Bolehkah Perempuan Haid Berpuasa? | The Truly Islam

96838852 saudiwoman1 Bolehkah Perempuan Haid Berpuasa? | The Truly Islam
Ilustrasi, wanita di Arab Saudi telah mengkritik seorang ulama dengan menyarankan agar mereka tidak mengizinkan mereka memakai abaya dan riasan warna-warni. (GCSHUTTER)


Saya bangga dengan wanita yang bertanya hampir setiap Ramadhan, apakah wanita yang sedang haid bisa berpuasa? Sebab ketika banyak orang yang tidak berpuasa tanpa alasan, wanita yang sedang menstruasi dengan beban reproduksi tetap ingin berpuasa. Dari aspek ini sungguh luar biasa.

Dua tahun sebelumnya saya menulis “bahwa wanita yang sedang haid bisa berpuasa”. Namun, banyak tulisan yang ditolak. Pendapat saya saat itu didasarkan pada tiga alasan:
Pertama: Tidak ada satupun ayat dalam Al Qur’an yang melarang wanita yang sedang menstruasi untuk berpuasa.

Ayat yang menjelaskan tentang menstruasi hanya menegaskan dua hal, yaitu; pertama, bahwa berhubungan seks dengan penetrasi (jima ‘) adalah haram dan bahwa wanita yang sedang haid berada dalam keadaan najis. Kondisi najis hanya menghalangi ibadah yang membutuhkan hal-hal suci, seperti sholat dan sejenisnya. Meskipun puasa tidak perlu untuk menjadi suci, penting untuk “bisa” melakukannya.

Kedua, wanita yang sedang haid lebih seperti orang sakit (Alquran menyebutnya adza). Seperti penjelasan Alquran bahwa orang sakit dan yang dalam perjalanan mendapat dispensasi (rukhshah) antara puasa atau meninggalkan dengan mengubahnya ke hari lain. Jadi wanita yang sedang haid pun harus mendapatkan “rukhshah” antara berpuasa dan tidak. Jika seorang wanita memilih untuk melakukan ini karena menstruasi tidak mengganggu kesehatannya, maka tidak apa-apa.

Ketiga, hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ummahatul mukminin Sayyidah A’isyah Ra, dan riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi hanya melarang sholat bagi wanita yang sedang haid dan tidak melarang puasa.

Memang ada hadits Nabi yang sekilas melarang wanita yang sedang haid untuk berpuasa, namun hadits ini juga bisa dipahami berbeda. Hadis itu berbunyi:

BACA JUGA :
Tarik Paksa Masker Jemaah, Nawir Jadi Duta Masker, Begini Sindiran Pedas Warganet

حديث معاذة: “إنها سألت عائشة رضى الله عنها: ما بال الحائض تقضى الص rum ولا تقضى الصلاة فقالت: كان يصيبنا ذلك مع رسول الله صلى الله سله وسلم فنؤمر بقضاء الص rum ولا نؤمر بحقضاء الصلاة” رواحة.

Mu’adzah bertanya pada Sayyidah A’isyah, bagaimana dengan kondisi wanita Haidh, kenapa dia berpuasa tapi tidak shalat? Sayyidah A’isyah menjawab, itu terjadi pada kami di zaman Nabi, jadi kami (wanita) disuruh berpuasa, dan bukan diperintahkan untuk sholat. ”

Kata “تقضي” dalam hadits secara umum diartikan sebagai “menggantikan waktu”. Tapi sebenarnya itu mungkin berarti “berjalan tepat waktu”. Karena kata “قضي” dalam Alquran pada umumnya berarti melakukan pada waktunya.

Sebagai ayat “فإذا قضیتم منسككم فٱذكروا ٱلله” serta ayat-ayat “فإذا قضیتم ٱلصلوة فٱذكروا ٱلله قࣰنتم ٱلصلوة فٱذكروا ٱلله قࣰعا ودوى ودوا ودوا ودوا ودوا ودوا ودوا ودوى Kata” قضي “dalam dua ayat ini berarti” melakukan ibadah sesuai dengan waktu yang ditentukan “, bukan arti mengqadha ‘dalam arti substitusi.

Kata “قضي” dengan arti pengganti hampir tidak dikenal pada awal sejarah Islam. Kata “قضي” yang berarti menggantikannya dikenal dalam fuqaha ‘mushtalahat.

Apapun tafsir ayat dan hadits Nabi tentang haid dan puasa wanita itu bersifat ijtihadi, oleh karena itu kebenaran dalam hal ini juga bersifat ijtihadi.

Artikel ini bukan fatwa, saya ingin kebenarannya dan tentu saja sangat berterima kasih atas kritiknya.

Sumber: KH Imam Nakha’i

(Warta Batavia)


Bolehkah Perempuan Haid Berpuasa? | The Truly Islam

BACA JUGA :
HH: Antara Hana Hanifa dan Haikal Hassan Mana yang Lebih Hina?

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *