gus mus panutan
Gus Mus Panutan

Gus Mus Kisahkan Persahabatannya dengan Gus Dur

Diposting pada 5 views

Sebab narasi kisahnya yang panjang, saya cuma sanggup menuliskannya pada beberapa point berikut. Sesuai penuturan beliau:

*Saya itu tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Tidak ada ijazah dari SD (dulu disebut SR) sampai SMA. Saya dapat kuliah di Al Azhar itupun sebab iseng-iseng mengisi formulir, lalu diterima.

*Masalahnya saya tidak punya ijazah sebab cuma ngaji diniyah di Krapyak. Tetapi atas rekomendasi selembar kertas kosong yang ditandatangi oleh KH. Ali Ma’shum, maka saya pun diterima oleh kampus Al Azhar.

(Disinilah menurut Gus Mus bagian “karomah” KH. Ali Ma’shum, cuma TTD di atas kertas kosong selaku surat rekomendasi akademik dapat diterima oleh kampus seketat Al Azhar )

*Selang 6 bulan di Al Azhar, saya berjumpa Gus Dur. Uniknya Gus Dur cuma melakukan registrasi saja. Namun tidak pernah masuk kuliah sebab seluruh mata kuliah di jurusan yang dipilih telah dipelajari di pesantren.

“Lapo kuliah, ngentek-ngentei umur,” ucap Gus Dur waktu itu. (Gus Mus pun terkekeh).

*Di Mesir, Gus Dur tidak belajar di lembaga formal, bahkan malah aktif berorganisasi dan membangunan jaringan/network global.

*Gus Dur aktif mengumpulkan maha siswa dari bermacam negara ( Maroko, Prancis, Belanda, Mesir dll) untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman.

*Uniknya, Gus Dur itu seakan-akan mengetahui (waskito) kemungkinan masing-masing maha siswa tersebut bahwa mereka kelak berkemungkinan jadi figur publik penting di negaranya masing-masing.

(Cerita Nyata ini Memperingatkan saya mengenai hal ayahanda Gus Dur, KH. A. Wahid Hasyim, yang mempunyai kesanggupan dalam membaca kemungkinan seseorang melalui gaya bicara, gesture dan performance fisiknya: apakah orang tersebut dapat dikader atau tidak)

*Gus Dur kalau merasa jengkel dan didholimi oleh seseorang atau oknum pemerintah sering berujar “Titenono nek saya wis kuwoso” (Tunggu kalau kelak saya berkuasa jadi Presiden).

*Keanehan Gus Dur yang lain, 1 bulan sebelum kejadian G30s PKI meletus, beliau telah punya firasat. Suatu waktu mendatangi kamar kos saya seraya membawa peta Indonesia. Beliau menerangkan kemungkinan kantong-kantong perjuangan kaum santri, ABRI dan sebagainya di beberapa kota untuk menghadang PKI. Saya cuma geleng-geleng sebab menduga Gus Dur ini mengada-ngada.

ARTIKEL LAINNYA :
Cinta yang Membara

(Dan sisa sejarah pun kita ketahui bersama-sama, PKI menggelar Bughot yang hebat didalam negeri).

*Gus Dur, sesudah kuliah di Irak, mengajak saya geser dan bekerja di Belanda. Disana beliau hidup dan bekerja dengan uang yang lebih. Bahkan dapat berbelanja mobil second. Gus Dur mengajak saya untuk suatu waktu berkeliling Eropa dengan mobilnya. Bahkan beliau telah mem-planning nanti kita mampir dirumahnya si A, si B dst (teman-teman Gus Dur sewaktu membangun jaringan Maha siswa International di Mesir), tapi planning ini gagal sebab saya mesti mendampingi Ibu yang berangkat Haji.

(Disini lalu ramalan Gus Dur terbukti bahwa rekan mahasiswanya rata-rata sungguh berhasil. Ada yang jadi Publik figur masarakat, Menteri, Presiden dsb).

*Pengapesan (kelemahan) Gus Dur itu cuma 1. Yaitu IBU. Gus Dur paling tidak dapat Tidak mau perintah ibu. (Gus Mus lalu bercerita beberapa Cerita Nyata ketaatan Gus Dur dengan ibunya).

*Tahun 90’an, Gus Dur sering menjelaskan untuk teman-temannya bahwa ia telah menentukan kabinetnya.

(Banyak yang menganggap Gus Dur cuma bercanda. Juga sebab Pak Soeharto masih digdaya berkuasa).

*Waktu Gus Dur jadi presiden. Saya mulai mengambil jarak, walaupun sesekali kami saling merindukan.

(Inilah akhlaq seorang kiai/ulama’. Tidak menggunakan relasi untuk meminta jatah pada pejabat. Hal yang sama juga pernah diutarakan Alm. KH. Hasyim Muzadi yang mengambil jarak untuk Gus Dur waktu jadi RI-1).

*Ada 2 figur publik yang jadi primadona waktu itu. Yaitu Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholish Majid). Keduanya dinilai selaku sosok yang cendikia dan pintar dalam ilmu umum dan ilmu agama. Tetapi Gus Dur lebih unggul sebab mempunyai “akar” yang lebih kuat.

ARTIKEL LAINNYA :
Gus Sholah Wafat, PWNU DIY Himbau Nahdliyyin DIY Sholat Ghaib dan Baca Tahlil

*Waktu dalam kondisi sakit menjelang hari-hari terakhirnya, Gus Dur berkata untuk dr. Umar (adiknya) “Saya kangen Gus Mus…”.

*dr umar pun spontan melarang Gus Dur untuk bepergian sebab sungguh kondisinya yang lemah.

“Jangan, Mas. Biar Gus Mus saja yang saya suruh ke Jombang,” ucap dr. Umar.

Gus Dur pun marah.

“Lho saya ini yang kangen Gus Mus. Yang kangen harusnya mendatangi yang dikangeni. Bukan sebaliknya.” seru Gus Dur.

Dr. Umar, Mbak Sinta (bu Shinta istri Gus Dur) beserta putri-putrinya mau tidak mau menuruti kemauan Gus Dur untuk bertandang ke Rembang.

* Di Rembang, kami mengobrol lama sampai larut malam. Kalau tidak diingatkan mbak Shinta, mungkin ngobrolnya dapat lebih lama lagi.

* Gus Dur pun pamit dan berujar bahwa beliau mesti kembali ke Tebuireng sebab “dipanggil” oleh Mbah Hasyim Asy’ari.

* Tidak berselang lama, Gus Dur wafat. Itulah perjumpaan terakhir kami.

Semoga berguna.

*Diakhir perjumpaan, Gus Mus memberikan kami oleh-oleh pakaian koko dan novel karangan beliau. Kami pun takjub dengan akhlaq beliau. Publik figur dan kiai besar yang amat baik dalam menerapkan ikrom ad-dhayf.

Senin, 3 Desember 2018

(Gus A. Kanzul Fikri, Pengasuh PP. Al Aqobah, Jombang)

Gus Mus Kisahkan Persahabatannya dengan Gus Dur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *