1585135499
1585135499

Gambaran Beratnya Sakaratul Maut

Diposting pada 39 views

Gambaran Beratnya Sakaratul Maut

Kematian ialah kejadian berpisahnya ruh dari jasad. Dan itu tidak terjadi kecuali disertai mabuk dan rasa nyeri yang teramat amat. Bahkan, ia jadi rasa nyeri paling nyeri yang menimpa seorang hamba di dunia. Mabuk dan rasa nyeri itulah lantas disebut dengan sakaratul maut. Tidak heran sakaratul maut jadi sesuatu yang ditakuti dan dijauhi tiap-tiap makhluk yang bernyawa, sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an, Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang engkau senantiasa lari darinya, (QS Qaf [50]: 19).

 

Banyak ayat dan hadits yang menggambarkan betapa beratnya sakaratul maut, khususnya yang dialami oleh hamba-hamba zalim dan ahli maksiat. Di antaranya ialah ayat berikut, “Alangkah dahsyatnya sekiranya engkau menyaksikan di waktu orang-orang zalim Ada dalam intimidasi sakratul maut, sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (seraya berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini engkau dibalas dengan siksa yang amat menghinakan, sebab engkau senantiasa menjelaskan kepada Allah (perkataan) yang tidak benar dan (sebab) engkau senantiasa menyombongkan diri kepada ayat-ayat-Nya, (QS Al-An‘am [6]: 93).

 

Beratnya kematian juga tergambar dari perbincangan singkat antara Sayidina ‘Umar ibn Al-Khathab dengan Ka‘b. Laki-laki yang tengah menjabat selaku khalifah ke-2 itu menanyakan, “Wahai Ka‘b, sampaikanlah kepadaku mengenai hal maut.” Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, maut itu seperti sebuah pohon yang banyak durinya dimasukkan ke dalam perut ibnu Adam. Tiap-tiap duri memegang 1 urat darinya. Lalu ditarik sekaligus oleh seorang laki-laki yang amat kuat. Maka terputuslah seluruh urat yang menyangkut pada duri. Tertinggallah urat-urat yang tersisa.”

 

Lalu, waktu berhadapan dengan sakaratul maut ‘Amr ibn Al-‘Ash pernah ditanya oleh putranya mengenai hal gambaran kematian. Ia menjawab, “Untuk Allah, 2 sisi tubuhku seakan-akan Ada dalam himpitan. Napasku seakan-akan keluar dari lubang jarum. Dan sebuah dahan berduri ditarik sekaligus dari ujung telapak kaki sampai ujung kepalaku.”

 

READ
Mesti Optimistis Covid-19 Dapat Dikalahkan

Bahkan, beratnya kematian juga dinikmati oleh para nabi. Cuma saja menurut Al-Qurthubi, bagi mereka beratnya kematian mempunyai 2 keuntungan. Keuntungan ke-1 ialah menyempurnakan keutamaan mereka dan mengangkat derajat mereka. Dan beratnya kematian mereka bukan artinya sebuah kekurangan atau celaan. Karena, manusia yang paling berat ujiannya ialah para nabi, lantas orang-orang di bawah mereka. Keuntungan ke-2 ialah memberi tahu makhluk atau ummat akan beratnya kematian. Mereka mungkin mengira bahwa kematian itu ringan. Tetapi, kalau beratnya kematian disampaikan oleh para nabi, mereka sendiri merasakannya, padahal mereka ialah orang-orang mulia di sisi Allah, barulah ummat akan memahaminya. Cuma saja kematian para nabi dan umatnya ada perbedaan. Kematian para nabi tidak terjadi sebelum diberikan tawaran atau pilihan. (Lihat: Jami‘ al-‘Ulum wal-Hikam, jilid 38, hal. 32).

 

Konon, pada zaman dahulu ada sekelompok bani Israil yang mendatangi komplek pemakaman. Sebab ingin mengetahui bagaimana rasanya kematian, mereka lantas shalat 2 rakaat dan berdoa untuk Allah agar ada seorang meninggal yang dihidupkan di tengah mereka, sehingga mereka dapat bertanya-tanya mengenai hal kematian. Allah pun mengabulkan doa mereka. Tidak lama muncul seorang laki-laki dari sebuah kuburan. Tetapi yang keluar cuma kepalanya. Di antara ke-2 kepalanya Ada bekas sujud. Pertanda laki-laki itu seorang ahli ibadah. Ia pun menanyakan, “Wahai orang-orang, apa yang Anda semua inginkan dariku? Sungguh, saya sudah meninggal seratus tahun yang lalu. Dan sampai Saat ini panasnya kematian masih saja terasa dan belum hilang.” Sedemikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdu ibn Humaid dari Jabir ibn ‘Abdullah.

 

 

Kendati seperti ini, ada sebuah berita gembira bagi orang-orang mukmin. Karena, kematian mereka disaksikan dan disambut para malaikat yang bersiap akan membawa ruhnya dalam secarik kain sutera dari surga yang berisi minyak misik paling wangi. Kecuali itu, sakaratul maut pun terasa seperti ditariknya sehelai rambut dari adonan tepung atau seperti air yang mengalir dari mulut geriba. Sedemikian seperti yang digambarkan dalam riwayat Abu Hurairah. Di dalamnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita:

 

READ
NU Itu Tahu Kapan Wajib Berpolitik dan Kapan Wajib Diam

Tatkala seorang hamba telah ajalnya, ia akan didatangi para malaikat dari langit. Mereka Hadir dalam rupa the best dan akan menduduki sebuah tempat tertentu, sambil mengenakan pakaian yang the best pula. Muka mereka putih berseri-seri, seakan-akan mentari yang tengah bersinar. Di tangan mereka Ada kain kafan dari surga untuk membungkus ruh sang hamba, komprehensif dengan minyak wanginya yang akan mengharumkan ruh sang sang hamba. Tampak kelihatan mereka duduk sejauh pandangan mata. Bahkan, sebagian orang saleh dapat menceritakan kejadian yang disaksikannya itu, sementara orang-orang di kisaran mereka sama sekali tidak menyaksikan apa-apa.

 

Tidak lama berselang, datanglah malaikat maut dan duduk dekat kepala sang hamba. Dia berkata untuk ruh si hamba:

 

يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً مَرْضِيَّةً

 

“Wahai jiwa yang tenang…. Keluarlah untuk Tuhanmu dalam kondisi rida dan diridai, (QS al-Fajr [89]: 27-28).

 

Ruh pun tidak dapat menunda perintah itu. Ia perlahan mengalir keluar dari jasad seperti keluarnya air yang bersih dan jernih dari mulut geriba air. (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Al-Qishash al-Ghaib fi Shahih al-Hadits al-Nabawi, [Oman: Daru al-Nafa’is], 2007, cet. ke-1, hal. 224).

 

Tetapi, seringan-ringannya sakaratul maut bagi seorang mukmin tetap dinikmati cukup berat. Hal itu tampak dari cucuran keringat di keningnya. Sedemikian seperti yang diungkapan dalam riwayat At-Tirmidzi dari Buraidah. Rasulullah saw. mengumumkan:

 

الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

 

“Orang mukmin itu meninggal dengan keringat di keningnya.

 

Keringat tersebut Adalah ungkapan dari beratnya kematian. Ada pula yang menjelaskan selaku tanda baik kematiannya. Sementara Ibnu Malik menjelaskan, “Bagi seorang mukmin pun, kematian itu tetap terasa berat, sehingga ia berkeringat di keningnya untuk membersihkan dosa-dosanya atau menambah tinggi derajatnya.” Hal ini ditegaskan dalam hadits yang lain, riwayat ‘Alqamah, di mana Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya nyawa seorang mukmin keluar seraya berkeringat. Dan saya tidak menyukai kematian seperti kematian himar.” Waktu ditanyakan, seperti apa kematian himar. Beliau menjawab, “Yaitu kematian mengejutkan,” (HR At-Tirmidzi).

 

READ
Pesantren Al-mujaddadiyyah Kota Madiun

Maka selayaknya tiap-tiap mukmin mempersiapkan kematian dan sakaratul maut, di samping mempersiapkan kehidupan abadi pasca kematian. Karena, tidak ada yang sanggup menunda dan memajukan kematian walau cuma sesaat. Haruskah persiapan itu menanti nyawa sampai di kerongkongan? “Maka mengapa tatkala nyawa sampai di kerongkongan, padahal engkau tatkala itu menyaksikan, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada engkau, tetapi engkau tidak menyaksikan,” (QS Al-Waqi‘ah [56]: 83-85).

 

 

Adakah yang sanggup menyembuhkan sesudah napas terakhir telah Ada di kerongkongan? Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) sudah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang dapat menyembuhkan?” (QS Al-Qiyamah [75]: 26-27).

 

Demikianlah gambaran beratnya kematian dan sakaratul maut. Dan itu akan dialami oleh tiap-tiap yang bernyawa. Semoga saja kita diwarisi kematian husnul khatimah dan diberi keringanan dalam sakaratul maut. Amin ya mujibas sailin. Wallahu ‘alam.

 

 

Penulis: M. Tatam

Editor: Mahbib

 

Gambaran Beratnya Sakaratul Maut
Sumber: NU-Online

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *