Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA DUNIA / [Gus Baha] Hindari Riba, Rahasia Muslim Jadi Kaya Raya

[Gus Baha] Hindari Riba, Rahasia Muslim Jadi Kaya Raya

/
/
/
39 Views

[Gus Baha] Hindari Riba, Rahasia Muslim Jadi Kaya Raya

KH Bahaudin Nur Salim  (Gus Baha’), dari Rembang, Jawa Tengah, mengklaim pernah berbelanja buku-buku ekonomi Islam sampai tidak terhitung, saking banyaknya. Yang dibeli rata-rata dari kitab berbahasa Arab, tapi beberapa di antaranya buku ekonomi Islam berbahasa Indonesia.

Maksud Inti pembelian cuma ingin mencari bukti bahwa jual beli dari kaca mata ekonomi itu lebih prospektif daripada riba. Jikalau Allah mencegah itu tidak sembarangan. Allah pasti bertanggung jawab atas larangannya dengan memberi jalan penyelesaian yang amat bagus. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275)

Jikalau ayat tersebut menerangkan jual beli selaku transaksi halal dan riba diharamkan, pasti dapat dibuktikan kebenarannya dengan argumentasi ilmiah, sehingga konstruksi firman Allah itu kokoh secara argumentatif. Terakhir kalinya, Gus Baha’—sedemikian ia biasa dipanggil— memperoleh respon atas teka-teki kehalalan jual beli dan keharaman riba bahkan tidak bersumber dari kitab ekonomi Islam, melainkan dari kitab Hilyatul Auliya’ pada bab “Fadhâili Abdurrahman ibn Auf” (keutamaan Abdurrahman ibn Auf).

“Ternyata, di antara fadhilah beliau (Abdurrahman bin Auf) jadi orang kaya raya, sebab tiap jual-beli itu cash (kontan). Nangis saya, sujud syukur, saya suka bukan main. Akhirnya, waktu mengaji saya jelaskan, orang sekarang baru sadar,” tandas Gus Baha’ dalam sebuah kajian agama.

Abdurrahman bin Auf termasuk orang paling kaya di Madinah. Apabila dia membawa kafilah dagangnya ke China, Madinah dapat “goncang”, saking banyaknya unta Abdurahman bin Auf. 1 waktu Abdurrahman ditanya, “Kenapa anda dapat sekaya ini?” Jawab Abdurrahman, “Saya tidak pernah dagang kecuali dengan cara cash (kontan)”.

Pernah suatu kali, kata Gus Baha’, Abdurrahman bin Auf berdagang unta. Labanya, kalau diuangkan rupiah Indonesia mungkin cuma untung Rp50 ribu dari harga dasar untanya Rp30 juta. Sebuah keuntungan yang tidak sebanding. Tapi sebab ia memegang prinsip cash, walaupun labanya cuma Rp50 ribu, waktu ada sahabat lain menanyakan, “Lho kok Anda tetap kaya?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Kau tahu yang saya jual? 500 unta. Artinya Rp50 ribu kali 500 ekor artinya saya untung Rp25 juta. Kuncinya ialah berdagang dengan cash. Abdurrahman tidak mau ada risiko uang dibawa orang lain sehingga uangnya senantiasa aman.

Logika argumentasi bahwa jual beli itu halal dan riba haram ialah selaku berikut:

(Misalnya) ada orang mempunyai uang Rp100 juta. Uang ini diutangkan ke Musthafa untuk dikembalikan selama setahun lalu dengan kewajiban membayar bunga tiap-tiap bulan Rp1 juta. Jikalau dihitung total, uang bunga Rp1 juta dikalikan 12 bulan jadi Rp 12 juta. Maka, uang Rp100 juta dalam setahun naik jadi Rp112 juta. Hasil ini berlaku kalau Musthafa tidak menyelamatkan diri, pailit, meninggal dunia atau kemungkinan lain.

Selaku perbandingan, sama-sama uang Rp100 juta dikembangkan dengan sistem jual beli yang secara nyata dihalalkan oleh Allah. Misalnya, dibelikan kambing dengan harga kulakan Rp2 juta. Jikalau modal Rp2 juta dengan margin untung 10 %, penjual akan meraup keuntungan Rp200 ribu pada tiap-tiap Rp2 juta nya. Artinya jika uang Rp100 juta, kemungkinan yang dapat diperoleh ialah Rp10 juta. Dari Rp10 juta tersebut diambil margin of error sebab tertipu dan lain sebagainya sebab dalam tahap latihan dipotong 50%, maka uang Rp100 juta laba bersihnya Rp5 juta tiap-tiap Minggu di pasar kambing yang dapat jadi dalam sebulan sebanyak 4 Minggu.

Dengan sedemikian, Rp5 juta dikalikan 4 Minggu, keuntungan sebulan telah dipotong risiko 50%, kemungkinan keuntungannya dapat Rp20 juta. Estimasi ini baru untuk 1 bulan, belum setahun. Apabila kalkulasi keuntungan uang Rp100 juta dengan riba selama setahun untungnya 12 juta, maka dengan jual beli dalam sebulan dapat memperoleh kemungkinan keuntungan bersih Rp20 juta. Belum Rp20 juta tersebut dikalikan setahun, pasti akan tak sama jauh. Ini bukti nyata bahwa jual beli yang dihalalkan oleh Allah amat berkemungkinan lebih banyak memperoleh keuntungan daripada riba yang diharamkan Allah.

Amat pas kalau Al-Quran mengharamkan riba dengan jual beli selaku solusinya. Secara matematis, jual beli amat tampak kemungkinan keuntungannya. Adapun kalau bicara risiko, jual beli ada kemungkinan bangkrut, orang hutang juga ada kemungkinan menyelamatkan diri, tidak membayar hutang dan lain sebagainya. Artinya, kalau Menyenggol risiko, seluruh ada risikonya. Namun kalau bicara kemungkinan, jual beli lebih prospektif dengan catatan seluruh penjualan-pembelian wajib cash, safety system. Dengan sedemikian, Allah punya nyali “menantang” konsep riba pasti akan kalah kalau dibandingkan jual beli dengan ayat di atas. Artinya Allah bertanggung jawab.

Argumentasi di atas namanya hujjatullah. Ummat Islam wajib membela agama Allah, tapi jangan cuma dengan mengancam bahwa riba mendatangkan dosa besar, tapi wajib solutif. Orang Islam tidak boleh bodoh. Riba itu sungguh salahnya besar, tapi kebodohan salahnya lebih besar. Jikalau ummat Islam bodoh-bodoh, negara dapat tutup, Islam juga dapat tutup. Dalam kitab an-Nashaih ad-Diniyyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad dijelaskan:

ومن شر انواع المعاصي الجهل

Artinya: “Di antara maksiyat yang paling negatif ialah bodoh.”

Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad pernah marah waktu orang saleh ditanya tidak dapat menjawab. “Kenapa riba dapat diharamkan? Bukankah riba dan jual beli ialah mirip: sama-sama mencari keuntungan dengan mencari selisih? “Innama al-bai’u mitslur-riba” (QS al-Baqarah: 275).

Kebodohan ummat Islam dapat menyebabkan keruntuhan peradaban Islam. Oleh sebab itu, maksiat yang paling negatif ialah kebodohan. Orang bodoh sulit terbuka hatinya (futuh) sebab masih senantiasa melakukan kemaksiatan berupa bodohnya itu sendiri. Padahal syarat futuh ialah patuh. Orang bodoh maksiat terus, sulit memperoleh futuh sebab membawa maksiat terus.

(Penulis: Ahmad Mundzir/bangkitmedia.com)

[Gus Baha] Hindari Riba, Rahasia Muslim Jadi Kaya Raya

[Gus Baha] Hindari Riba, Rahasia Muslim Menjadi Kaya Raya

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar