Warta Batavia

Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Akan Jadi Presiden

Diposting pada
Views: 26
Read Time:3 Minute, 4 Second

Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Akan Jadi Presiden

Tidak ada yang meragukan kemampuan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selaku bagian pemimpin besar bangsa Indonesia. Jauh sebelum terpilih jadi Presiden RI secara demokratis di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) pada 1999, Gus Dur Adalah penggerak intelektual publik yang banyak menginspirasi bocah kecil muda untuk kritis, progresif, dan punya nyali menyuarakan pandangan di tengah kekangan rezim Orde Baru.


Sampai pada akhirnya Soeharto lengser dari kursi presiden dan sementara digantikan oleh BJ Habibie, transisi era dari Orde Baru ke Reformasi ramai diperbincangkan tokoh-tokoh nasional, termasuk pemilihan Presiden. Sejumlah pemimpin partai politik sibuk bergeriliya dan melaksanakan lobi dalam pemilihan presiden.


Di tengah hiruk-pikuk tersebut, beberapa figur publik mendirikan poros tengah yang memproyeksikan Gus Dur jadi Presiden. Walaupun seperti ini, Gus Dur sendiri telah meyakini dirinya akan terpilih jadi Presiden melalui petunjuk dan dorongan para kyai sepuh.


Tapi, di tengah keyakinannya itu, Gus Dur sendiri masih bertanya-tanya soal power dirinya kalau terpilih menakhodai perahu bernama Indonesia ke seorang kyai. Hal itu mempertunjukkan bahwa saban langkah yang dilakukannya tidak lepas dari restu para gurunya. Gus Dur cuma berusaha mengonfirmasi dan memastikan langkah-langkah yang akan dilaluinya.


Salah seorang sahabat Gus Dur, Ahmad Tohari dalam buku Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) menceritakan bahwa dirinya pada Mei 1999 bersambang ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ratih Hardjono yang waktu itu jadi relawan untuk membantu Gus Dur menyuruh Ahmad Tohari masuk ke ruang kerja Gus Dur di PBNU.

READ  Perkawinan Kaya-Miskin dan Penguatan Ekonomi Masarakat


Sastrawan dan Budayawan asal Banyumas, Jawa Tengah itu cuma menurut. Tetapi lalu ia tertegun di pintu. Waktu Gus Dur berdiri berhadapan cukup rapat dengan seorang kyai (Ahmad Tohari tidak menyebut nama kyai tersebut) seraya menangis.


Ahmad Tohari menerangkan bahwa di tengah isak tangisnya, Gus Dur berkata, “Kyai, apa saya kuat jadi Presiden?” Lalu pertanyaan Gus Dur itu dijawab oleh kyai, “Tetapi sungguh sampean yang akan jadi Presiden.” Kelihatan di sini Gus Dur tidak menanyakan kesanggupan dirinya, tetapi kekuatannya kalau terpilih jadi Presiden.


4 bulan lalu dari Ahmad Tohari sowan ke Gus Dur tersebut, pemilihan Presiden dilaksanakan. Semua member MPR RI memilih calon presidennya. Tatkala pemilihan dan sampai pada penghitungan suara, susul-menyusul hitungan total suara terjadi antara Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.


Sampai waktu penghitungan akan berakhir, Megawati masih unggul suara dari Gus Dur. Tapi, pada detik-detik terkahir penghitungan, suara Gus Dur mengungguli Megawati sehingga Gus Dur terpilih jadi Presiden RI pada tahun 1999.


Menyaksikan kemenangan Gus Dur tersebut, Ahmad Tohari berkata, “Saya merenung, mengusap air mata sebab sedih. Seorang guru bangsa–meskipun suka bergurau—wajib mau menerima status yang lebih rendah: Presiden!”


Gus Dur menerima amanah dari rakyat tersebut dengan pekerjaan rumah yang tidak mudah. Sebab selain wajib berhadapan dengan ancaman disintegrasi bangsa, Gus Dur juga berhadapan dengan tugas untuk menjalankan tuntutan reformasi dan pembangunan demokratisasi bangsa Indonesia, khususnya di mata dunia internasional. Gus Dur dilantik jadi Presiden RI pada 20 Oktober 1999.

READ  Tingkatkan Konsolidasi dan Tertib Administrasi, PW GP Ansor Jatim Gelar Supervisi


Menurut catatan Virdika Rizky Inti dalam buku Menjerat Gus Dur (2019), tugas-tugas tersebut mengharuskan Gus Dur berhadapan dengan anasir-anasir ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar) yang masih kuat dan jadi problem akut selaku dampak dari 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa. Bagian tugas penting Gus Dur ialah membersihkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sudah mengurat dan mengakar di era Soeharto.


Walaupun cuma memimpin Indonesia selama 20 bulan sebab dilengserkan secara politis oleh lawan-lawan politiknya pada 23 Juli 2001, Gus Dur sudah banyak menaruh fondasi demokratisasi yang baik bagi masa depan kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk selain usaha keras memberantas pratik-praktik korupsi.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Akan Jadi Presiden
Sumber: NU-Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *