sowan kepada habib syekh
sowan kepada habib syekh

Etika Bertamu dalam Pandangan Prof Rochmat Wahab

Diposting pada 27 views

Etika Bertamu dalam Pandangan Prof Rochmat Wahab

ETIKA BERTAMU

Silaturahim di era belakangan ini makin banyak modusnya, dapat dengan bertelepon, ber-sms-an atau ber-WA-an, ber-istagram, ber-Fb-an, ber-Line-an, atau ber-twiter-an dan sebagainya.

Semuanya dapat komunikasi secara tekstual atau dapat video call. Apapun yang dipilih, bertamu itu jauh lebih Inti dalam bersilaturahim, sebab memungkinkan dapat bertatap muka dan berjabat tangan.

Bertamu itu pada kenyataannya dimaksudkan untuk beranjangsana, sekedar mampir, memenuhi undangan, dan sebagainya. Untuk dapat menjaga keutamaan bertamu, ada beberapa etika bertamu berdasar pandangan Islam, di antaranya:

1. Niat Bertamu

Bertamu yang baik mesti Disokong dengan niat dan target yang baik, misalnya untuk memperkuat silaturahim, bukan didasari niat yang tidak baik untuk menggubah atau menghujat orang lain. Allah berfirman (QS Al-Hijr:51-54) yang artinya:

“Dan kabarkanlah ke mereka soal tamu-tamu Ibrahim; Tatkala mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salam”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu”; Mereka berkata: “Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami memberi berita gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan jadi) orang yang alim”; Berkata Ibrahim: “Apakah engkau memberi berita gembira kepadaku padahal usiaku sudah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang engkau kabarkan ini?”

Dari ayat-ayat tersebut bahwa sebaik-baik tamu ialah yang membawa berita gembira dan memberikan kebaikan ke yang ditamui.

2. Berpakain rapi dan pantas 

Tatkala bertamu selaku wujud menghargai tuan rumah, kita mesti menggunakan pakaian yang bersih, rapi, dan pantas. Kita tidak boleh asal-asalan, kita mesti menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Allah swt berfirman dalam QS Al-A’raaf:26, yang artinya “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami sudah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang seperti ini itu ialah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka senantiasa ingat.

READ
Tukang Becak Menangis Saksikan Karomah Wali Jadzab Habib Bakar Gresik

Bahwa berpakaian dalam bertamu, tidak cukup dengan bersih, rapi, dan pantas, akan tetapi yang jauh lebih penting ialah memenuhi persyaratan taqwa, seberapa pakaian dibenarkan secara syar’iyyah, yang dapat menutupi aurat, sehingga dapat terjaga nama baik dirinya dan terjauh kan dari fitnah.

3. Waktu Bertamu

Waktu-waktu yang tidak pas untuk juga secara eksplisit diingatkan oleh Allah swt pada WS An Nur:58, yang artinya yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (laki-laki dan perempuan) yang engkau miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara engkau, meminta izin ke engkau 3 kali (dalam 1 hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, saat engkau menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’…”.

Kenapa kita kurang baik bertamu di 3 waktu penting itu, sebab pada waktu itu biasanya tuan rumah tengah berdzikir dan baca Al-Quran, tengah istirahat atau bekerja atau tengah berkumpul dengan Famili. Tetapi dalam prakteknya semuanya kembali ke Komitmen, selain mesti ada kontak dulu sebelum bertamu dan kendali lama bertamu.

4. Meminta Ijin

Meminta ijin dalam bertamu dapat ditunaikan dengan beberapa cara, ialah dengan mengetuk pintu, bunyikan bel maupun memberi salam ke tuan rumah. Allah swt berfirman dalam QS An-Nur: 27 yang artinya berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau masuk rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam ke penghuninya. Yang seperti ini itu lebih baik bagimu, agar engkau (senantiasa) ingat.”

READ
Ketua LBM PWNU DIY: Ada Kekhilafan dalam Memahami Zona Covid-19

Lantas Rasulullah saw menambahkan perihal meminta ijin untuk bertamu melalui haditsnya yang artinya:

”Apabila seorang bertamu lalu minta izin (mengetuk pintu atau mengucapkan salam) sampai 3 kali dan tidak dijumpai (tidak dibukakan pintu), maka hendaklah dia pulang.” (HR Bukhari).

Ini menandakan betapa penting meminta ijin dalam bertamu. Tidak boleh melalaikan. Walau kita mengetahui tuan rumah dari luar, apakah menyaksikan di balik kaca atau menguping suara dari dalam rumah dan kita telah lakukan ketuk pintu, bunyikan bel, atau ucapkan salam yang akhirnya juga tidak ada respon, maka kita mesti bersikap ikhlas membatalkan untuk bertamu. Langkah ini jauh lebih baik dan terhormat.

5. Bersalaman

Peluang ke-1 yang Penting ditunaikan dalam bertamu ialah mengucapkan salam. Seterusnya kita bersalaman atau berjabat tangan dengan tuan rumah yang sesama wanita atau sesama laki-laki untuk memperlihatkan hormat dan mempererat tali silaturahmi. Hal ini sesuai dengan anjuran Nabi saw dalam sebuah hadis yang artinya:

“Tidaklah 2 orang muslim saling berjumpa lalu berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Bersalaman Penting ditunaikan dengan sikap yang baik, menghormati, bersikap sayang, tidak memalingkan muka, dan mencium tangan bagi orangtua, bagi guru/ustadz sebaga wujud penghargaan, penghormatan dan sikap kasih sayang. Untuk mencium tangan ini sungguh masih pro dan kontra, sebab hal ini terkesan lebih terkait dengan tradisi.

6. Batas Waktu Bertamu

Batas waktu berjumpa Penting memperoleh perhatian. Bertamu tidak boleh membebani tuan rumah. Seperlu apapun kita dalam bertamu Penting ditunaikan secepatnya, kalau Penting telah selesai hajatnya, sebaiknya mohon diri. Kalau terpaksa sekali dalam bertamu cukup 3 hari. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

READ
Berita Gembira, 4 Pasien COVID-19 di Semarang Dinyatakan Sembuh

“Masa bertamu ialah 3 hari dan sesudah itu sedekah tidak halal bagi si tamu tinggal lebih lama, sehingga menyakiti hati tuan rumah”. (HR Baihaqi).

Pembatasan bertamu ini diinginkan dapat memberikan kebaikan bagi seluruh untuk seterusnya. Boleh jadi kalau diberikan waktu yang lebih bahkan menimbulkan banyak madharatnya. Tuan rumah dapat terganggu kehidupan dan agenda sehari-harinya sebab terpaksa mesti melayani tamu.

Sedemikian beberapa hal yang terkait dalam bertamu. Di dunia Barat bertamu ke rumah itu nyaris jarang terjadi, sebab hidupnya lebih individual atau keadaan rumah khususnya di tempat pada tidak tersedia ruang tamu, sehingga untuk bersilaturahmi atau bertamu cukup berjumpa di resto atau cafe. Bahkan di Indonesia pun kebiasaan bertamu pun telah berkurang, khususnya yang tinggal di perumahan. Kalau ada Penting ya cukup berjumpa di kantor, di rumah ibadah (masjid/mushalla), di restoran, atau di tempat lain.

Dimana pun kita bertamu, selaku ummat beragama sungguh Penting memperhatikan etika bertamu, sehingga silaturahim tetap terjaga.

Pontianak, 15/06/2019, Sabtu, pukul 06.10

Penulis: Prof Rochmat Wahab, Universitas Negeri Yogyakarta.


Etika Bertamu dalam Pandangan Prof Rochmat Wahab

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *