Deklarasi Gerakan Generasi Z Indonesia (GEN-ZI)

Deklarasi Gerakan Generasi Z Indonesia (GEN-ZI)

Jakarta, Warta Batavia – Hari Kebangkitan Nasional yang dirayakan pada 20 Mei tiap-tiap tahunnya dipakai selaku Kesempatan Emas dasar dilakukannya Deklarasi Gerakan Generasi Z Indonesia (GEN-ZI). Sebanyak nyaris 200 orang dari bermacam penjuru tanah air datang melalui virtual zoom meeting di tengah situasi bangsa yang tengah berperang melawan wabah Covid-19. 

Menariknya, sebagian besar ialah anak kecil muda Generasi Z (lahir tahun 1995-2010) dari bermacam perguruan tinggi di semua tanah air, datang juga  beberapa siswa Sekolah Menengah, Disokong para ahli, akademisi dan publik figur warga. 

Ketua MPR RI, Bapak H. Bambang Soesatyo datang selaku pembicara ke-1. Beliau menggaris bawahi pemuda selaku anak biologis Pancasila wajib mempunyai integritas tinggi, unggul berbasis budaya Indonesia, tidak luntur sebab infiltrasi asing atau akulturasi. Menyitir perkataan Ki Hajar Dewantoro “Ing  Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. 

“Tiap-tiap generasi mesti saling menyokong dan menyemangati agar terbentuk jembatan peralihan dari generasi 1 ke generasi berikut,” ungkap Bamsoet.
 
Komjen Pol. (Purn) Nanan Soekarna, Dewan Penasehat sekaligus Pelindung GEN-ZI yang menyebut dirinya selaku YOLD (Young and Old) memberikan 3 hal penting selaku landasan GEN-ZI ialah spiritualisme, baturalisme dan Enterpreneurship. 

“Nasionalisme berbicara 4 pilar (UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI) mesti menyentuh sampai ke kalbu hati yang paling dalam (little brain heart), bukan cuma pada logika,” jelas Nanan. 

READ
Menko PMK Apresiasi Ada Pihak Swasta Bangun RS Lapangan Covid-19

Sementara itu, founder ESQ Leadership Dr. Ary Ginanjar Agustian, menyampaikan rasa bangga dan mengapresiasi apa yang dikerjakan GEN-ZI. Andaikan sebuah rumah, generasi ini mesti mempunyai 4 pilar selaku fondasi, tengah tiangnya ialah nilai-nilai moral bangsa yaitu  jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli. 

Enterpreneurship, tambah Ginanjar, Adalah atap, sementara Spiritualisme Adalah perekat pondasi dan tiang. Generasi ini diinginkan melaksanakan sinergi dan toleransi yang kuat, sebab generasi yang juga diancam oleh bahaya narkoba yang menelan korban 100 orang tiap hari, belum korban sebab alkohol dan lain-lain. 

“Kalau ingin menanam untuk 1 tahun tanamlah gandum; Kalau ingin menanam untuk 10 tahun tanamlah pohon; Kalau ingin menanam untuk 100 tahun tanamlah GEN-ZI,” pungkas Ginanjar.

Mewakili Generasi Z, Trista Larasati Nagel (19) mengidentifikasi Siapa Generasi Z itu.  GEN-ZI itu All in One Package. Dapat jadi siapa saja, punya banyak keahlian, passion, punya nyali dan optimis. Almost everything is possible!  GEN-ZI, menurut dia, siap dengan Rapid Change of the World, sebuah dunia tanpa batas (borderless), lintas batas (cross countries). Generasi sebelum GEN-ZI me-label generasi ini selaku generasi yang komunikasinya negatif, malas, tidak peka, generasi nunduk bahkan rebahan. 

“Cobalah berdiri di sepatu GEN-ZI! Dengan perangkat seukuran telapak tangan itu generasi ini dapat melaksanakan banyak hal melebihi generasi milenial yang melibas sekian besar lapangan pekerjaan, bahkan lebih kejem,” tegas Tristan.

READ
Kolaborasi Penanggulangan COVID-19 di Ruang Kuliah

Disisi lain, Trista mengungkapkan, sebuah generasi yang lapar dan mesti akan sharing dan caring: implementasi dari keluhuran budi, kesanggupan memilah benar – salah, alih-alih iming-iming uang dan kekuasaan. Berikan contoh cara mencintai negeri ini, contoh sikap takut ingkar janji ke Tuhan. Disisi lain GEN-ZI lelah didera berita-berita soal korupsi.

Ketua Panitia Acara Deklarasi, Ashraf Fikri bangga jadi Generasi Z. Dalam waktu yang amat singkat, Disokong oleh jaringan GEN-ZI di bermacam propinsi sudah membuktikan bahwa mereka sanggup melaksanakan pekerjaan besar. Tentu saja tidak dapat terlepas disertai  sokongan bermacam pihak.

keinginan besar kepada eksistensi generasi ini Hadir dari Prof. Dr. Ir. Winarni Dien Monoarfa, MS, dari Prof. Dr. Basuki Rekso Wibowo dan Prof. Dr. H. Iswan A. Nusi. 

Dalam Peluang itu, Prof. Iswan Nusi menitikberatkan proses pertumbuhan dini usia 7-9 tahun baik Ekososbud, pertumbuhan rasio dan mental-moralitas. Mereka mengungkapkan rasa bangga datang selaku saksi deklarasi kebangkitan sebuah generasi dalam ghirah kebangkitan Nasional. 

Bagian akhir acara ini Adalah seminar singkat menghadirkan nara sumber Ketua ASPIKOM, Dr. Muhammad Sulhan dan Dr. Dadang Rahmat Hidayat dengan moderator Dr. Abd. Razak Mozin, S.Ag, M. Si.  

Ketua ASPIKOM menyitir sebuah ungkapan soal generasi Z selaku generasi strawberry: Indah, menarik, manis tetapi rapuh sebab Penting proses lama untuk mental healing. Generasi yang kompetitif, kontestasi, multi tasking. 

READ
Presiden Joko Widodo Minta Masarakat Contoh Masyarakat Cimahi Tidak Kucilkan Pasien Positif Corona

Dr. Dadang Rahmat Hidayat Menegaskan ke tiap generasi untuk saling mengajari. 

Evvi S. Chandra Adalah publik figur penggagas terbentuknya GEN-ZI, Disokong full Dr. Abd. Razak Mozin mengumumkan back-ground penyelenggaraan deklarasi generasi Z. GEN-ZI diinginkan jadi wadah bagi generasi ini untuk mereka dapat berperan aktif, diikutsertakan dalam pembangunan Indonesia. 

“Kemajuan bangsa diperoleh dari kesanggupan mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang unggul, mempersiapkan generasi ini mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ingin Razak.*( Rikardo). 
 

Deklarasi Gerakan Generasi Z Indonesia (GEN-ZI)

loading...

Recommended For You

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *