Hijrahnya Kajian agama Kitab Kuning ke Dunia Digital

1587976794

Hijrahnya Kajian agama Kitab Kuning ke Dunia Digital

Oleh A Khoirul Anam

 

Kajian agama kitab kuning ini maksudnya ialah forum kajian agama rutin yang ustadznya membacakan teks kitab berbahasa Arab secara berurutan mulai halaman ke-1 sampai akhir, dari bab mukadimah sampai doa penutup dan dalam bermacam fan atau bidang studi. Durasi waktunya dapat agak panjang, bahkan lebih dari 1 jam, tak sama dengan model tayangan online yang singkat cuma beberapa menit. 

Kajian agama kitab kuning ini juga tak sama dengan kajian agama online para ustadz atau muballigh yang membicarakan topik atau isu tertentu saja yang aktual, atau cuplikan bagian kajian agama yang menarik dalam durasi beberapa menit saja. Kajian agama kitab kuning ini formatnya nyaris sama dengan yang diadakan di pesantren atau rutin di masjid atau mushalla, cuma saja kali ini diperlihatkan melalui jaringan internet dan dapat diakses dari banyak tempat.

Sesungguhnya kajian agama kitab kuning dari bilik pesantren yang disiarkan secara online ini telah diawali belasan tahun lalu. Tapi tatkala itu cuma kyai tertentu saja yang kebetulan Disokong oleh tim kreatif. Pengaksesnya pun sedikit. Wabah Covid-19 yang diikuti dengan proses migrasi online yang cukup cepat ini juga mempercepat proses hijrahnya kajian agama kitab kuning ke dudi (dunia digital) yang tersambung dengan jaringan internet dan Disokong oleh banyak sekali platform media sosial. 1 lagi, gratis menggunakan paket data yang ada di telepon pintarnya.

Proses hijranya kajian agama kitab kuning ke dudi itu lebih cepat lagi sebab kebetulan berbarengan dengan Bulan Ramadhan, bulan full dengan kajian agama kitab kuning atau pesantren kilat. Untuk menghindari risiko penyebaran virus, pesantren-pesantren diliburkan. Aktivitas berkumpul di masjid dan mushalla dicegah. Maka tidak ada pilihan lagi, kajian agama kitab kuning mesti berhijrah ke dudi.

BACA JUGA :   Kembali Galang Dana untuk Palestina, Warganet Sentil Abdul Somad soal Donasi 'Nanggala 402'

Beberapa alumni pesantren atau para jemaah muslim kota yang pernah ikut kajian agama kitab kuning sering kali merindukan kajian agama kitab kuning. Kali ini kerinduan mereka berbalas. Sekarang ini banyak sekali ustadz yang menyelenggarakan kajian agama kitab kuning dari pesantrennya atau dari bilik rumahnya. Fannya pun banyak sekali, tinggal pilih. Ada bidang akidah atau tauhid, tasawuf atau akhlaq, fiqih, Al-Qur’an atau tafsir, hadits, tata bahasa Arab, dan bahkan beberapa ustadz punya nyali membaca kitab-kitab kelas berat yang biasanya ditujukan untuk para santri senior.

Saat kajian agama diawali, link kajian agama online-nya cepat tersebar di grup-grup WhatsApp alumni pesantren atau grup Famili santri yang Ada di bermacam daerah, bahkan di luar negeri. Para member grup ini juga pasti tergabung dalam grup-grup lain, dan biasanya sigap menyebarkan link kajian agama ke banyak grup sehingga memungkinkan 1 kajian agama dapat tersebar secara random ke bermacam lapisan warga.

Apakah format kajian agama kitab kuning di dunia online Penting berubah sesuai dengan kemauan warga digital? Dapat Penting, dapat juga tidak. Penting sebatas teknis saja agar lebih enak disimak dari jauh: pemilihan jaringannya, cara penempatan kamera, pencahayaan, bacground dan lain-lain. Kalau memungkinkan, nanti sesudah selesai kajian agama, bagian dari kajian agama yang dianggap penting dan Penting memperoleh penekanan dapat dipotong-potong dalam durasi beberapa menit untuk dishare lebih luas lagi.

Selebihnya, kajian agama kitab kuning ini biarlah berlangsung seperti biasa. Warga muslim kota juga Penting dikenalkan model kajian agama seperti ini, lebih mendalam dan utuh dari alif sampai ya’; tidak cuma potongan bagian tertentu saja.

Apakah masih ada keberkahan dalam kajian agama kitab kuning dengan gaya baru ini? Jika saya boleh menjawab, “ada.” Tak sama dengan media elektronik TV dan radio, lewat jaringan internet para jemaah atau santri bahkan dapat bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan ustadznya, sama persis seperti tatkala belajar langsung.

BACA JUGA :   Mengenang Syekh KH Muhadjirin Amsar, Ulama Produktif dari Betawi (5)

Transfer ilmu masih dapat berlangsung seperti biasa, asalkan para jemaah atau santri memegang kitab kuning, komprehensif dengan alat tulisnya, dan siap dengan busana mengaji: seakan-akan mereka tatkala itu tengah berhadapan langsung dengan gurunya. Kalau Penting, mulai mengaji dengan berwudhu terlebih dahulu. 

Jangan lupa, Penting ada sedikit rezeki yang ditransfer ke guru atau didonasikan ke tim kreatifnya; biar tidak cuma berkah ilmunya tapi juga berkah rezekinya.

 

 

Penulis ialah Wakil Pemred Warta Batavia

Hijrahnya Kajian agama Kitab Kuning ke Dunia Digital
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *