutkan; penganiayaan secara fisik. Tindakan destruktif yang dikerjakan (dalam bentuk perusakan bangunan), sejauh ini, terjadi di Batang pada tahun 2000. Sisanya, tindakan untuk melarang Kemajuan Syiah ditunjukkan dalam penolakan aktifitas atau membangun opini Soal kesesatan mereka di pelbagai media.

Pergerakan kalangan Anti Syiah di Surakarta sejatinya amat mudah terdeteksi. Seperti yang sudah saya urai di tulisan sebelumnya di website ini, kalangan ini sudah dengan terbuka mengumumkan keberatan kepada apapun yang berbau Syiah pada tahun 2014, 2017 dan 2018. Bahkan mungkin jauh sebelumnya. Penolakan kepada warning Asyuro di Surakarta dikerjakan pada 2018, memaksa ummat Syiah tidak melaksanakannya pada 2019.

READ  Kalau Haji 2020 Batal, Bagaimana dengan Setoran Lunas jema'ah?

Yang terjadi di Surakarta baru-baru ini ialah anomali, situasi dimana pola tindakannya, tak sama dengan apa yang pernah terjadi di Semarang misalnya. Keberhasilan membangun opini soal ”kesesatan” Syiah dilanjutkan dengan kesanggupan memobilisasi masa yang jadi jembatan penghubung organ-organ didalamnya. Ditambah dengan menggunakan celah pengamanan yang sedikit menganga, aksi anarkis fisik jadi tidak terhindarkan. Di level permukaan, itulah yang terjadi.

Power warga sipil yang pro keragaman memperoleh ujian besar pada kasus-kasus seperti ini. Sembari menuntut negara datang untuk menghormati, memenuhi dan menjaga hak masyarakat negaranya, jemalin antara mereka yang mempunyai tekad bulat kepada kebinekaan jadi penting.

Tedi Kholiludin

Sumber: https://elsaonline.com/beda-wajah-nasib-syiah-catatan-singkat-dari-empat-wilayah-jawa-tengah/

(Suara Islam)


Beda Muka Nasib Syiah: Catatan Singkat dari 4 Wilayah Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *