Gus Dur dan Perkataan “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu”
Gus Dur dan Perkataan “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu”

Gus Dur dan Perkataan “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu”

Diposting pada 13 views

Oleh: Nur Kholik Ridwan, Guru besar STAI Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Gus Dur berkata:

“Atas dasar cara berpikir beginilah diikuti kaidah fiqh (legal maxim) yang berbunyi: “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu”, yang artinya apa yang tidak mungkin terwujud seluruhnya, tidak boleh ditinggal yang terpenting di dalamnya.” (Gus Dur, “Pengantar” dalam Einar Martahan Sitompul, NU dan Pancasila (Yogyakarta: LKiS, 2010).

Perkataan ini ialah kaidah fiqh yang diambil dari hadits Nabi Muhammad shollallohu `alaihi wasallam, yang berbunyi: “Mâ nahaitukum `anhu fajtanibuhu wa ma amartukum bihi faf`alu minhu mastatho’tum, fa’innama ahlakal ladzîna min qoblikum katsrotu masâ’ilihim wa ikhtilafihim `alâ anbiyâ’ahim”. Hadits ini melalui jalan Abu Hurairah, dan redaksi diatas sebagaimana disebutkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dalam kitab al-Jâmi al-Kabîr atau Jam`ul Jawâmi, No. 1221/19717, jilid VIII: 167 (versi al-Azhar asy-Syarif, tahun 1426/2005).

Redaksi hadits di atas dalam riwayat Imam al-Bukhori mempergunakan kata: “Fa’idzâ nahaitukum `an sya’in fajtanibûhu wa idzâ amartukum fa’tû minhu mastatho’tum (dalam kitab al-I’tshôm bilkitab was Sunnah, hadits No. 7288).

Arti hadits di atas selaku berikut: “Apa-apa yang saya cegah darimu maka jauhilah, dan apa-apa yang saya perintahkan, maka lakukanlah semampumu, sesungguhnya yang membinasakan manusia sebelum engkau ialah banyak pertanyaan (yang tidak berguna) dan perselisihannya untuk Nabi mereka.” Dalam riwayat Imam Muslim, hadits ini ada di kitab al-Fadhô’il (hadis No. 130); dan dalam kitab Shahih al-Muslim secara keseluruhan, ada pada hadits No. 1337. Adapun dalam versi syarah Imam Muslim dari Ali al-Muttaqi, ada pada juz X: 507, kitab Takmilatu Fathil Mulhim, hadits ini diberi No. 6066.

Kaidah yang dilansir Gus Dur di atas, maknanya seperti ini: “Sesuatu yang tidak dapat ditemukan/dihasilkan (maksudnya secara keseluruhan), janganlah atau tidak boleh ditinggal seluruhanya (yang terpenting di dalamnya).” Kaidah ini dirumuskan berdasar pengertian hadits di atas pada bagian “wa mâ amartukum bihi faf`alû minhu mastatho’tum.”

ARTIKEL LAINNYA :
Karomah Mbah kiai Dalhar yang Luar Biasa

Dari hadits ini, dapat diambil pengertian “semampu Anda semua” dalam hal menjalankan perintah yang tidak mungkin dapat dicapai secara keseluruhan. Imam Nawawi dalam syarah Muslim soal hadits ini, menyebutkan bahwa ini termasuk kaidah-kaidah dalam agama Islam dan termasuk jawamiul kalim. Maksudnya, penyebutan kalimat yang meliputi dan bermakna dalam, dimana Nabi Muhamamd shollallohu alaihi wasallam memberikan sabdanya itu untuk dapat diambil pengertian, dan masuk di dalamnya banyak hukum yang tidak dapat dihitung.

Menurut Ibnu Hajar al-Asqolani, makna mastatho’tum artinya: “If`alû qodro istithô`atikum” (Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bârî, Juz XIII: 262). Perintah-perintah yang diberikan Nabi Muhammad baik dari Al-Qur’an atau dari Sunnah, lalu difahami menurut kesanggupan dan kesanggupan yang menjalankan, sesudah diupayakan secara sungguh-sungguh.

Gus Dur mengutip kaidah di atas, salah satunya untuk menerangkan soal penerimaan kepada eksistensi negara Republik Indonesia dengan dasar Pancasila ini. Negara Pancasila itu, di dalam penjelasan Gus Dur, Adalah tipe dari “darush shuluh” (Negara damai/aman), selain ada tipe “Darul Islam” dan “Darul Harb”. Negara Indonesia ini dihasilkkan dari serangkaian usaha, yang kulminasinya para ulama berkesimpulan, lebih baik Sepakat dan mengambil jalan memilih “Darus Shuluh” ini.

Dengan mempergunakan kaidah di atas, tuntutan yang maksimum, katakanlah disebut Negara dengan dasar syariat atau dengan istilah apapun, sudah dilewati melalui segala usaha jihad fisik masa penjajahan, damai, dan musyawarah di masa kemerdekaan, sudah dijalankan, tetapi bentuk akhirnya yang disepakati ialah Negara Indonesia. Sehingga Gus Dur menyebutkan: “Secara keseluruhan tentu wujud formal Negara Islam yang awalnya diinginkan, tetapi dengan lahirnya Republik Indonesia, wajib diterima yang terpenting di dalamnya, yaitu adanya negara yang memungkinkan kaum muslimin melakukan ajaran agama mereka secara nyata” (Gus Dur (Sekadar Mendahului, hlm. 211).

ARTIKEL LAINNYA :
Cara Bijak Menyikapi Mimpi Baik dan Negatif - Termasuk Mimpi Berjumpa Nabi

Dari sini dapat diambil pengertian, bahwa keluasan cakupan dari kaidah tersebut dapat diterapkan di bermacam hal, dan itu ranahnya ialah ijtihadi. Dapat jadi, orang lain atau kubu lain tidak setuju dengan cara pemahaman yang diambil dari hadits di atas, sehingga berharap mengambil secara keseluruhan untuk memenuhi tuntutannya, atau meninggalkan secara keseluruhan waktu tuntutan maksimalnya tidak tercapai. Itu diberikan untuk mereka sendiri.

Bagi kaum Sunni, khususnya yang dianut Gus Dur dan Nahdltaul Ulama, hal itu tentu diterapkan tidak secara sembarangan, sehingga wajib dibarengi dengan “husnuniyah” dan usaha melarang kemudratan yang lebih besar bila ditinggal secara keseluruhan, waktu yang paling maksimum tidak tercapai, sebab ada tuntutan “`alâ qodri isthitho`atikum”; dan sesudah ada usaha-usaha dikerjakan sebaik mungkin.

Masalah mereka yang tidak suka dengan sikap sosial-politik-ekonomi yang diambil dengan dasar menerapkan kaidah “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu” , ialah hal yang lain, dan itu syah-syah saja, sebab ranahnya ijtihadi. Wallohu a’lam.

Source link | Gus Dur dan Perkataan “Mâ Lâ Yudroku Kulluhu Lâ Yutroku Kulluhu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *