Cerita KH Saifuddin Zuhri waktu Dengar KH Wahid Hasyim Wafat

1587803045

Cerita KH Saifuddin Zuhri waktu Dengar KH Wahid Hasyim Wafat

KH Saifuddin Zuhri mengenal dengan baik KH Wahid Hasyim. Kecuali berjuang bareng dalam melawan penjajah dan pemberontak dalam negeri, interaksi keduanya juga dalam urusan internal organisasi Nahdlatul Ulama yang waktu itu terus berjibaku melawan kolonialisme.

Saking dekatnya hubungan persahabatan ke-2 ulama tersebut, KH Wahid Hasyim kerap memanggil KH Saifuddin Zuhri dalam pertemuan-pertemuan penting di tengah penjajahan. Bahkan, KH Saifuddin Zuhri juga tidak jarang meneruskan surat-surat perjuangan KH Wahid Hasyim ke tengah-tengah masarakat.

Kedekatannya dengan KH Wahid Hasyim, bahkan beliau telah dinilai gurunya sendiri oleh KH Saifuddin Zuhri membikin dirinya terpukul tatkala menguping Kyai Wahid wafat sebab kecelakaan dalam perjalanannya ke Jawa Barat, di sekitaran Bandung.

Waktu itu pada Ahad, 19 April 1953 Kyai Saifuddin Zuhri mempunyai firasat yang tidak enak. Berangkat dari perasaan tersebut membawa Kyai Saifuddin berangkat ke Jakarta dengan mempergunakan kereta cepat. Sejauh perasaan tidak enak terus menggelayuti Kyai Saifuddin Zuhri.

sesudah beberapa jam perjalanan, kereta yang ditumpangi KH Saifuddin Zuhri tiba di Stasiun Cirebon. Stasiun yang cukup legendaris bagi dia ini biasanya berhenti agak lama sehingga membuatnya terlebih dahulu untuk sholat jama’ dan menikmati makanan khas di beberap warung.

Tapi, perasaan yang terus tidak menentu tersebut membikin Kyai Saifuddin Zuhri cuma memilih untuk menyeruput secangkir kopi panas. Di tengah tengah asik ngopi, seketika masuklah seorang pemuda. Ia menepuk punggung Kyai Saifuddin Zuhri seraya menaruh ranselnya di kursi sebelahnya.

Pemuda tersebut langsung saja menegur Kyai Saifuddin yang sekilas sungguh pernah melihatnya. Konon pemuda tersbut Adalah seorang awak media. Namun Kyai Saifuddin tidak mengetahui dari koran apa.

BACA JUGA :   Innalillah! Rizieq Ajukan Penangguhan Penahanan, Tapi Tak Ada Tokoh Jadi Penjamin

Kyai Saifuddin bercerita bahwa ia hendak ke Jakarta. Lalu diberitahu sang pemuda, apakah dia belum mengetahui berita mengenai hal KH Wahid Hasyim. Cepat perasaan tidak enak Kyai Saifuddin kembali menggelayut.

“Tadi pagi kisaran jam 10.30 KH Wahid Hasyim meninggal dunia di dekat Bandung dalam suatu kecelakaan mobil,” kata sang awak media yang mengetahui berita tersebut melalui siaran radio. (Baca Berangkat dari Pesantren, 1987: 408)

KH Saifuddin Zuhri tidak memerlukan info tambahan terkait berita karibanya itu. Ia langsung bergegas ke tempat angkutan yang dapat membawanya ke Bandung. sesudah berjibaku dengan angkutan umum yang kala itu masih amat jarang, ia tiba di Bandung.

sesudah melaksanakan kaitan dengan beberapa kawan dan tokoh-tokoh NU Bandung, ia sadar jenazah Kyai Wahid Hasyim telah dibawa ke Jakarta. Tidak banyak pikir, Kyai Saifuddin Zuhri ke Jakarta, tepatnya ke rumah duka di Jalan Taman Matraman No. 8 Jakarta.

Ia mendapati rumah duka yang telah sepi pada Senin, 20 April 1953, Kyai Saifuddin cuma dapat pasrah dan ikhlas melepas kepergian sahabat seperjuangan dan gurunya itu. Ia sempat membantu membereskan kursi-kursi bekas ribuan pentakziah. Kyai Wahid Hasyim dimakamkan di kompleks makan Pesantren Tebuireng di Jombang.

Diinformasikan bahwa KH Wahid Hasyim wafat pada usia 39 tahun sebab kecelakaan di daerah Cimahi waktu hendak ke Sumedang, Jawa Barat. Selama ini, cerita Kyai Wahid ke Sumedang hendak berkegiatan apa jadi misteri.

Menurut Sejarawan Sunda Iip D Yahya (2020), perjalanan Kyai Wahid waktu itu hendak ikut hadir aktifitas hari lahir Nahdlatul Ulama di Sumedang. Cerita ini Iip dapatkan dari Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumedang Idad Isti’dad.

BACA JUGA :   Jatuh Sakit Usai Jadi Tersangka, Yahya Waloni Dilarikan ke Rumah Sakit

Dulu ayah Idad Isti’dad, Kyai Ahmad Falah ialah sosok yang mengundang Kyai Wahid Hasyim ke Sumedang untuk Harlah NU yang agak terlambat sebetulnya sebab telah bulan April.

Waktu mengundang Kyai Wahid, Kyai Falah Hadir ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta. Ia bermalam selama 2 hari sebab menanti kehadiran Kyai Wahid yang waktu itu tengah melaksanakan perjalanan dinas ke Palembang, Sumatera Selatan.

Lalu, waktu menyaksikan Kyai Falah telah begitu kucel, Kyai Wahid mengajaknya ke rumah untuk mandi. Ayah Gus Dur itu juga memberikan baju untuk tamunya itu. Ada pertanyaan di benak Iip D Yahya bahwa di tengah kesibukannya, Kyai Wahid Hasyim masih menerima undangan Kyai Falah tersebut.

Ternyata menurut Iip, Kyai Falah Adalah saksi sejarah yang aktif selaku panitia dalam Muktamar NU di Bandung dan Menes. Kyai Falah Adalah panitia Muktamar tahun 1932 di Bandung tatkala itu dia Adalah santrinya Kyai Dimyati Sukamiskin. Lalu, dia juga jadi panitia tatkala dia mesantren tahun 1938 di Menes.

Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

Cerita KH Saifuddin Zuhri waktu Dengar KH Wahid Hasyim Wafat
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *