Gus Muwafiq, Ulama Nasionalis Sejati

Gus Muwafiq, Ulama Nasionalis Sejati

Gus Muwafiq atau KH Ahmad Muwafiq Seorang Ulama Nasionalis Sejati

Gus Muwafiq – Perawakannya yang besar, gondrong dengan suara lantang menggetarkan jiwa-jiwa yang gersang. Bukan ditakuti tapi dihormati oleh seluruh kalangan tidak cuma kalangan muslim. Tiap-tiap petuahnya sanggup merekatkan kembali ghirah toleransi yang nyaris tercabik-cabik oleh kubu kecil yang berharap negeri ini hancur.

Gus Muwafiq menyalakan nasionalisme yang nyaris padam

Tiap-tiap menyimak ceramahnya, tumbuh kembali jiwa nasionalisme yang nyaris padam oleh gertakan kaum pemecah belah yang bersembunyi dibalik simbol agama. Nasehat-nasehatnya yang lugas, mudah dipahami oleh ummat sebab dakwahnya yang membumi, bukan melangit. Belajar Islam bareng Gus Muwafiq maka Islam dipahami selaku agama yang mudah, sederhana, damai, toleran dan menjunjung tinggi nasionalisme.

Tak sama dengan kaum sebelah, Islam dipahami selaku agama yang kaku, kasar, beringas, intoleran dan anti budaya. Udaranya cuma kafir, haram, syirik, bid’ah dan thaghut. Jurusnya cuma itu saja. Islam dipahami selaku agama yang cupet, tidak ada bagian surga diluar kelompoknya. Surga cuma milik kubu gue. Kata mereka.

Baca Artikel Lainnya:  Ma'ruf Amin Mengejutkan, Dianggap 1-0 Unggul Dibandingkan Sandiaga

Di balik fisiknya yang gagah, ternyata Gus Muwafiq ialah sosok yang full dengan kelembutan. Tidak kereng metenteng atau ngamukan dimimbar sebagaimana kaum sebelah. Tidak segan untuk senyum dan tertawa lepas menyapa ummat yang mencintainya.

Sekarang, sifat kelembutannya kian kelihatan dengan sikap kesatrianya. Mengalah untuk menang. Mengklaim salah walau belum tentu bersalah. Untuk untuk menghormati mereka yang tersulut amarah, kebencian dan dendam. Untuk untuk menjaga persatuan agar mereka suka. Walau permintaan maaf inipun tidak akan cukup menyenangkan untuk mereka yang terbakar kedengkian.

Gus Muwafiq sudah mencontohkan kita sebuah teladan yang amat luarbiasa yaitu meminta maaf yang tidak seluruh orang sanggup melaksanakan. Inilah teladan yang amat berharga dari seorang Gus Muwafiq. Tidak seluruh orang waktu Ada diawang-awang, telanjur tersohor selaku ulama kondang, terkenal nama harumnya mudah untuk meminta maaf.

Betapa banyak mereka yang dinilai ahli agama, ribuan ayat dan hadits keluar dari lisannya waktu terpeleset lidahnya malas untuk meminta maaf bahkan kian tinggi hati, arogansi dan merasa tidak ada ruang kekhilafan untuk dirinya. Amat menodai sifat kemanusiaan yang sesungguhnya lumrah untuk berbuat salah.

Baca Artikel Lainnya:  14 Juli, jema'ah Haji di Madinah Mulai Diberangkatkan ke Mekkah

Gus Muwafiq mengajarkan ilmu dan adab (akhlak)

Dari Gus Muwafiq, kita tidak cuma belajar ilmu tapi juga belajar adab. Adab menghormati leluhur, adab memuliakan pendiri NKRI, adab menghormati kubu minoritas dan adab meminta maaf. Mengakui kekhilafan dan minta maaf itu sulit apalagi kalau telah populer mempunyai banyak pengikut. Akan tetapi tidak sedemikian dengan Gus Muwafiq. Sikap kesatrinya bukan artinya memperkecil dirinya malah akan bertambah kemuliaan dihadapan Tuhan dan manusia. Ummat akan kian mencintainya. Mutiara yang asli bukan kaleng-kaleng.

Permintaan maaf sudah disampaikan. Apakah ini akan memuaskan seluruh orang? Tentu tidak. Bagi hati yang terus diliputi rasa dendam dan kebencian, seribu kali maaf pun tiada untuk. Sebelum mereka sanggup mengoyak persatuan, menumbangkan NKRI atau terpenuhinya syahwat kekuasaan maka selamanya lidah dan jari mereka tidak akan pernah berhenti mencaci maki dan mengumbar fitnah.

Begitulah pengulangan sejarah. Semenjak masa ulama pendiri NU sampai sekarang, ulama dan figur publik yang tidak dekat dengan kaum sebelah pasti akan dimusuhi dengan bermacam fitnah. Ulama yang anti sekte teroris wahabi dan sekte khawarij khilafah akan diserbu dengan bermacam cara.

Baca Artikel Lainnya:  Presiden Jokowi Cerita Mengenai hal Konflik Afghanistan di Depan Relawan Pemuda Pancasila

Cukuplah semisal Hadratussyeikh Mbah Hasyim, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah wali Gus Dur, Habib Luthfi, Gus Mus, Kyai Ma’ruf Amin, Kyai Said dan tokoh-tokoh nasionalis sejati tidak sepi dari umpatan dan kata-kata kotor dari mereka.

Tidak terkecuali Gus Muwafiq, figur terdepan santri Gus Dur selaku paku bumi dalam menyuarakan nasionalisme, toleransi dan cinta tradisi di negeri ini. Bersabarlah untuk menerima segala cacian dan hinaan dari mereka.

Semoga istiqamah membimbing ummat dengan welas asih. Penduduk Nahdliyin, bersiaplah untuk menangkis segala serbuan bar-bar mereka. Antusias hubbul wathan minal iman yang diwariskan Mbah Hasyim hendaknya jadi pegangan dalam menjaga NU dan NKRI. Insyallah NU dan NKRI akan tetap tegak berdiri selamanya walau mereka membencinya.

Penulis Suryono Zakka, Aswaja Sumsel

Gus Muwafiq, Ulama Nasionalis Sejati

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *