kiai jamal tambakberas
kiai jamal tambakberas

Cerita Kyai Jamal Tambakberas mengenai hal Kyai Mustajab Gedongsari

Diposting pada 35 views

Cerita Kyai Jamal Tambakberas mengenai hal Kyai Mustajab Gedongsari

Tadi siang, saya riyayan (lebaran) di ndalem Kyai Djamaluddin Achmad. Saya minta tashih cerita mengenai hal Kyai Mustajab bin Zarkasyi Gedongsari, Prambon, Nganjuk.

sebelum ini, cerita Kyai Mustajab saya dapatkan dari paklek, dan paklek dapat dari almarhum bapak saya yang juga santrinya Kyai Mustajab. Jalur Kyai Djamal ialah yang saya narasikan di bawah ini (kecuali jikalau saya tulis versi, artinya dari paklek), berikut kisahnya.

Kyai Mustajab berasal dari Padangan, Bojonegoro. Beliau mondok ke Kyai Sholeh Langitan. Waktu di Langitan, Kyai Mustajab dicegah ikut ngaji, cuma disuruh ngopeni sawah dan kudanya kyai.

Suatu waktu, kuda kyai lepas, maka Kyai Mustajab disuruh mencarinya. Sekian lama baru kembali ke pondok dengan kudanya. Waktu Kyai Mustajab ditanya Kyai Sholeh Langitan akan lamanya mencari kuda, jawab Kyai Mustajab bahwa kuda itu telah ditemukan dan cuma diikuti dari belakang saja. Tentu hal ini akan lama sebab sesuai dengan kemauan kudanya. Kata Kyai Djamal, “Inilah tawadlu’nya Kyai Mustajab kepada kuda milik kiainya.”

Suatu hari Kyai Mustajab diutus Kyai Sholeh Langitan untuk mengantarkan surat ke Kyai Sholeh Gondanglegi Prambon Nganjuk seraya diberi kuda. Berangkat dari Langitan subuh, dan sampai pondok al Mimbar Sambong Jombang waktu dhuhur dengan keadaan kuda berhenti (mungkin capek). Oleh Kyai di pondok Al Mimbar ditanya, “Kenapa kudanya tidak dinaiki?” Jawab Kyai Mustajab, “Kulo dibetani, mboten dikengken numpak” (saya cuma diserahi kuda, bukan disuruh menaiki).

READ
Presiden Erdogan Mengklaim Terinspirasi Keberhasilan Bu Risma di Surabaya

Sampai di Gondanglegi Prambon, surat disampaikan dan isinya ialah, yang bawa surat agar dinikahkan dengan putri Kyai Sholeh Gondanglegi (selaku catatan, Kyai Sholeh Gondanglegi ialah kyai alim yang Mbah Wahab sendiri pernah bilang ke Kyai Djamal bahwa beliau pernah mondok di Kyai Sholeh. Sesepuh kyai Lirboyo juga pernah mondok di Kyai Sholeh).

Membaca surat tersebut, Kyai Sholeh Gondanglegi berucap, “Saya muridnya Kyai Sholeh (Langitan), Anda juga murid beliau, maka saya patuh dan akan menikahkan putri saya dengan Anda.”

Kyai Mustajab menyaksikan adik iparnya yang pandai ngaji dan dapat bahasa Belanda jadi malu dan merasa bodoh. Maka beliau riyadlah (versi Paklek saya, Kyai Mustajab ke ke sungai Brantas dan tercebur, berikutnya berjumpa Nabi Khidir). seusai berjumpa Nabi Khidir, Kyai Mustajab dinasehati agar jangan susah seraya diberi tanah supaya mencari tempat yang sama dengan tanah yang dibawanya.

Kyai Mustajab berjalan ke selatan, tapi belum ketemu tanah yang sama. Berjalan ke barat, juga seperti ini, kembali lqgi ke utara akhirnya sampai di tempat yang sama tanahnya. Itulah Gedongsari.

Kyai Mustajab ini sering diajari Nabi Khidir (versi lain diludahi mulutnya oleh Nabi Khidir), akhirnya beliau jadi pandai (ilmu ladunni). Bila merasa sulit dalam ngaji, beliau akan berangkat ke sungai dekat pondok lalu wudlu, maka akan lancar ngajinya.

READ
Mengakhiri Wabah Corona, Ini 5 Cara yang Sudah Terbukti Berhasil

Kecuali itu, beliau dikenal suka mancing dan ahli mencari ikan. Bahkan Kyai Djamal diberitahu oleh ayahnya, bahwa bila Kyai Mustajab punya gawe, maka banyak ikan akan diantarkan ke pondoknya. Di antara yang mengantarkan ialah seorang bercelana hitam dengan menggunakan udeng hitam. Abahnya Kyai Djamal penasaran dengan orang tersebut, sebab bolak-balik mengantarkan ikan, maka waktu orang itu selesai antar ikan, dia diikuti, ternyata dia nyemplung ke dam (bok) kembar yang dekat dengan pondok Gedongsari. Dia ialah jelmaan buaya.

anak cucu Kyai Mustajab juga ahli mencari ikan. Kata Kyai Djamal, Gus Baweh sanggup slulup berjam-jam dan waktu mentas dapat ikan yang banyak.

******
Kyai Djamal dapat cerita dari abahnya, juga dari kakeknya (Mbah Saifulhuda) dan dari pamannya (Mbah Badrul Munir). Masukan dan koreksi dari dzuriyah Gedongsari tentu saya tunggu.

******
*Foto  waktu hari raya di ndalem Yai Nasir.

Tambakberas, 11 Juni 2019.

Penulis: Ainur Rofiq Al Amin, Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya.


Cerita Kyai Jamal Tambakberas mengenai hal Kyai Mustajab Gedongsari

loading...

READ
Harta yang Berkah dan Rumah Tangga Harmonis Menurut Guru Sekumpul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *