Kategori
Islami

Gus Baha: Anjing Itu Tidak Najis di Periode Awal Islam

Gus Baha: Anjing Itu Tidak Najis di Periode Awal Islam » Warta Batavia


Beredar video memilukan penghalauan anjing oleh aparat untuk wilayah wisata halal di Aceh jadi viral. Momen itu memicu kemarahan publik sebab dianggap brutal.

Kejadian itu terjadi di wilayah wisata Kecamatan Pulau Banyak, Aceh jadi viral. Video jadi viral sesudah dishare oleh akun Twitter @gregorius.

“Inilah yang akan terjadi di wilayah wisata halal! Awalnya haewan, lama-lama orangpun akan di usir paksa! Awalnya cuma wilayah, lama-lama jadi NKRI bersyariah! *kronologis di submit berikutnya,” tulis akun ini seperti dilansir dari Suara.com, Jumat (22/10/2021).

Dalam video, sejumlah aparat keamanan dan masyarakat tengah berkerumun di mengelilingi seekor anjing hitam. Aparat itu rupanya berusaha menangkap paksa anjing tersebut.

Leher anjing hitam itu tampak diikat dengan tali ke tanah. Akan tetapi, aparat tersebut sama sekali tidak melepas ikatan dan membawa anjing itu berangkat.

Lalu apakah benar anjing ialah haewan najis. Gus Baha, kyai kharismatik asal Rembang, memaparkan Soal hukum haewan anjing.

Menurut Gus Baha, di seluruh periode Islam anjing dinilai bukan najis. “Semenjak dulu itu ga asing, orang memuji anjingnya Ashabul Kahfi. Tidak pernah ada problem dengan anjing.

Sampai periode sahabat tabiin. Rata-rata sahabat ya punya anjing,” ucap Gus Baha dilansir dari YouTube Kajian Pintar Official berjudul “Ngaji Gus Baha – Disemua Periode, Anjing itu TIDAK NAJIS, Kok Sekarang Jadi Najis Gus???”.

Bahkan, kata Gus Baha, sahabat yang merawat 100 kambing akan memberikan 1 kambingnya ke anjing selaku hadiah sebab sudah menjaganya dari serigala.

Gus Baha menjelaskan, Alquran mengistilahkan anjing di dalam surat Al Maidah ayat 4. “wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna”.

Arti dari surat itu ialah “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh hewan buas yang sudah engkau ajar dengan melatih nya untuk berburu”

Menurut Gus Baha, haewan pemburu yang dimaksud disitu ialah haewan seperti anjing. “Sahabat dulu jika ingin mndapatkan kijang atau memperoleh buruan, anjing diajari untuk mengejar kijang,” ujarnya.

Gus Baha menceritakan, menurut fikih, haewan halal ada 2. Ke-1 haewan yang disembelih secara syar’i yang ke-2 yang mati sebab diburu atau terkena panah.

“Misalkan ada kijang lari Anda semua panah itu halal tanpa disembelih. pernah menguping atau belum hukum seperti itu? Atau diburu. Diburu haewan yang telah dilatih. Itu yang halal tanpa wajib disembelih. Standarnya sungguh seperti itu,” ucapnya.

BACA JUGA :   Giring Ganesha Kunjungi Penduduk Korban Keracunan Makanan

“Makanya saat nabi ditanya haewan yang halal itu apa saja? yaitu yang disembelih dan yang dicengkram oleh pemburu yang telah dilatih,” lanjutnya.

Menurut Gus Baha, Alquran itu secara sirri mencontohkan dengan anjing. “wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna. Haewan-hewan yang terlatihnya seperti anjing.” ucapnya.

Gus Baha menjelaskan, anjing jadi najis di periode Syafiiyah bukan di masa Imam Syafii. Sebab saat Imam Syafii hidup, masih banyak orang memelihara anjing.

“Saat periode Syafi’iyah dan kebetulan mahzab di Indonesia Syafi’i yang paling dominan di Indonesia, kemudian orang mengira anjing itu najis. Konsekuensi dari dikira najis maka anjing diburu dijauhi dibenci. Zaman saya kecil menghabisi anjing itu seperti ibadah,” gamblang Gus Baha.

Ia lalu menerangkan posisi anjing dalam konteks Indonesia. Menurut dia, masih ada anggapan kalau ada desa yang ada anjingnya artinya abangan, jika tidak ada anjing daerah santri.

“Jadi menghabisi anjing ibadah. Namun di waktu yang sama, santri mengakui jika hewannya ashabul kahfi itu anjing. Juga mengakui jika haewan paling pintar itu anjing. apalagi intelijen, kepolisian, badan narkoba tetap mengakui bahwa haewan yang paling mudah diajari ialah anjing,” ujarnya.

Menurut Gus Baha itu gamblang membuktikan ilmiahnya Alquran. Sebab Alquran sendiri mengakui haewan terpelajar contohnya apa wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna.

“Mahzab Syafi’iyah menganggap anjing itu najis, kita lupa keistimewaan anjing. Padahal itu tidak bertentangan. Jika anjing sungguh dinilai pintar, jika itu dikatakan najis biar tidak engkau potong dan dijadikan ternak. Bahkan barang istimewa itu tidak Penting dibunuh. Sebab istimewa. Jika anjing engkau samakan dengan ayam nanti disate terus cepat habis,” kata Gus Baha.

Bagian ulama yang menafsiri bahwa haewan pemburu dalam surat Al Maidah ayat 4 itu anjing ialah Imam Suyuthi Imam Suythi bermahzab Syafii tapi dalam hal seperti ini, kata Gus Baha, ia bebas bermahzab. “Makanya beliau menafsiri ail khawasib minal kilab. khilm itu jamaknya kalbun ya anjing itu,” ujarnya.

Gus Baha lalu membacakan teks asli hadis Nabi Muhammad SAW yang ditafsiri selaku najis. Teks asli hadis nabi SAW itu berbunyi “Jika anjing itu menjilat diantara wadah engkau maka basuhlah tujuh kali”.

“Jadi nabi mengistilahkan ada wadah, ada yang menjilat. Nah yang membikin itu jadi ekstrem ada istilah menjilat. Wadah itu dapat wadah minum atau wadah bersuci,” kata Gus Baha.

BACA JUGA :   Ingin Umroh di Musim Ini? Berikut 4 Jenis Vaksin yang Diakui Arab Saudi

Menurut Gus Baha, Imam Malik menjelaskan nyuruh membasuh itu tidak senantiasa najis. Barang kotor yang bukan termasuk najis juga disuruh membasuh.

“Kalau anda punya baju kotor walaupun tidak najis juga disuruh membasuh. Telah gitu ditambah wadah. Wadah itu sungguh barang spesial. Yang namanya jok tidak Penting dicuci, tapi jika gelas yang tetap wajib dicuci. sebab kaitannya dengan kesehatan. Makanya Imam Malik tetap ngotot bahwa anjing itu tidak najis sama sekali,” jelasnya.

“Masalah dibasuh tujuh kali, sungguh nabi menyuruh membasuh tujuh kali, tapi tidak ada konsekuensi itu jadi vonis najis. sebab secara logika ijtihad istilahnya nabi itu wadah dan menjilat. apalagi jika Anda semua menguasai ilmu medis. Efek yang ditimbulkan cuma sekadar memegang dengan efek menjilat itu bedanya jauh.

Makanya Imam Malik mengambil keputusan tidak ada kaitannya dengan najis,” tambahnya lagi.

Ini tak sama dengan Imam Syafii. Imam Syaffi berpandangan bukan cuma menjilat, memegang saja najis. Ditambah lagi adanya hadis nabi SAW Soal malaikat tidak akan masuk ke rumah Anda semua yang ada anjing.

Akhirnya orang yang dirumahnya ada anjing dinilai tidak barokah. Kata Gus Baha, ulama menafisiri yang dimaksud malaikat di hadis nabi SAW itu ialah malaikat rahmat. Sementara jika malaikat azab, malaikat maut dapat masuk lancar.

“Ulama sufi protes. tidak ada orang yang tidak memperoleh rahmat ada anjingnya atau tidak ada anjingnya. Apakah kalau ada anjingnya kemudian tidak ada rahmat Allah? Ya tetap ada kan jawabannya. Nyatanya orang yang punya anjing tetap dapat makan. artinya memperoleh rahmat,” cerita Gus Baha.

Akhirnya, kata dia, ulama-ulama sufi menafsiri hadis nabi SAW itu bahasa kinayah. “Jadi nabi SAW bersabda seperti itu kinayah. Malaikat itu tidak masuk hati dimana hati itu ada psychological pemabuk dan ingin barangnya orang lain. Ulama sufi menafsiri yang dimaksud anjjing disitu ialah tamak. Orang ISlam hatinya tidak akan ditempati malaikat kalau hatinya punya psychological tamak,” kata Gus Baha.

Menurut dia, apapun perbedaan ulama, Alquran itu lebih jujur lebih objektif bahwa anjing itu haewan yang mudah dilatih.

(Warta Batavia)


Gus Baha: Anjing Itu Tidak Najis di Periode Awal Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *