Dzikir Pagi Al-Musabba’atul Adzimah / Al-Musabba’at Al-‘Asyar

Dzikir Pagi Al-Musabba'atul Adzimah / Al-Musabba'at Al-'Asyar

Dzikir Pagi dan Dzikir Petang Wirid Para Wali Abdal: Al-Musabbaat al-Asyar / Al-Musabba’atul Adzimah. Di bawah ini akan dijelaskan dzikir pagi dan dzikir petang yang sangat baik jika dilakukan secara istiqomah oleh umat Islam.

(Siapakah Wali Abdal, Anda bisa baca di sini Ciri-ciri Wali Abdal).

Dzikir pagi dzikir petang ini berisi surat-surat pendek Al-Qur’an dan kalimat-kalimat dzikir yang masyhur diakhiri do’a permintaan yang penuh ketundukan dan kepasrahan.

Dzikir pagi dan dzikir petang ini juga masyhur di kalangan umat Islam karena dzikir pagi dan dzikir petang ini ditulis di dalam banyak kitab para Ulama terkenal.

Salah satu judul kitabnya adalah Quttul Qulûb fî Mu`âmalatil Mahbûb wa Washfith Tharîq al-Mazîd ilâ Maqômit Tauhîd, dikarang oleh/yang disusun Imam Muhammad bin Ali bin Athiyah al-Haritsi atau Abu Tholib Al-Makki (Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1997).

Pada fasal ke-4 “fi Dzikri ma yustahabbu minadz dzikri wa qiro’atil ayyil mandub ilaiha ba’dat taslim min sholatish shubhi” terdapat cerita wiridnya wali abdal, Imam Kurz bin Wabrah yang memperoleh dari temannya, dari Imam Ibrahim at-Taimi. Kitab ini menghimpun wirid-wirid harian, yang menjadi rujukan para ulama tasawuf zaman dulu.

Dalam salah satu bagian kitabnya itu, Ibnu Athiyah menukil riwayat bersumber dari Said bin Said dari Abu Thayyibah, dari Kurz bin Wabrah (dari teman Ibrahim at-Taimi), dari Nabi Hidhir dari Nabi Muhammad). Ceritanya dimulai:

“Kurz bin Wabrah adalah seorang wali abdal, beliau berkata: “Saya didatangi oleh seorang teman dari Syam yang menghadiahkan sebuah hadiah.

Teman saya itu berkata: “Wahai Kurz terimalah hadiah ini, sebab itu adalah hadiah yang bagus.”

Saya bertanya: “Wahai temanku, dari siapa engkau mendapatkan hadiah tersebut?” Dia menjawab: “Saya mendapatkannya dari Ibrahim at-Taimi.”

“Saya (Kurz bin Wabrah) bertanya: “Apakah engkau tidak menanyakan dari siapa dia mendapatkannya?”

Beliau menjawab: “Tentu saja saya tanyakan.” Dia berkata (tentang Ibrahim Taimi): “Ketika saya sedang duduk di depan halaman Ka’bah, yaitu di saat membaca tahlil, tahmid, dan tasbih, tiba-tiba datang seorang laki-laki menghampiriku. Dia mengucapkan salam kepadaku dan duduk di sebelah kananku. Di zaman saya, saya belum pernah melihat orang yang wajahnya lebih tampan daripada dia. Saya tidak pernah menemukan pakaian yang lebih bagus daripada yang dipakai olehnya. Saya tidak pernah melihat pakaian yang lebih putih daripada pakaian yang dipakai olehnya. Saya belum pernah melihat bau wangi yang lebih harum daripada bau harum laki-laki itu.”

Saya bertanya kepadanya: “Wahai Hamba Alloh dari mana dan siapa Anda ini?” Hamba Alloh itu menjawab: “Aku adalah Hidhir.” Saya bertanya kembali kepadanya: “Untuk kepentingan apa Anda ke sini?” Hidhir menjawab: “Saya datang ke sini untuk menyampaikan salam Anda dan menyampaikan rasa cinta kepada Alloh Azza wajalla. Selain itu saya punya hadiah yang ingin saya hadiahkan kepada Anda.”

Dzikir Pagi Dzikir Petang Al-Musabba'atul Adzimah / Al-Musabba'at Al-Asyar Adalah Wirid Para Wali Abdal
Dzikir Pagi Dzikir Petang Al-Musabba’atul Adzimah / Al-Musabba’at Al-Asyar Adalah Wirid Para Wali Abdal

Dzikir Pagi Dzikir Petang Al-Musabba’atul Adzimah / Al-Musabba’at Al-Asyar Adalah Wirid Para Wali Abdal

Saya (Ibrahim at-Taimi) bertanya: Hadiah apa?” Hidhir menjawab: “Hadiah tersebut adalah ketika matahari terbit dan sebelum terbenam Anda membaca (dibaca pagi dan sore sebagai dzikir pagi sebelum matahari terbit dan dzikir petang sebelum matahari terbenam):

  1. Surat al-Fatihah 7 x.
  2. Surat an-Nas 7 x.
  3. Surat al-Falaq 7 x.
  4. Surat al-Ikhlas 7 x.
  5. Surat al-Kafirun 7 x.
  6. Ayat Kursi 7 kali.
  7. Tasbih: subhanalloh walhamdulillah wala ilaha ilalloh wallohu akbar, 7 x.
  8. Sholawat 7 x.
  9. Istighfar, untuk Anda, orang tua, keturunan, istri, orang mukmin laki-laki dan perempuan yang hidup dan yang telah wafat, 7 x.
  10. Setelah itu berdoa: “Ya Alloh,Ya Rabb, lakukanlah untukku dan untuk mereka (orang-orang mukmin), baik langsung atau nanti, dalam hal agama, dunia dan akhirat, keputusan yang selayaknya Engkau perbuat, janganlah engkau putuskan wahai Tuhanku yang layak menurut kami (sementara menurut Engkau tidak layak). Sesungguhnya engkau Maha Pengampun, Mahabijak, Mahadermawan, Mahamulia, Maha Penyayang dan Maha Pengasih, sebanyak 7 x.”

“Pikirkanlah oleh Anda (Ibrahim at-Taimi) untuk tidak meninggalkan wirid di atas pagi dan sore.” Saya berkata kepada Hidhir: “Saya sangat ingin kalau Anda memberitahu siapa yang memberi hadiah ini?” Hidhir menjawab: “Saya mendapatkan hadiah ini dari Nabi Muhammad.” Saya bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku pahala membaca bacaan tersebut?” Hidhir menjawab: “Jika engkau bertemu Nabi Muhammad tanyakan tentang ganjaran wirid tersebut, beliau akan memberitahukan kepadamu.”

Selanjutnya Imam Ibrahim at-Taimi memberitahukan bahwa suatu malam dia mimpi melihat para malaikat datang kepadanya. Para malaikat membawanya masuk ke dalam surga. Tiba-tiba di dalam surga, melihat sesuatu yang sifat-sifatnya sangat agung. Imam Ibrahim at-Taimi bertanya kepada malaikat: “Untuk siapa semua ini?” Para malaikat menjawab: “Semua itu disediakan untuk orang yang melakukan amalan seperti yang engkau lakukan.”

Ibrahim at-Taimi menyatakan bahwa dalam mimpi tersebut dirinya makan buah dari surga dan diberi minum oleh para malaikat dari air surga. Kemudian dia berkata: “Setealah itu datang Nabi Muhammad kepadaku beserta 70 orang Nabi dan 70 baris malaikat. Panjangnya tiap barisan itu seukuran dari masyriq sampai maghrib. Nabi Muhammad membaca salam kepadaku dan memegang tanganku.

Saya bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, Hidhir memberitahu kepadaku bahwa dirinya mendengar langsung darimu perihal bacaan wirid ini. (maksudnya surat Al-Quran dan kalimat-kalimat dzikir pagi dan dzikir petang)”

Rasulullah kemudian menjawab: “Benar apa yang dikatakan Hidhir. Dan setiap berita yang disampaikan dia benar adanya. Dia tokoh ilmuwan penduduk bumi. Dia pemimpin para wali abdal. Dia salah seorang tentara Alloh `azza wa jalla di muka bumi.”

Penegasan Soal Dzikir Pagi Dzikir Petang Ini
Penegasan Soal Dzikir Pagi Dzikir Petang Ini

Penegasan Soal Dzikir Pagi Dzikir Petang Ini

Kemudian saya (Ibrahim at-Taimi) bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana orang yang mengamalkan bacaan di atas, namun ia tidak mimpi seperti mimpi yang aku alami, apakah dia mendapatkan pemberian seperti yang engkau berikan ini.”

Rasulullah menjawab: “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar, orang yang mengamalkan bacaan di atas, namun tidak pernah melihatku dan surga dalam mimpinya, seluruh dosa-dosanya yang dilakukan akan diampuni dan Alloh akan menjauhkan kemarahan-Nya dan kutukan-Nya dari dia. Selain itu Alloh akan memerintahkan kepada malaikat Atid untuk tidak mencatat sedikitpun kejelekannya sampai setahun. Demi Dzat yang telah mengutusku secara benar menjadi Nabi, tidaklah mengamalkan bacaan tersebut, kecuali orang yang diciptakan oleh Alloh sebagai manusia yang bahagia. Dan, tidaklah meninggalkan amalan ini, kecuali orang yang diciptakan Alloh sebagai manusia yang rugi/sial.”

Kata penulis kitab itu, selanjutnya: “Setelah mimpi itu, Syaikh Ibrahim at-Taimi selama empat bulan tidak makan dan tidak minum. Kemungkinan besar, itu sebagai efek dari mimpinya itu. Tapi Alloh lebih tahu hal yang sebenarnya. “ Riwayat itu disampaikan al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi.

Tentang Syaikh Ibrahim at-Taimi dan Imam Kurz bin Wabrah, akan dijelaskan berikutnya.

Dzikir Pagi Dzikir Petang Wirid Para Wali Abdal: Al-Musabbaat al-Asyar / Al-Musabba’atul Adzimah

Dzikir Pagi Dzikir Petang Wirid Para Wali Abdal

Dzikir Pagi Dzikir Petang Wirid Para Wali Abdal – Hidhir Pembimbing Sebagian Sufi dan Doa-Doanya

Dalam Kitab Quttul Qulûb itu, Ibnu Athiyah, menyebutkan bahwa Nabi Hidhir memberikan hadiah kepada Imam Ibrahim at-Taimi, dan Kanjeng Nabi Muhammad mengabarkan keutamaan wirid itu, melalui jalur mimpi.

Imam al-Ghozali dalam Ihyâ’Ulumuddin, juga menyebut riwayat Ibrahim at-Taimi dan Ibnu Wabrah, dalam bagian “Kitab al-Adzkâr wa ad-Daawât”, pada bagian “Tartibul al-Aurôd wa Tafshilu Ihyâ’il Lail. Imam Al-Ghozali juga menyebut bahwa Kurz bin Wabrah termasuki Abdal, dan menyebut dzikir pagi dan dzikir petang itu dengan sebutan al-MusabbaatulAsyar (10 jenis wirid yang dibaca 7 x dengan mengikutkan basmalah), dengan cerita yang sama disebutkan oleh Ibnu Athiyah, yang isinya adalah bacaan-bacaan terdiri dari surat-surat pendek, sholawat, istighfar, dan doa yang dibaca tujuh kali, untuk dzikir pagi dan dzikir sore hari (dalam Hafizh Murtadho az-Zubaidi, Ithâfu as-Sâdatil Muttaqîn bi Syarah Ihyâ’ Ulûmiddin, Darul Fikr, V: 134).

BACA JUGA :   Antisipasi Pencaplokan, NU Lumajang Gelar Labelisasi Ribuan Masjid

Dalam versi Ihyâ’ ini, pada bagian tasbih 7x, tidak diteruskan dengan Lâ haula walâ quwwata illâ billâhill `Aliyyil Azhîm; dan tidak menyebutkan jenis istighfarnya, kecuali: istighfar untuk dirinya, kedua orang tua, dan untuk orang mukmin laki-laki-perempuan; dan dalam ceritanya tentang Hidhir, juga menyebut bahwa Hidhir adalah “Râ’isul Abdâl” (pimpinan para Wali Abdal).

Wirid al-Musabba`ât al-Asyara ini, di kalangan sebagian thoriqot, diamalkan dengan ditambahi wirid-wirid lain. Di antara yang dikenal memiliki wirid dzikir pagi dan dzikir petang ini, adalah Imam al-Jazuli shôhibud Dalâ’ilil Khoirôt, Imam Dardir Shohibul Kholwati dalam ash-Sholawât ad-Dardiriyah-nya, dan Imam ash-Showi al-Maliki bahkan mensyarahi wirid dzikir pagi dan dzikir petang ini.

Juga Imam Ibrahim ad-Dasuqi yang memasukkannya dalam al-Hizbush Shoghîr, yang pembacaan wirid dari Hidhir itu didahului beberapa bacaan, termasuk bacaan Ismullôh, Yâ Bari’u; dan masih banyak lagi yang mengamalkan wirid dzikir pagi dan dzikir petang ini.

Wirid al-Musabbaât al-Asyar di atas, menjelaskan sata hal bahwa di kalangan para guru besar tasawuf, Nabi Hidhir diakui membimbing sebagian sufi di antara mereka yang berusaha dekat dengan Alloh. Ibnu Athiyah dan Imam al-Ghozali, bahkan menyebutkan lewat riwayat dari cerita Imam Ibrahim at-Taimi itu, Hidhir adalah pemimpin para Abdal.

Dalam Kitab Kasyful Mahjûb, al-Hujwiri mengetengahkan bimbingan Hidhir kepada Imam Ibrohim bin Azhom ketika menyebutkan tokoh-tokoh tabi’in; demikian juga Imam al-Qusyairi dalam kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyah, ketika membicarakan Imam Ibrohim bin Azhom; dan Syaikh Faridhuddin al-Athar dalam Tadzkiratul Auliyâ’, dalam cerita juga tentang Imam Ibrahim bin Azhom (Tokoh ini berbeda dengan Imam Ibrahim at-Taimi).

Al-Hujwiri menyebutkan begini kaitannya dengan Hidhir: “Dia (Syaikh Ibrohim bin Azhom) unik dalam tarekat ini, dan paling terkemuka di antara sejawatnya. Dia murid Nabi Hidhir.”

Baca juga: DZIKIR LAA ILAAHA ILLALLAH 100 X SEHARI, Apa Manfaatnya?

Cerita yang dimuat dalam ar-Risâlah al-Qusyairiyah begini:

“Ibrahim lebih suka memakan dari hasil kerja tangannya seperti bertani, bekerja di kebun atau yang lainnya. Di padang sahara, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang mengajari Ismullôh al-A’zhom, lalu dia berdoa dengan nama itu, dan setelah itu tidak beberapa lama dia bertemu dengan Hidhir yang berkata kepadanya: “Yang mengajarimu Ismullôh al-A’zhom adalah saudaraku Dawud.” Cerita ini saya peroleh dari penuturan Abu Abdurrahman as-Sulami,” kata Imam al-Qusyairi.

Cerita tentang Hidhir seperti di atas juga dikemukakan Syaikh Fariduddin al-Athar dalam Tadzkîratul Auliyâ’, dan menambahkan penjelasan begini: “Kemudian terjadi perbincangan panjang antara Hidhir dan Ibrahim (bin Azhom). Hidhir `alahissalam adalah orang pertama yang membuat Ibrahim berbicara banyak dan terbuka, dengan izin Alloh.”

Selain itu, Nabi Hidhir juga dikenal dalam membimbinmg sebagian sufi dalam memudawamahkan sholawat dengan redaksi: Shollallôhu alâ Muhammad.

Di antaranya, saya (penulis) memperoleh cerita dari KH. Baiquni (Gus Baiq), cucu KH. Achmad Shiddiq (Rais Am PBNU pada zaman Gus Dur), bahwa kakeknya, Mbah KH. Muhammad Shiddiq, memperoleh wirid sholawat Shollallôhualâ Muhammad dari Nabi Hidhir untuk dibaca setelah Sholat Jumat sampai sebelum matahari terbenam, sebanyak 1000 x.

Dalam Kitab Afdholush Sholawât alâ Sayyidis Sâdât, Imam Yusuf bin Ismail an-Nabhani juga bercerita soal sholawat pendek dengan redaksi Shollallôhualâ Muhammad, ketika membahas sholawat ke-10. Dalam kitab itu dijelaskan begini, kaitanya dengan Hidhir:

“Imam asy-Sya’roni berkata: “Rasululloh sholallôhu `alai wasallam pernah bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan sholawat ini, maka ia telah membukakan 70 pintu rahmat untuk dirinya, dan Alloh menyebarkan kecintaan-Nya ke dalam hati manusia, kemudian jika ada orang yang membencinya, maka orang yang membencinya itu orang yang memiliki sifat munafik dalam hatinya.”

“Syaikh kita, Ali al-Khowash rodhiyallôhu `anhu mengatakan bahwa hadits ini dan hadits sebelumnya, yaitu: “Keadaan kalian yang paling dekat denganku adalah ketika salah seorang dari kalian mengingatku dan bersholawat kepadaku.” Kami meriwayatkan kedua hadits ini, dari sebagian orang-orang arif, dari Hidhir dari Rasululloh. Menurut kami, hadits ini menduduki tempat kesahihan yang paling tinggi, meskipun para ahli hadits tidak menetapkannya sesuai dengan istilah mereka.

“Pendapat ini diperkuat oleh keterangan al-Hafizh as-Sakhowi dari Majduddin al-Fairuzabadi, penulis kitab al-Qômus, dengan sanadnya kepada Imam as-Samarqondhi, ia berkata: “Aku mendengar Hidhir dan Ilyas berkata: “Kami mendengar Rasulullah shollallôhu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin mengatakan: “Shollallôhualâ Muhammad,” melainkan Alloh akan menjadikan manusia mencintainya meskipun mereka membencinya, dan demi Alloh, tidaklah mereka mencintai orang itu sehingga Alloh azza wajalla mencintainya.” Kami pernah mendengar Rasululloh shollallôhualaihi wasallam bersabda di atas mimbar: “Barang siapa yang berkata: “Shollallôhu `alâ Muhammad”, maka sesungguhnya ia telah membukakan untuk dirinya 70 pintu rahmat.”

Nabi Hidhir inilah yang menurut Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya tentang Hidhir berjudul az-Zuhrun Nadhir fî Hâli al-Hidhir (Maktabah Ahlul Atsar, 2004), yang dimaksud oleh khabar-khabar Kanjeng Nabi Muhammad, meski diinkari oleh sebagian ahli hadits. Dia ini dipanggil dengan kunyah Abul Abbas. Pada bagian “Dzikrul Ahbâr allatî Warodat annal Hidhr Kâna fî Zamânin Nabî shollallôhu `alaihi wasallam Tsumma Ba’dahu ilâ al-Ân, diketengahkan riwayat-riwayat kaitannya dengan Hidhir pada zaman Nabi sampai zaman ini.

Akan tetapi, tokoh wahhabi salafi juga menulis pandangannya sendiri tentang Hidhir, dalam kitab berjudul at-Tahdzir minal Qouli bi Hayâtil Hidhr yang ditulis Muhammad bin Ibrohim al-Luhaidan (Darul Kutub was Sunnah, 1992).

Imam al-Ghozali dalam kitab Ihyâ’ juga mengemukakan salah satu doa Nabi Hidhir selain al-Musabbaât al-Usyr di atas, dalam bagian Doa Nabi Hidhir `alaihissalam (dalam cetakan versi Syarah Ihyâ’, Ithâfu Sâdatil Muttaqîn, V: 69):

“Dikatakan bahwa Hidhir dan Ilyas `alaihimas salam apabila bertemu di dalam setiap tahun musim (maksudnya musim haji) tidak pernah meninggalkan kalimat-kalimat ini ketika mereka berpisah:

Bismillâh Mâ Syâ’allâh
Lâ Haula walâ Quwwata illâ billâh Mâ Syâ’allâh
Kullu Ni’matin minallôh Mâ Syâ’allâh
Al-Khoiru Kulluhu biyadillâh Mâ Syâ’allâh
Lâ Yashrifus Sû’a illallôh (tidak ditambahi Lâ Haula walâ quwwata illâ billâh)

“Dengan nama Alloh, apa yang dikehendaki Alloh . Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Alloh dan apa yang dikehendaki Alloh. Setiap nikmat berasal dari Allah, apa yang dikehendaki Alloh. Segala kebaikan berada di dalam kekuasan Alloh, apa yang dikehendaki Alloh. Tidak ada sesuatupun selain Alloh sanggup menyingkirkan kejahatan.”

Imam al-Ghozali dalam kitab Ihyâ’ itu mengatakan: “Barang siapa membacanya tiga kali setiap pagi, aman dari kebakaran banjir dan maling, insya Alloh.”

BACA JUGA :   Astaghfirullah! Konsultan Properti Sebut Rocky Gerung Sengaja Beli Tanah Bodong untuk Buat Gaduh

Al-Hafizh Murtadho az-Zubaidi dalam Ithâfus Sâdatil Muttaqîn mengomentari: “Barang siapa membacanya tiga kali… ini adalah lafazh dalam kitab al-Qutt, dan lafzah dari Abu Dzar menyebutkan “barang siapa yang membaca 3 x untuk dzikir pagi dan dzikir petang dia aman dari kebakaran, banjir, dan maling.”

Ibnu Athiyah sendiri yang dikutip Imam Murtadho az-Zubaidi, dalam Quttul Qulûb menyebutkan begini:

“Saya menerima berita dari Atho’ dari Ibnu Abbas berkata: “Hidhir dan Ilyas suka bertemu pada setiap musim haji, keduanya saling berpisah dan membaca doa (dalam lafazh di atas). Barang siapa di waktu shubuh membaca doa ini untuk dzikir pagi sebanyuak 3 kali dia aman dari kebakaran, banjir, dan maling.”

Jadi, doa di atas berasal dari Hidhir dituturkan Ibnu Abbas, dan riwayat ini dari Ibnu Athiyah.

Setelah itu Ibnul Athiyah juga mengemukakan tentang istighfar yang bersumber dari Hidhir:

“Disebutkan bahwa istighfar yang biasa dibaca oleh Hidhir sebagai berikut: “Ya Alloh aku meminta ampunan kepada-Mu dari setiap dosa. Aku taubat kepada-Mu dari dosa yang kembali aku melakukannya. Ya Alloh aku meminta ampunan dari setiap perjanjian yang aku buat kepada-Mu, kemudian aku tidak melaksanakannya. Ya Alloh, aku memohon ampunan kepada-Mu dari setiap nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku, kemudian aku jadikan bahan untuk bermaksiat kepada-Mu. Ya Alloh aku mohon ampunan kepada-Mu dari setiap amal yang aku lakukan hanya untuk-Mu, namun aku campuri dari sesuatu yang bukan untuk-Mu.”

Selain itu, menurut Ibnu Athiyah, juga ada doa Hidhir yang diberikan kepada Imam Ali berbunyi demikian:

يا من لا يشغله سمع عن سمع
يا من لا تغلطه المسائل
يا من لا يتبرم بإلحاح الملحين
أذقني برد عفوك وحلاوة رحمتك

“Wahai Dzat yang tidak pernah keliru dalam mendengar dan tidak pernah pusing oleh berbagai suara, wahai Dzat yang tidak pernahlelah dengan berbagai permintaan dan tidak keliru terhadap bahasa yang berbeda-beda, wahai Dzat yang tidak pernah terpengaruh rontaan orang yang meronta-ronta, cicipkanlah kepadaku sejuknya maghfiorah-Mu dan manisnya rahmat-Mu.”

Doa Nabi Hidhir juga terkenal di kalangan pengamal ratib, dan biasa dibaca oleh sebagian pengamal Ratib al-Haddad setelah menyelesaikan Ratib, yaitu: “ Yâ Lathîfân bi kholqih Yâ Âlimâm bi kholqih Yâ Khobîrôn bikholqih ulthuf binâ Yâ Lathîfu YâÂlimu Ya Khobîr.”

Artinya: “Wahai Tuhan yang lemah lembut kepada makhluk-Nya, wahai Dzat yang mengetahui makhluk-Nya, wahai Dzat yang waspada kepada makhluk-Nya, berikanlah kami perlakuan lembut-Mu, wahai Dzat yang Maha Lembut, wahai Dzat yang Maha Mengetahui, wahai Dzat yang Waspada” (Yang mengutip doa ini di antaranya adalah Maulana al-Kandahlawi dan menyebut cerita tentang Hidhir dalam Kitab al-Hajj).

Imam Afiduddin al-Yafii dalam kitabnya berjudul Khulâshotul Mafâkhir fî Manâqibisy SyaikhAbdul Qôdir wa Jamâ`ati minasy Syuyûkh al-Akâbir , dalam hikayat ke-139 menceritakan tentang Nabi Hidhir dan pertemuannya dengan seorang wali bernama Abu Muhammad bin Abdul Bashri, yang sering bershuhbah dengan Nabi Hidhir. Ceritanya agak panjang, saya kutipkan bagian tertentu saja, yaitu, dia bertanya: “Aku bertanya kepada Hidhir, apakah orang-orang yang dicintai Alloh (para wali) itu memiliki seseorang yang menjadi pimpinan mereka dalam setiap zaman?” Hidhir menjawab: “Iya.” Baru setelah itu berbicara tentang Syaikh Abdul Qodir al-Jilani yang menjadi Quthub di zamannya.

Syaikh Afifuddin al-Yafi’i dalam kitabnya yang lain berjudul Roudhur Rayâhin juga mengatakan kehidupan Hidhir yang terlihat di Mekkah dalam sebuah cerita, begini:

“Dan melihat juga sebagian al-Masyaikh al-Ahyâr min Aulâdil Masyâyikhil Kibâr: “Saya melihat seorang laki-laki di al-Hijr dan kepalanya ma`a ra’sil Ka’bah, dan dia berkata dan mengucapkan salam kepada-ku, “salam untukku atas seseorang dan katakan kepadanya untuk bersabar,” sehingga kami mendatanginya, kami makan dan berkata, maka saya berkata kepadanya: “ Siapakah Anda?” Dia menjawab: “Hidhir.” Semoga Alloh meridhoinya, memberi manfaat bagi kita dan kaum muslimin, dengan berkahnya” (Roudhur Rayâhin fî Hikâyatish Shôlihîn, Maktabah Taufiqiyah, t.t., hlm. 309).

Dalam membahas Bisyr al-Hafi, sufi terkenal yang biografinya banyak dibahas, Imam al-Qusyairi dalam ar-Risâlah al-Qusyairiyah juga menuturkan cerita Bilal al-Khowash yang bertemu Hidhir, dan berbicara tentang Bisyr al-Hafi. Bilal al-Khowash berkata:

“Suatu ketika saya sedang ada di padang sahara yang didiami orang Israel, tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan menemaniku. Saya heran, siapa gerangan orang ini. Tidak berapa lama saya diberi ilham bahwa laki-laki itu adalah Hidhir. Saya pun beranjak menemuinya dan bertanya: “Demi kebenaran suatu kebenaran, siapakah kamu sebenarnya?” Hidhir menjawab: “Saudaramu, Hidhir.” Aku bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang Imam Syafi`i?” Hidhir menjawab: “Dia pemelihara agama.” Bagaimana pendapatmu tentang Imam Ahmad bin Hanbal?” Hidhir menjawab: “Dia seorang shiddiq.” Bagaimana tentang Bisyr al-Hafi?” Hidhir menjawab: “Belum ada orang sepertinya sesudahnya nanti.” Apakah yang bisa menjadikanku bisa bertemu denganmu?” Hidhir menjawab: “Karena kebaikanmu kepada ibumu” (Ar-Risâlah al-Qusyairiyah, bagian yang membahas Bisyr al-Hafi).

Dalam riwayat dari sahabat Anas bin Malik, diceritakan bahwa Rasulullah sedang di masjid, dan mendengar suara orang berdoa di belakangnya, dan orang itu berdoa: “Ya Alloh, tolonglah aku atas apa yang menyelamatkanku dari apa yang paling kutakuti.” Rasulullah mendengar itu, dan berkata: “Mengapa orang itu tidak menyertakan pasangan doanya seperti ini: “Ya Alloh berilah kepadaku kerinduan orang-orang sholih yang paling mereka rindukan.” Nabi Muhammad kemudian berkata kepada Anas bin Malik (Anas bersamanya): “Pergilah wahai Anas (untuk menemuinya), maka Anas berkata kepadanya: “Rasulullah berkata kepada engkau: “Mintakan ampun untukku.” Maka Anas mendatanginya dan menyampaikannya, maka berkata laki-laki itu: “Hai Anas engkau adalah utusan dari Rasulullah untukku? Maka kembalilah. (Setelah itu) Maka Nabi berkata (kembali kepada Anas): “Katakan kepadanya “iya”. Maka Hidhir berkata kepada Anas, pergilah dan katakana kepada Nabi Muhammad: “Sesungguhnya Alloh telah memberikan karunia kelebihan kepada engkau di atas para nabi-nabi, sebagaimana Alloh mengutamakan Ramadhoh di atas bulan-bulan; dan mengutamakan umatmu, sebagaimana keutamaan hari Jumat di atas hari-hari semuanya.” Maka Nabi berkata (kepada Anas): “Maka dia kalau begitu adalah Hidhir alaihissalam” (HR. IbnuUdi dalam al-Kâmil, dikutip Ibnu Hajar dalam az-Zuhrun Nadhir fî Hâli al-Hidhir, Maktabah Ahlul Atsar, 2004, hlm. 131-132).

Meski begitu, Hidhir yang menjadi pemimpin para Abdal, sebagaimana cerita Imam Ibrahim at-Taimi yang dituturkan Ibnu Athiyah dan Imam al-Ghozali itu, ada yang berpandangan bahwa Hidhir telah wafat dan yang menentang keberadaannya menemui orang-orang sholih, juga ada. Hanya saja, para guru sufi yang sholih-sholih di kalangan mereka banyak menceritakan tentang Hidhir, dan seperti riwayat soal wirid dzikir pagi dzikir petang dan doa Imam Ibrohim at-Taimi dan Kurz bin Wabrah di atas, adalah contohnya.

Dan, cerita para guru sufi bertemu Hidhir bisa dijumpai di banyak kitab thobaqat sufi dan kitab tasawuf. Doa-doanya dan sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad yang diijazahkan dari Hidhir juga banyak diamalkan, termasuk al-Musabaat al-Asyar untuk dzikir pagi dan dzikir petang, sholawat Shollalôhu `alâ Muhamad, Yâ Lathîfan bi Kholqih…, Bismillah Mâ Sya’ alloh, istighfarnya, dan wirid-wirid lain yang diterima oleh guru-guru sufi.

Dzikir Pagi Dzikir Petang Wirid Para Wali Abdal – Hidhir Pembimbing Sebagian Sufi dan Doa-Doanya

Wallôhu a’lam.

Oleh: Nur Kholik Ridwan

Anggota PP RMINU

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *