gus dur 1 1
Gus Dur 1 1

Bersumber dari Pendangkalan

Diposting pada 23 views

Oleh : KH. Abdurrahman Wahid

Pada Sebuah dialog beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr.Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata bang Yusril, ia kecewa dengan penulis sebab bergaul berlebihan erat dengan ummat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran mengumumkan bagian tanda-tanda seorang muslim yang baik ialah “bersikap keras kepada orang kafir dan bersikap halus kepada sesama muslim (Asyidda a’la al-kuffar ruhama baynahum). Merespon hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Sebab ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata “kafir” atau “kuffar” ialah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Jikalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia punya nyali jadi mubaligh?

Berdasar keadaan sebenarnya itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya aksi anarkis di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, sebab itu artinya tindakan mematikan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak artinya penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Sebab dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak aksi anarkis dan diskrimanatif. 1-satunya pembenaran bagi tindakan aksi anarkis secara individual ialah, kalau kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Sebab itulah, waktu mesti meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, sebab ada perintah lain dalam Sunni tradisional yang dipercayai penulis, untuk patuh pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, “taatlah Anda semua pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan” (Athi u’ allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis selaku masyarakat negara dan rakyat biasa –sebab lengser dari jabatan kepresidenan- ikut perintah tersebut. Masalah bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, sebab penulis mengaggap tidak patut jabatan setinggi apapun di negeri ini, di pertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, telah ada pernyataan yang diteken 300.000 orang akan menyokong penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, jikalau Penting mengorbankan nyawa.

Tindak aksi anarkis –walaupun atas nama agama- dinyatakan oleh siapapun dan dimanapun selaku terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat selaku Presiden, penulis merencanakan mengunjungi ke Israel untuk ikut hadir perjumpaan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan berbarengan, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, Ada pernyataan penulis dan Rabai yang mengumumkan “berdasar keyakinan agama Islam dan Yahudi, Tidak mau pemanfaatan aksi anarkis yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudz untuk meneliti rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudz meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah jadi “tidak bersalah”.

ARTIKEL LAINNYA :
Doa Ibu Itu di atas Doa Ulama dan Wali

Kenapa seperti ini? Sebab, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak ialah Allah SWT. Adapun salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, artinya oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan Pergantian rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Waktu tiba di Tel Aviv, penulis berbarengan Rabi Eli langsung ke kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menyepakati pernyataan berbarengan itu di depan publik dan media massa. Ini mempertunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama selaku organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistik selaku organisasi Islam terbesar di dunia- Tidak mau terorisme dan pengunaan aksi anarkis atas nama agama sekalipun. Sebab itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya selaku “tindak kejahatan/ kriminal” yang mesti diganjar.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pandangan agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Kenapa seperti ini? Sebab Islam ialah agama hukum, karenanya setipa sengketa semestinya diselesaikan berdasar hukum. Dan sebab hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita layak menyimak pandangan eks ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurut dia, “hukum barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, kalau mempunyai maksud yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hukum pidana barat, sebab sama berfungsi dan punya tujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

Tapi, mengapa terorisme dan tindak aksi anarkis yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Jikalau sungguh benar kaum muslimin melaksanakan tindakan-tindakan tersebut, terang bahwa mereka sudah menabrak ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak respon, di antaranya rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak aksi anarkis dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan ke aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang jadi elite politik nasional. Mereka senantiasa mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun warga Islam yang elitis.

ARTIKEL LAINNYA :
Apakah Santri Wajib Mondok? Monggo Renungkan Jawabannya

Apa pun bentuk dan karena tindak aksi anarkis dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini ialah keadaan sebenarnya yang tidak dapat disanggah, termasuk oleh para pelaku aksi anarkis dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang sudah dicegah Islam itu –sesuai dengan ajaran kitab suci Al-Qur’an dan ajaran nabi Muhammad SAW- ialah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung amat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini kepada kaum muslim, tidak artinya proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak aksi anarkis dan terorisme.

Wajib kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak mempergunakan aksi anarkis dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat menggelar koreksi kepada langkah-langkah yang salah, atau mencari “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan menggelar penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melaksanakan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Gamblang, dengan seperti ini Islam ialah “agama kedamaian” bukannya “agama aksi anarkis”. Proses sejarah Islam di wilayah ini, ialah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak aksi anarkis -atas nama Islam- yang tidak diinginkan. Mudah dalam prinsip, akan tetapi sulit dalam penyelenggaraan bukan?

 

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Duta Masarakat, 31 Desember 2002.

Bersumber dari Pendangkalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *