Perkara Vaksin, Mari Belajar 3 Teori Fiqh: Istihalah, Istihlak dan Darurat
Perkara Vaksin, Mari Belajar 3 Teori Fiqh: Istihalah, Istihlak dan Darurat

Benarkah Ada Yahudi dan Nasrani dalam Ayat Terakhir Al-Fatihah?

Diposting pada 25 views

Benarkah Ada Yahudi dan Nasrani dalam Ayat Terakhir Al-Fatihah?

Penjelasan di bawah ini punya tujuan untuk menjawab pertanyaan: benarkah yang dimaksud dengan “ghairil maghdhubi ‘alayhim“ itu Yahudi dan “wa ladh dhallin” itu Nasrani?

Al-Fatihah ayat 7

 

‎ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

 

(yaitu) jalan orang-orang yang sudah Engkau anugerahkan nikmat ke mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.

Umumnya para ahli tafsir menjawab iya.

Tafsir al-Mawardi menjelaskan ini pandangan kebanyakan ulama tafsir.

 

وأما قوله: { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ } فقد روى عن عديِّ بن حاتم قال: سألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن المغضوب عليهم، فقال: ” هُمُ اليَهُود ” وعن الضالين فقال: ” هُمُ النَّصارى “. وهو قول جميع المفسرين.

 

Bahkan Ibn Katsir mengutip Ibnu Abu Hatim yang menjelaskan bahwa dia belum pernah mengetahui di kalangan ulama tafsir ada perselisihan pandangan Soal makna ayat ini.

Tetapi pelacakan saya memperlihatkan ada sejumlah mufassir yang punya tafsiran tak sama. Mari kita selami lautan tafsir para ulama soal ini.

Ke-1, para mufassir mencoba menerangkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “dimurkai” dan “sesat”. Ibn Tafsir dan lainnya menjelaskan Orang-orang yang dimurkai ialah mereka yang sudah rusak sebab mereka sejatinya mengetahui perkara yang haq, tetapi melenceng darinya. Sementara mereka yang sesat ialah orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan, tanpa memperoleh hidayah ke jalan yang haq (benar).

Kemudian timbul pertanyaan, siapakah contoh ke-2 golongan ini? Ibn Hajar dalam Fathul Bari menerangkan riwayat yang berisi respon Nabi Muhammad Saw.

 

‎ذكرها أبو عبيد وسعيد بن منصور بإسناد صحيح ، وهي للتأكيد أيضا وروى أحمد وابن حبان من حديث عدي بن حاتم أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : المغضوب عليهم اليهود ، ولا الضالين النصارى هكذا أورده مختصرا ، وهو عند الترمذي في حديث طويل . وأخرجه ابن مردويه بإسناد حسن عن أبي ذر ، وأخرجه أحمد من طريق عبد الله بن شقيق أنه أخبره من سمع النبي – صلى الله عليه وسلم – نحوه ،

 

READ
Peletakan Batu Ke-1, Gedung Baru SDNU Yogyakarta Siap Dibangun

Ada riwayat yang tak sama tetapi secara umum, menurut Ibn Hajar, respon Nabi bahwa yang dimurkai itu adakah Yahudi dan yang sesat itu ialah Nasrani. Riwayatnya sahih dan ada pula yang hasan.

Bahkan banyak ulama tafsir, seperti Zamakhsyari dalam al-Kasyaf, menyebutkan rujukan lain dalam al-Qur’an untuk menguatkan pandangan ini, yaitu al-Maidah:60 dan al-Maidah:77. Itulah sebabnya kebanyakan ulama tafsir ikut pandangan ini.

Tetapi sebagian ahli tafsir mempunyai pandangan lain.

Tafsir al-Maturidi menganggap “yang dimurkai” dan “yang sesat” itu 1 golongan. Bukan 2 golongan yang tak sama. Sebab sesat itu pasti dimurkai, dan orang yang dimurkai Allah, pasti Ada di jalan kesesatan. Cuma saja tatkala menyebutkan contohnya, kitab tafsir al-Maturidi mengutip pandangan yang bilang bahwa maksudnya itu Yahudi. Dia tidak menyebut Nasrani.

Saya sodorkan Tafsir al-Qurthubi yang merecord pandangan yang tak sama:

 

‎وقيل:” المغضوب عليهم” المشركون. و” الضالين” المنافقون. وقيل:” المغضوب عليهم” هو من أسقط فرض هذه السورة في الصلاة، و” الضالين” عن بركة قراءتها. حكاه السلمي في حقائقه والماوردي في تفسيره، وليس بشيء. قال الماوردي: وهذا وجه مردود، لأن ما تعارضت فيه الأخبار وتقابلت فيه الآثار وانتشر فيه الخلاف، لم يجز أن يطلق عليه هذا الحكم. وقيل:” المغضوب عليهم” باتباع البدع، و” الضالين” عن سنن الهدى. قلت: وهذا حسن، وتفسير النبي صلى الله عليه وسلم أولى وأعلى وأحسن

 

Ada yang berpendapat bahwa “yang dimurkai” itu ialah orang-orang Musyrik. Dan “yang sesat” itu ialah orang Munafik. Tetapi Imam Mawardi dalam kitab tafsirnya membantah pandangan ini dan menjelaskan pandangan ini tertolak. Ada juga yang berpendapat bahwa “yang dimurkai” itu mereka yang ikut perbuatan bid’ah. Dan yang “sesat” itu yang melenceng dari petunjukNya. Imam Qurthubi menyimpulkan bahwa pandangan ini baik-baik saja, tapi tafsir dari Nabi itu yang lebih Inti dan lebih baik.

Dialog lain Ada dalam Tafsir ar-Razi:

 

‎الْفَائِدَةُ الْأُولَى: الْمَشْهُورُ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ} [الْمَائِدَةِ: 60]، {وَالضَّالِّينَ}: هُمُ النَّصَارَى، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ} [الْمَائِدَةِ: 77] وَقِيلَ: هَذَا ضَعِيفٌ، لِأَنَّ مُنْكِرِي الصَّانِعِ وَالْمُشْرِكِينَ أَخْبَثُ دِينًا مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، فَكَانَ الِاحْتِرَازُ عَنْ دِينِهِمْ أَوْلَى، بَلِ الْأَوْلَى أَنْ يُحْمَلَ الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ عَلَى كُلِّ مَنْ أَخْطَأَ فِي الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَهُمُ الْفُسَّاقُ، وَيُحْمَلُ الضَّالُّونَ عَلَى كُلِّ مَنْ أَخْطَأَ فِي الِاعْتِقَادِ لِأَنَّ اللَّفْظَ عَامٌّ وَالتَّقْيِيدُ خِلَافُ الْأَصْلِ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ هُمُ الْكُفَّارُ، وَالضَّالُّونَ هُمُ الْمُنَافِقُونَ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ تَعَالَى بَدَأَ بِذِكْرِ الْمُؤْمِنِينَ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِمْ فِي خَمْسِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْبَقَرَةِ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِذِكْرِ الْكُفَّارِ وَهُوَ قَوْلُهُ: {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا} [الْبَقَرَةِ: 6] ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِذِكْرِ الْمُنَافِقِينَ وَهُوَ قَوْلُهُ: {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا} [الْبَقَرَةِ: 8] فَكَذَا هاهُنا بَدَأَ بِذِكْرِ الْمُؤْمِنِينَ، وَهُوَ قَوْلُهُ: {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ}، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِذِكْرِ الْكُفَّارِ، وَهُوَ قَوْلُهُ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ}، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِذِكْرِ الْمُنَافِقِينَ، وَهُوَ قَوْلُهُ: {وَلَا الضَّالِّينَ}.

 

READ
Ini Rumah KH Hasyim Asy’ari di Kediri

Pandangan yang masyhur bahwa “yang dimurkai” itu Yahudi dan “yang sesat” itu Nasrani, dikayatan selaku dha’if (lemah). Sebab penyembah berhala dan orang Musrik itu lebih jelek lagi dibandingkan Yahudi dan Nasrani, sehingga menghindari jalan mereka itu lebih berharga untuk disebutkan. Lebih baik kita menafsirkan “yang dimurkai” itu selaku mereka yang bersalah perbuatan seperti orang Fasiq, dan “yang sesat” itu mereka yang bersalah dalam keyakinan. Ini sebab redaksinya bersifat umum, dan membatasinya jadi salah.

Imam ar-Razi juga menyebutkan bahwa ada kemungkinan yang dimaksud dengan “yang dimurkai” itu ialah orang Kafir. Dan mereka “yang sesat” itu ialah orang Munafik. Dalilnya ialah, dalam lanjutan surat al-Fatihah, yaitu 5 ayat ke-1 dalam surat al-Baqarah, memuji orang yang beriman, kemudian  mengkritik keras orang Kafir (ayat 6) dan membicarakan soal orang Munafik (ayat 😎.

Nah, menarik bukan?

Imam al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma’ani mengkritik penafsiran Imam ar-Razi di atas. Bagi beliau, sebagaimana juga Imam Qurthubi yang telah dilansir di atas, lebih baik ikut riwayat Hadis yang menerangkan respon Nabi Muhammad.

Ibn Asyur dalam kitab tafsirnya at-Tahrir wal Tanwir mencoba menjembatani dialog ini. Bagi beliau, respon Nabi Muhammad itu ialah contoh berdasar perkumpulan yang dikenal oleh orang Arab pada waktu turunnya wahyu. Pada waktu itu diketahui bahwa ke-2 perkumpulan tersebut (Yahudi dan Nasrani) Adalah contoh paling jelek untuk dimasukkan dalam keumuman ayat ketujuh surat al-Fatihah ini. Artinya, jikalau kita ikuti alur argumentasi ini, bukan artinya contohnya wajib mereka, atau dibatasi oleh mereka semata.

READ
IMF Menyebut Pandemi Corona Telah Jadi Krisis Ekonomi dan Keuangan Global

Itu sebabnya Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar dan juga Syekh Wahbah az-Zuhayli dalam Tafsir al-Munir memilih untuk mengembalikan ke makna umum. Ringkasnya, mereka “yang dimurkai” itu ialah mereka yang Tidak mau kebenaran agama Allah, dan melaksanakan perusakan di muka bumi, sementara “yang sesat” itu ialah mereka yang sama sekali tidak mengenal kebenaran atau tidak mengenal kebenaran melalui jalan yang sahih, atau mengurangi dan memodifikasi petunjuk.

Contohnya? menurut penjelasan sejumlah kitab tafsir di atas, jawabannya dapat Yahudi dan Nasrani; Penyembah Berhala dan Kaum Musyrik; atau orang Fasik dan pelaku Bid’ah, dapat juga orang Kafir dan kaum Munafik.

Semoga kita dihindarkan dari jalan mereka, dan kita memperoleh petunjuk untuk ikut jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang diberi anugerah kenikmatan oleh Allah Swt. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

 

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama

Australia – New Zealand dan Guru besar Senior Monash Law School


Benarkah Ada Yahudi dan Nasrani dalam Ayat Terakhir Al-Fatihah?

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *