Gerakan Anti-Feminisme yang Salah Kaprah, Padahal Rasulullah Pelopor Feminisme

Gerakan Anti-Feminisme yang Salah Kaprah, Padahal Rasulullah Pelopor Feminisme

Gerakan Anti-Feminisme yang Salah Kaprah, Padahal Rasulullah Pelopor Feminisme

Apa sih yang membikin Gerakan Anti-Feminisme malah salah kaprah? Nah, seiring berkembangnya kesadaran feminisme di Indonesia, bangkit pula gerakan anti-feminisme di kalangan muslim konservatif yang beranggapan bahwa Islam telah komprehensif, tidak dibutuhkan faham baru, apalagi dari Barat. Wanita telah dimuliakan oleh Allah tidak Penting diangkat derajatnya oleh feminis. Bukan cuma dari kalangan muslim, feminisme ini sungguh masih banyak disalahfahami, bahkan di Barat sana.

Feminisme ialah sebuah gerakan yang fokus ke kesetaraan gender dalam bidang sosial, politik dan ekonomi. Feminisme bukan gagasan murni yang muncul dari Barat, tetapi sungguh istilah feminism populer semenjak aksi feminis ke-1 tahun 1920 yang memperjuangkan hak memilih dalam pemilihan umum, yang lantas juga fokus dengan isu-isu lain seperti hak kepemilikan properti, Pendidikan, seksualitas dan sebagainya.

Gerakan  feminisme ini juga bukan di barat saja, semenjak lama di bermacam belahan dunia telah banyak yang memperjuangkan kesetraan gender sesuai dengan kondisi kultur masing-masing. Yang lagi populer misalnya di Saudi Arabia, di zaman yang telah modern begini, wanita baru saja diberikan hak memilih dan menyetir mobil, sebelumnya di sana ada mitos bahwa menyetir dapat membikin wanita jadi mandul, yang menabrak diganjar bui.

Sementara itu, apakah gagasan feminisme bertentangan dengan Islam? Sebab dalam Islam telah terang tidak ada yang namanya kesetaraan gender, laki-laki lebih mulia bukan? Sebelum menyimpulkan, kita mesti kilas balik ke zaman Rasulullah Sawhidup dan mengingat kembali apa-apa yang beliau lakukan untuk memperjuangkan hak wanita.

Ke-1, yang paling parah, praktek tindakan mematikan bayi wanita yang baru lahir ialah hal umum di kalangan arab jahiliyah, Umar bin Khottob termasuk yang pernah melakukannya sebelum beliau memeluk islam. Lantas praktik ini diharamkan dalam Islam.

وَيَجعَلونَ لِلَّهِ البَناتِ سُبحانَهُ ۙ وَلَهُم ما يَشتَهونَ

وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالأُنثىٰ ظَلَّ وَجهُهُ مُسوَدًّا وَهُوَ كَظيمٌ

يَتَوارىٰ مِنَ القَومِ مِن سوءِ ما بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمسِكُهُ عَلىٰ هونٍ أَم يَدُسُّهُ فِي التُّرابِ ۗ أَلا ساءَ ما يَحكُمونَ

“Dan mereka (Arab jahiliyyah) menetapkan bagi Allah bocah kecil wanita . Maha Suci Allah, tengah untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu bocah kecil laki-laki). (Mereka menjelaskan bahwa Allah mempunyai anak wanita yaitu malaikat-malaikat sebab mereka amat benci ke bocah kecil wanita). Dan apabila seseorang dari mereka diberi berita kelahiran anak wanita, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia amat marah.  Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, dikarenakan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. “ (QS Al-Ahzab : 57-59)

Ke-2, sebelumnya dalam perkawinan, wanita tidak boleh memilih calonnya sendiri, dan mas kawin sepenuhnya jatuh ke tangan sang ayah. Hal ini lantas diatur oleh Nabi bahwa wanita boleh Tidak mau perjodohan, mempunyai hak full atas mahar, dan boleh menginisiasi pengajuan perceraian.

Ketiga, dalam kepemilikan dan harta warisan, wanita berhak mempunyai harta sendiri dan mempunyai bisnis (sebelumnya hal ini privilej bagi wanita klan bangsawan saja). Kecuali itu juga mempunyai hak waris dari orangtua dan suami yang mana sebelumnya tidak ada warisan bagi wanita.

Pada zaman Nabi, wanita bebas berkontribusi untuk masarakat terbukti dari banyaknya para perawi hadis wanita dalam manuskrip hadis yang sayangnya  jadi kian sedikit di generasi-generasi lantas seiring dengan banyaknya fatwa misoginis dan hadis-hadis palsu yang mendiskriminasi wanita.

Feminisme itu bukan soal status siapa lebih mulia, apalagi soal kemuliaan di mata Tuhan. Bukan juga soal ingin melampaui laki-laki. tapi soal memperoleh Peluang dan penghargaan yang sama di dalam masarakat. Ummu Salamah istri Rasulullah Sawyang terkenal kritis dan bijaksana, pada suatu haribertanya ke Nabi “Wahai rasul, saya tidak menguping Allah menyebut perempuan dalam hijrah”, lantas turun ayat,

فَاستَجابَ لَهُم رَبُّهُم أَنّي لا أُضيعُ عَمَلَ عامِلٍ مِنكُم مِن ذَكَرٍ أَو أُنثىٰ ۖ بَعضُكُم مِن بَعضٍ ۖ فَالَّذينَ هاجَروا وَأُخرِجوا مِن دِيارِهِم وَأوذوا في سَبيلي وَقاتَلوا وَقُتِلوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنهُم سَيِّئَاتِهِم وَلَأُدخِلَنَّهُم جَنّاتٍ تَجري مِن تَحتِهَا الأَنهارُ ثَوابًا مِن عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسنُ الثَّوابِ

“Maka Tuhan memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Saya tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kau, baik laki-laki atau wanita, (sebab) sebagian kau ialah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Saya masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, selaku pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”  (QS Ali Imron: 195)

Di lain Peluang, Ummu salamah juga menanyakan “Ya Rasulullah, Anda semua para laki-laki disebut di Al-Qur’an, tapi kita para perempuan tidak disebut”, yang mana pertanyaan Ummu Salamah ini jadi karena turunnya ayat berikut,

إِنَّ المُسلِمينَ وَالمُسلِماتِ وَالمُؤمِنينَ وَالمُؤمِناتِ وَالقانِتينَ وَالقانِتاتِ وَالصّادِقينَ وَالصّادِقاتِ وَالصّابِرينَ وَالصّابِراتِ وَالخاشِعينَ وَالخاشِعاتِ وَالمُتَصَدِّقينَ وَالمُتَصَدِّقاتِ وَالصّائِمينَ وَالصّائِماتِ وَالحافِظينَ فُروجَهُم وَالحافِظاتِ وَالذّاكِرينَ اللَّهَ كَثيرًا وَالذّاكِراتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَغفِرَةً وَأَجرًا عَظيمًا

”Sesungguhnya laki-laki dan wanita yang muslim, laki-laki dan wanita yang beriman, laki-laki dan wanita yang patuh, laki-laki dan wanita yang jujur, laki-laki dan wanita yang sabar, laki-laki dan wanita yang khusyu’, laki-laki dan wanita yang bersedekah, laki-laki dan wanita yang berpuasa, laki-laki dan wanita yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan wanita yang banyak menyebut nama Allah, Allah sudah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Wallahu a’lam bis shawab

Disadur dari Kumaila Hakimah via islami.co

Gerakan Anti-Feminisme yang Salah Kaprah, Padahal Rasulullah Pelopor Feminisme

Gerakan Anti-Feminisme yang Salah Kaprah, Padahal Rasulullah Pelopor Feminisme by A. Zain

You might like

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *