Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA INDONESIA / Dari Senayan, Si Doel Akan Perjuangkan Perfilman Nasional

Dari Senayan, Si Doel Akan Perjuangkan Perfilman Nasional

/
/
/
4 Views

Dari Senayan, Si Doel Akan Perjuangkan Perfilman Nasional

loading…

SINEAS Rano Karno dipastikan lolos jadi member DPR periode 2019-2024. walau akan menjabat selaku member DPR, politikus PDIP ini tidak akan Mundur dari panggung hiburan, khususnya di dunia perfilman.Kemudian seperti apa misi, visi dan perjuangan eks Gubernur Banten pemeran si Doel ini waktu nanti menjalankan amanah jadi wakil rakyat, berikut petikan Tanya Jawab ke KORAN SINDO/SINDOnews belum lama ini:
Bagaimana akhirnya memperoleh amanah jadi member DPR tahun 2019-2024?

Alhamdulilah bersyukur sama Allah atas kepercayaan masyakarat ke saya jadi wakil rakyat dalam pemilihan lalu. Jikalau saya berkeinginan masuk Komisi X DPR, komisi yang bicara soal kebudayaan pendidikan, budaya, wisata, olahraga sebab ghirah dan roh saya ada di situ tapi bukan artinya tidak siap. Namun kala bahasanya, core saya adanya di bidang kebudayaan.

Apakah nanti akan tetap aktif di dunia entertainment?

Tentunya masih ada porsi di entertainment, sebab namanya dewan tidak seoperasional zaman gubernur, jaman gubenur saya nyaris 10 tahun meninggalkan dunia film total saya tinggalkan. Namun dewan ini dulu pengalaman saya, pernah jadi MPR. Waktu tahun 80-an. Artinya sabtu minggu libur masih punya waktu. Jikalau ini kan konsep si Doel ini akan ke si Doel kecil, walaupun si Doel ini berpanjang Doel 3 akan selesai, Doel akan pilihan siapa tapi Doel 4 akan ke Doel kecil.

Bagaimana Anda menyaksikan keadaan pendidikan waktu ini?

Antusias nasionalisme anak sekarang telah mulai terkikis, simpel zaman saya sekolah SD, SMP, SMA masih menyaksikan gambar pahlawan di dinding kelas, jika sekarang telah tidak. Itu mesti dihadirkan kembali, sebab saya pintar sebab menyaksikan, itu siapa ya, ‘ itu Teuku umar, itu siapa ya, Cut Nyak Dien, Cut Meutia itu siapa ya, Patimura, siapa mereka? Jikalau sekarang tidak. Dulu ada namanya prakarya sungguh simpel, buat peta buta dari kertas koran yang dicelup di air lalu kasih lem lalu buat peta.

Bagi saya, bukan bikinnya sesungguhnya tapi kita tahu tidak kepulauan Indonesia itu seperti apa, sebetulnya intinya gitu. Bayangin misalkan ini Pulau Jawa lalu buat titik Jakarta di sini, Bandung di sini, Semarang Surabaya nyebarang Bali itu sesungguhnya bukan pada buat pada peranya tetapi kita tau pada posisinya.

Pendidikan dulu amat luar biasa. Misalnya saya jalan untuk saya makan atau ini jalan untuk saya ambil, kan gitu. Itu ternyata menjadikan dasar motorik. Misalnya main karet itu ternyata motorik. Nah sekarang permainan itu telah tidak ada. Jadi langsung ke permainan ini. Bahaya sekarang. Motorik cuma 2 aja sekarang, jempol doing buat main gadget. Makanya, kebanyakan anak sekarang gemuk sebab jarang gerak

Artinya jika sungguh dimasukan dalam kurikulum, kenapa tidak kan malah bahkan mesti dimasukan dalam kurikulum, olahraga misalkan. Olahraga mesti kita pilih seperti apa yang cocok untuk dunia sekarang. sebab anak kecil zaman now jarang mau olahraga. Bukan tidak bergerak, jarang olahraga. Dan untuk mencapai 1 produk Undang-undang, itu mesti dibicarakan dengan seluruh fraksi, seluruh partai. Mislanya Partai kami punya maksud seperti ini, menurut Anda semua bagaimana gitu hayo kita bahas dan dialog.

Sesungguhnya apa motivasi Anda ghirah di dunia politik?

Back-ground pendidikan saya kan SIP, Sarjana Ilmu Politik. Saya kuliah 4,5 tahun lho di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN). Artinya sebab saya telah nyemplung di situ (politik) dan film ini jika tidak diusahakan dalam sudut politik, sulit. Artinya ‘oke mungkin bahasanya warkop, tapi box office’ dibandingkan dengan film Amerika kayak Avengers, Warkop tidak ada apa-apanya. Bahasanya maaf nih bukan ngiri, tapi ya realita. Mereka begitu tayang dapet misalnya 1.500 layar, si Doel cuman 350 layar.

Jikalau bukan (diusahakan dengan-red) keputusan strategi politik, dapat kalah terus film-film Indonesia, misalnya seperti itu. Sungguh secara realitas itu ialah politik. Namun secara realitas, ini juga ialah hukum dagang kan. Bagaimana sih caranya supaya kita dapat mencapai itu. Tidak dapat kita cuma iri semata. Ya sungguh, maaf, misalnya Avengers 1 hari dia telah dapat mencapai berapa pemasukan kan. itu juga ekonomi kan. Dilan hari ke-1 telah 800 ribu penonton. Dilan dikasih layar banyak nyaris 1.000 layar. nah jadi hal-hal itu kan juga politik.

Target ke depan film Si Doel apa ingin go internasional ke Asia atau dunia?

Ya tentu dia tidak dapat melompat misalnya gini sesungguhnya kita dapat ngambil momen waktu saya jadi gubernur. Saya dapat ambil momen Si Doel jadi gubernur tapi kan engak dapat ujug-ujug Si Doel jadi gubernur. Si Doel mesti masuk partai dulu. Loh iya kan? Si Doel mesti masuk partai dulu. Itu kan edukasi sesungguhnya walaupun dapat independen tapi kan dia ga dapat tiba tiba jadi gubernur. Ngikutin pilkada dulu kecuali Si Doel mimpi. Bangun dapat kemimpi telah selesai.

(dam)

SindoNews by Abrori

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar