Dipenjara Jalan keluar Jitu dari Eks HTI untuk Hentikan Gerakan Khilafah

breaking news 12

Sumber Akun Facebook Sumanto Al Qurtuby

Warta Batavia, Jakarta – Telah 2 tahun semenjak 19 Juli 2017, Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dicabut oleh pemerintah, sebab gerakan mereka amat membahayakan sekali bagi kedaulatan bangsa dan negara yang amat majemuk sekali. Tetapi, sampai sekarang ideologi HTI tetap jadi ancaman.

Ideologi HTI yang mengusung tegaknya Khilafah di Indonesia tetap dihembuskan oleh aktivis-aktivis HTI yang sekarang masih bebas berkeliaran. Salah satunya melalui buku ‘Fiqih Khilafah dalam Madzhab Syafi’i’ yang baru terbit dan diedarkan 11 Juli 2019 oleh penerbitnya, Penerbit Quwwah.

Baca: Polisi: Dekati Parpol Taktik Baru Kubu Teroris JI Bentuk Negara Khilafah

Eks Kordinator HTI Babel 2010 yang sekarang jadi Pengurus NU di Jawa Barat Ayik Heriansyah menjelaskan, keuletan HTI mengelabui penduduk NU amat luar biasa. Pencabutan badan hukum HTI, kata Ayik, dijadikan Kesempatan dan tantangan oleh HTI untuk menyebarkan pahamnya dengan jalan informal.

Walaupun HTI dibubarkan, Ayik mengklaim, sampai sekarang dirinya tidak pernah mempergunakan istilah Eks HTI. Menurut dia HTI tidak akan mati. HTI dapat mati cuma kalau aktivisnya ganti ideologi atau orang-orangnya mati.

Baca Artikel Lainnya:  Sandi Ajak Emak-emak dan Milenial Kawal Suara Pemilihan Umum

“Makanya saya tidak pernah mempergunakan istilah eks HTI sebab HTI tidak akan mati kecuali aktivisnya ganti ideologi atau mati,” ucap Ayik seperti dikutip Islam Nusantara, Kamis (18/07/2019).

Menurut Ayik, satu-satunya cara untuk menghentikan gerakan HTI ialah memenjarakan aktivisnya dengan Perkara makar. Hal ini sebagaimana sudah dikerjakan negara-negara dimana Hizbut Tahrir sudah lebih dulu dibubarkan. Kalau tidak, pencabutan badan hukum HTI tidak akan ada artinya.

Baca: WASPADA! Inilah 13 Taktik Jitu Berhasil Kubu Khilafah dan Wahabi

“Cara tercepat untuk menghentikan gerakan HTI ialah memenjarakan mereka dengan Perkara makar. Kalo tidak dipenjara, pencabutan badan hukum tidak ada maknanya bahkan mereka makin menggila,” tegas Ayik.

Penelusuran oleh Dutaislam, buku ‘Fiqih Khilafah dalam Madzhab Syafi’i’ yang diterbitkan Penerbit Quwwah mulai disebarkan 13 Juli 2019 (sebagaimana catatan posting melalui saya Fanpage Facebooknya). Buku tersebut ditulis Abdurrahman al-Khaddami dan disunting Abu Fursan.

Baca: Eko Kuntadhi: Ideologi Para Zombie Khilafah Hantui Indonesia

Di antara isi buku tersebut membicarakan: Definisi Khilafah (Imamah) hal 48, Kewajiban Menegakkan Khilafah (Imamah) hal 59, Ijmak Sahabat Soal Khilafah (Imamah) hal 62, penyelenggaraan Fardhu Kifayah Terkait Khilafah (Imamah) hal 67, Fungsi Khilafah (Imamah) hal 73, Syarat Khalifah/Imam hal 83, dan Darul Imam dan Darul Islam hal 98. (ARN)

Source by Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *