Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA DUNIA / Gus Baha, Ulama Alim yang Tampil Apa Adanya

Gus Baha, Ulama Alim yang Tampil Apa Adanya

/
/
/
22 Views

Gus Baha, Ulama Alim yang Tampil Apa Adanya

Beginilah penampakan khas Gus Baha’. Kopiah hitamnya ditarik agak ke belakang, berkemeja putih lengan panjang, di kantung baju selalu ada bolpen, dan senyum tersungging di wajahnya. Amat biasa. Sederhana.

Beberapa Sahabat pernah mengajak saya sowan ke beliau di Kragan, Rembang. Rumahnya tidak berlebihan jauh dari kampung saya. Tetapi saya belum pernah mau diajak sowan. Argumentasi saya sederhana. Gus Baha’ termasuk orang alim yang tidak berlebihan suka disowani.

“Anda semua itu tidak usah Hadir ke rumah saya. Malah ngrepoti. Saya jika di rumah, waktu saya untuk Famili dan santri. Jangan diganggu…”

Gus Baha’ senantiasa Menegaskan, beliau yang sowan ke murid-muridnya. Setidaknya saban bulan beliau mengajar di Yogya, Bojonegoro, dan Kudus. “Jikalau saya sowan ke Njenengan, itu juga selaku laku tawadu’. Karena masih ada guru yang sowan ke muridnya. Bagaimanapun, orang yang belajar itu mulia. Walaupun ya Anda semua ini entah paham entah tidak dengan apa yang saya ajarkan…” ujarnya diselingi candaan.

Saya malah penasaran dengan 2 sosok yang senantiasa disebutnya dalam saban mengajar. Semacam murid kinasih yang senantiasa digojloki. Nama mereka ialah Rukin dan Musthofa. Kayaknya sih mereka berdua orang Bantul.

Gus Baha’ pernah berpesan begini: “Jikalau Joko Widodo dan Prabowo ikhlas, mereka berdua dapat jadi wali. Sebab bagian jalur kewalian ialah dihina dan difitnah banyak orang. Engkau siap tidak, Kin, jadi wali lewat jalur ini?” Saya membayangkan muka Rukin memerah bangga.

Beberapa kali Gus Baha’ mengumumkan perbedaan pendapatnya dengan beberapa ulama, tapi tidak pernah dengan nada menghina. Dan tanpa menyebut nama. Beliau memaparkan pandangan ulama yang dimaksud, lalu dia mengumumkan pendapatnya. Dia tunjukkan di mana letak keberatannya.

“Saya itu tidak setuju dengan para ulama yang senantiasa mengumumkan jika ibadah kita itu belum tentu diterima oleh Allah. Logikanya tidak dapat seperti itu. Kita itu mau ibadah saja telah luarbiasa. Telah mesti bersyukur. Kok ya orang seperti kita, masih diberi rahmat untuk melaksanakan ibadah….” itu bagian contoh bagaimana beliau mengumumkan ketidaksetujuannya.

“Terus jika misalnya ibadah kita tidak diterima Allah lalu kita gak ibadah? Saya ini misalnya dikasih tahu malaikat jika nanti masuk neraka, apakah saya lalu tidak beribadah? Saya tetap akan beribadah…

“Maka itu, syukurilah sujud kita. Nikmatilah. Sujud seorang hamba ke Tuhannya itu amat mulia…”

Disadur dari Puthut Ea

Gus Baha, Ulama Alim yang Tampil Apa Adanya

Gus Baha, Ulama Alim yang Tampil Apa Adanya

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar