Gus Baha dan Pesan Agar Tidak Mudah Kagetan

Breaking News 67

Gus Baha dan Pesan Agar Tidak Mudah Kagetan

Kita wajib mengakui kalau bareng Gus Baha membikin hati ini teduh. Ini perjalanan ke-2 di ndalem beliau. Turut di tengah2 pengajiannya.

Siapa yang sekarang tidak mengenalnya. Nama KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) jadi nama yg cukup “dicari” di ranah digital akhir2 ini. Selaku ulama kharismatik, beliau menawarkan konsep tidak kaku dan tidak kagetan dalam beragama.

Kehadiran Gus Baha — melalui konten2 YouTube — serupa beledek bagi Agamawan kiwari yg cethek dan kagetan dalam memahami agama. Gus Baha, jadi oase di tengah fenomena simbolisasi beragama yg kian membabi-buta.

Selaku ulama muda dengan kemampuan ilmu mumpuni sekaligus mempunyai kedalaman ilmu tafsir, sesungguhnya mudah bagi Gus Baha untuk jadi populer. Namun, Gus Baha malah amat menjauhi sorotan popularitas.

Di situlah keistimewaan Gus Baha, di waktu banyak publik figur dengan keilmuan agama standard kian memompa popularitas, Gus Baha yg punya ilmu di atas rata2 malah Mundur dari sorot panggung. Beliau sederhana. Dan tidak neko2.

walaupun namanya kian sering muncul di bermacam quote2 bergambar, kesederhanaan dan kezuhudan Gus Baha seakan tidak pernah bergeser. Beliau tidak mencari panggung dan tetap Istiqomah mengasuh pondok pesantren di Narukan, Kragan, Kabupaten Rembang.

Dalam rutinan ngaji Tafsir Jalalain yg Dilakukan 2 Rabu sekali di pondok pesantren yg beliau asuh, Gus Baha tidak cuma membicarakan apa yg ada di dalam kitab. Akan tetapi, sering memberi pesan2 penting pada para santri yang datang.

“Iki penting, ileng2 ya, Iki penting,” kata beliau mengawali sebuah pesan pada para santri yg Hadir tidak cuma dari Rembang, tapi juga Tuban dan Bojonegoro, dll. “Jangan Tidak mau seseorang yang ingin mencari hidayah,” tegas Gus Baha.

Di era kapitalisasi pendidikan, banyak pondok atau sekolahan yg Tidak mau santri cuma sebab label negatif yg pernah disandang siswa, untuk menjaga nama baik sekolah. Menurut Gus Baha, itu fenomena yg amat dilematis bagi pengelola sekolah.

Karena, kalau ditolak tidak baik. Namun, kalau diterima, takut nulari virus negatif ke murid lainnya. walaupun begitu, Gus Baha menganjurkan agar tidak menolaknya secara sia2. Kalaupun ditolak, wajib ada jalan keluar.

Misalnya, dicarikan pondok yg sesuai. Intinya, jangan sampai Tidak mau begitu saja. Sebab Tidak mau secara sia2 tanpa mencarikan jalan keluar, serupa Tidak mau seorang yg ingin mencari hidayah. Sehingga, jika dapat, wajib tetap memberikan jalan keluar. Setidaknya, mencarikan tempat yg sesuai.

Kecuali itu, Gus Baha juga bercerita bahwa tidak selamanya keburukan itu negatif. Ada hal2 di balik keburukan yg kadang mata manusia tidak memahaminya secara terang.

Secara umum, Gus Baha berpesan bahwa segala yg waktu ini tampak negatif, bukan artinya akan negatif selamanya. Ada kemungkinan Pergantian pada tiap manusia. Mereka yang waktu ini tampak negatif, dapat jadi, cuma proses ke sesuatu yg baik.

“Banyak cerita mengenai hal wali (dalam kitab Tobaqot Auliya) yg awalnya terkesan negatif, tapi sesungguhnya tidak.” Kata beliau.

Gus Baha bahkan menceritakan mengenai hal khasanah wali. Dulu, kata Gus Baha, ada seseorang yg diangkat jadi wali cuma sebab suka berbelanja arak. Seseorang yg menghabiskan banyak uang untuk berbelanja arak. Dia berbelanja arak. Terus berbelanja arak.

Sampai dia yg awalnya kaya raya, uangnya habis dan usahanya bangkrut sebab terus-menerus dipakai untuk berbelanja arak. Akan tetapi, lantaran kelakuannya itu, si Fulan malah diangkat selaku wali.

Orang2 mengira kalau si Fulan pembeli arak ini ialah orang yg negatif dan ahli neraka. Karena, suka berbelanja arak. Namun, waktu meninggal dunia, yg menyalati malah para wali. Orang-orang kekasih Allah. Orang2 yg amat dekat dgn Allah.

Tidak ada yg tahu kalau Fulan pembeli arak ini berbelanja arak untuk sebuah misi keamanan. Dia punya niat yg tidak terbaca oleh orang lain. Arak yg dia beli tidak dikonsumsi. Si Fulan malah berbelanja arak untuk mengamankan desanya.

Si Fulan tidak mengizinkan ada arak beredar di desanya. Sebab itu, dia senantiasa berbelanja arak yg tampak di desa. Orang2 melihatnya selaku penadah arak. Padahal, sesudah dibeli, arak itu dibuang begitu saja. Sebab lelakon itu, si Fulan diangkat selaku wali.

Gus Baha juga bercerita mengenai hal sosok wali, Abdul Wahab Asy-Sya’roni. Suatu hari, Imam Sya’roni berjumpa seorang ahli fiqh yg mempergunakan celana pendek. Beliau dgn santai tengah bercakap-cakap dan bermain bola bareng warga.

Waktu pulang, di dalam hati, Imam Sya’roni membatin: “Ahli fiqh dan ulama kok pakai celana pendek”, begitu batinnya.

Di perjalanan, sebelum sampai rumah, ahli fiqh tersebut mendatangi Imam Sya’roni. Si ahli fiqh Ada di awang-awang (kakinya tidak menempel tanah) seraya berkata:

“He, cangkemu sing apik.” Ujar si ahli fiqh, “wong-wong iku gelem kumpule ya wayah dolanan, awakmu gelem ndakwahi to piye?”.

Imam Sya’roni pun langsung paham.

Gus Baha berpesan agar kita tidak kagetan. Sekaligus tidak mudah menghukumi. Khususnya dalam menyaksikan fenomena sosial di warga. Karena, perkara yang tampaknya negatif, dapat jadi sekadar wasilah ke kebaikan(suluk id)

Gus Baha dan Pesan Agar Tidak Mudah Kagetan

Gus Baha dan Pesan Agar Tidak Mudah Kagetan

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *