Berkah Pesantren Dibalik Cerita Berhasil Santri Sukorejo Merintis Pabrik Kopi

Berkah Pesantren Dibalik Cerita Berhasil Santri Sukorejo Merintis Pabrik Kopi
Page Visited: 18
Read Time:3 Minute, 11 Second

Berkah Pesantren Dibalik Cerita Berhasil Santri Sukorejo Merintis Pabrik Kopi

Jember, Warta Batavia

Pesantren bukan semata-mata mengajarkan ilmu tapi juga menebar  berkah. Banyak alumnus pesantren yang sejatinya biasa-biasa saja waktu di pondok, tapi saat pulang kampung dan berkecimpung di tengah-tengah warga, mereka berhasil  jadi ‘orang’. Bahkan bidang kesuksesan itu terkadang  jauh dari  ‘jurusan’ ilmu yang dipelajari  di pondok.


Itulah yang  dinikmati oleh alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Imam Bukhari. Laki-laki yang tinggal di Dusun Sumbercanting, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, Jember, Jawa Timur itu mengklaim tidak sengaja mendirikan pabrik kopi.


Ustadz Bukhari mengisahkan,  3 tahun yang lalu, dirinya  memperoleh  titipan kopi luwak beberapa kilogram dari salah seorang wali muridnya, untuk dijual. Kopi luwak sungguh terkenal enak tapi harganya selangit sehingga peminatnya juga terbatas. Untuk menawarkan kopi luwak itu, ia menggunakan media sosial facebook untuk promosi.


“Alhamdulillah, promosi  saya di facebook dibaca oleh Nyai Hj. Isa’iyah, putri KH As’ad Syamsul Arifin, guru saya. Dan beliau langsung menyampaikan messenger ke saya untuk berbelanja kopi luwak itu,” kenangnya waktu memberi pemaparan kepada santriwati di Sekretariat Kampung  SDGs, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari,  Jember, Ahad (5/7).   

BACA JUGA :   Masarakat Diminta Terima Pemakaman mayat Covid-19 dengan Hormat


Keberhasilan menjual kopi luwak tersebut menginspirasi Ustadz Bukhari untuk menekuni binis kopi bubuk. Sekian waktu lalu, lagi seorang petani kopi  menitipkan 2 ton kopi untuk  dijual. Sebab jumlahnya banyak, agar lebih legal dalam menjual kopi, maka dibuatlah nama kopi BIKLA. BIKLA Adalah  akronim dari Barokah Ibrahimy Kopi Lereng Argopuro. Sebuah nama yang mengisyaratkan keterkaitan dengan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Raden Ibrahim ialah nama asli KH Syamsul Arifin, pendiri pesantren tersebut sekaligus ayahanda KH As’ad Syamsul Arifin.


Namun ujian Hadir merajam. Akhir  ‘perjalanan’ kopi 2 ton titipan orang  yang telah  di-merk BIKLA itu cukup mengecewakan. Kopi ludes, uang juga tumpas.


“Mungkin sebab manajemen pemasarannya asal-asalan,” terang Ustadz Bukhari.


Tapi kegagalan itu tidak membuatnya putus asa. Ia kembali bangkit, tapi tentu kegagalan yang sudah dirasakannya, jadi rambu agar tidak terperosok ke dalam lubang yang sama  2 kali. Maka Ustadz Bukhari pun ‘berjualan’ kopi lagi dengan lebih hati-hati. Segala perijinan yang terkait dengan produk juga diurus, termasuk pendirian perusahaan selaku syarat  memproduksi kopi bubuk. Namanya CV Sinta Makmur Jaya.

BACA JUGA :   Perkuat Pertanian, NU Subang Kembangkan Tanaman Hidroponik 


Pelan tapi pasti. Kopi BIKLA terus merangkak naik perekembangannya. walaupun masih termasuk pabrik kecil, tapi jangkauan pemasarannya telah cukup luas. Market  yang dibangun masih lebih mengandalkan  jaringan media sosial, sehingga tidak heran  peminatnya banyak dari luar Jember sampai luar Jawa.


“Alhamdulillah, ada pemesan rutin. Saban hari  konsumen  butuh 6 ribu pcs atau 1 ton. Namun kami cuma dapat memenuhi 3 ribu pcs sebab kemampuan normal mesin sangrai cuma  3 ribu psc perhari. Alhamdulilah, Corona tidak begitu berpengaruh kepada penjualan” terang Ustadz Bukhari.


Walaupun seperti ini, kesuksesan Ustadz Bukhari bukan sesuatu yang Mendadak.  Ia termasuk sosok yang ulet dan sabar dalam menekuni bisnis kopi bubuk. Konsumen pesan (kopi)  sediktipun tetap ia layani. Prinsipnya, jangan menginginkan yang besar dulu, sebab yang besar asalnya juga kecil.


“Sedikit tetap wajib kita layani, yang penting tidak rugi, kami pakai ekspedisi (pengirimannya),” terangnya.


Waktu ini, Ustadz Bukhari tengah membangun gedung baru untuk ruang produksi dengan mendatangkan mesin sangrai yang berkapasitas lebih besar.   

BACA JUGA :   MUI Imbau Warga Tidak Saling Mengunjungi Waktu Idul Fitri


Ustadz  Bukhari mengakui bahwa apa yang dirinya capai waktu ini tidak lepas dari doa/barokah guru dan Pesantren Sukorejo –sebutan lain untuk Pesantren Salafiyah Syafi’iyah– yang disinggahi dulu. Dikatakannya, menekuni bisnis kopi Adalah implementasi  dari bagian wasiat Kyai As’ad Syamsul Arifin.


“Wasiat beliau ada 3, salah satunya  ialah santri wajib berjuang untuk membantu  pendidikan warga. Apa yang saya lakukan ini juga untuk membantu  pendidikan. Karena,  sebagian keuntungannya untuk membiayai pendidikan di lembaga saya,” pungkasnya.


Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

Berkah Pesantren Dibalik Cerita Berhasil Santri Sukorejo Merintis Pabrik Kopi
Sumber: NU-Online

loading...

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *