kiai kuswaidi 1
kiai kuswaidi 1

Hikmah Jum’at Pagi dari Kyai Kuswaidi Syafi’i: Cermin Ilahi

Diposting pada 23 views

Hikmah Jum’at Pagi dari Kyai Kuswaidi Syafi’i: Cermin Ilahi

Cermin Ilahi

Oleh Kyai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul.

Semua nabi yang juga dianugrahi pangkat rohani selaku rasul memperoleh risalah dan tajalli dari Allah Ta’ala.

Kecuali disesuaikan dengan kesiapan spiritual mereka masing-masing, risalah dan tajalli hadiratNya itu juga dibikin sepresesif mungkin dengan kemampuan ummat dari saban rasul di mana mereka diutus. Sehingga dapat dipastikan bahwa saban nabi yang diutus itu sungguh mempunyai korelasi spiritual yang “sepadan” dengan masing-masing ummat mereka. Seperti ini juga dengan ajaran Ilahi yang disampaikan oleh para utusan itu ke ummat masing-masing.

Maka, apa boleh buat, atas nama “keterbatasan” yang menggelayut pada diri para rasul itu, mereka lalu cuma diutus ke kaum mereka semata. Juga cuma pada periode tertentu. Tidak lebih dari itu. Jadi gamblang lalu kenapa para rasul yang selain Nabi Muhammad Saw itu tidak ada yang diutus ke semua ummat manusia di jagat raya. “Kouta” mereka tidak cukup untuk hal itu.

Di samping mengindikasikan soal “keterbatasan” mereka, peta soal kerasulan seperti itu juga mengisyaratkan adanya “ketidakterbatasan” kerasulan yang disandang oleh Khatamun Nabiyyin Saw, baik yang berhubungan dengan cakupan horizontalnya maupun yang terhubung dengan babakan periodiknya.

Tentu saja luasnya cakupan kerasulan yang cuma dispesifikasikan ke putra ‘Abdullah Saw itu dengan Jelas mempertunjukkan ke kita seluruh bahwa segala sesuatu di jagat raya ini, baik secara spiritual maupun secara material, tidak lain dimunculkan oleh Allah Ta’ala dari cahaya primordial nabi yang paling memukau secara lahir dan batin itu. Sebab beliau Adalah satu-satunya argumentasi penciptaan semesta ini. Tidak ada yang lain lagi.

READ
Terpilih Jadi Ketua PCNU Kota Jakpus, Ini Tekad bulat Gus Syaifuddin

Sebab Jelas bahwa para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang beriman dari semua babakan sejarah itu “bersemayam” dalam diri Nabi Muhammad Saw, maka tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun yang mengalami makrifat bahwa beliau tidak lain Adalah tajalli hadiratNya yang paling terang-benderang dan komprehensif.

Dari sini kita dapat memahami sekaligus meresapi bahwa beliau sesungguhnya Adalah cermin Ilahi yang saban waktu dapat dipakai oleh siapa pun, selain untuk menyaksikan substansi “kehadiran” Allah Ta’ala, juga untuk mengaca diri. Seberapa pun kadarnya, saban makhluk sungguh Adalah cermin sekaligus “realitas” dari tajalli hadiratNya. Namun tidak ada yang lebih jelas, tidak ada yang lebih bening, tidak ada yang lebih indah, tidak ada yang lebih agung dibandingkan dengan Imam al-Mursalin Saw itu.

Itulah sebabnya, dalam sebuah sabdanya yang termaktub dalam kitab antologi hadis yang berumbul Shahih Muslim beliau memberikan garansi dengan mengumumkan: “من رأني فقد راى الحق/ Siapa yang melihatku, maka sungguh dia menyaksikan Allah Yang Mahabenar.”

Tentu saja “menyaksikan” pada hadis di atas itu bukanlah Adalah suatu hal yang serta-merta terjadi begitu saja. Akan tetapi mesti didahului oleh keimanan kepada risalah yang diembannya dan dengan full kesungguhan dan ketulusan ikut keteladanan yang sudah diwedar secara konkret oleh beliau. Menyaksikan kehadiran Allah Ta’ala pada diri beliau ialah melihat hadiratNya yang tidak sepenuhnya tertampung pada makhluk apa pun yang lain.

READ
Pangdam VI Mulawarman dan Kapolda Kaltim Pantau Sejumlah Tempat Pasca "LOCAL LOCK DOWN"

Lantaran 2 syarat itu tidak ada pada diri Abu Jahal dan kaum kafir yang lain, maka walaupun telah bolak-balik menyaksikan beliau, mereka tidak dapat menemukan Allah Ta’ala datang di situ. seusai menyaksikan makhluk terpilih itu, Abu Jahal cuma dapat memuntahkan kalimat-kalimat yang jorok dan caci-maki tidak karuan. Tengah sesudah melihat makhluk pujaan itu, tidak ada apa pun yang terungkap dari Abu Bakar ash-Shiddiq selain sanjungan dan puja-puji.

Dalam mengarungi hidup yang sejenak ini, tidak ada cermin paling indah dan bening yang mesti selalu kita pandangi selain beliau. Andai kita menemukan keindahan pada cermin itu, tentu hal itu Adalah karunia rohani yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala ke kita. Andai kita merasa jijik dan kita ludahi cermin itu, sesungguhnya kita artinya tengah mempertontonkan keburukan sekaligus kebusukan kita sendiri. Na’udzu billahi min dzalik. Wallahu a’lamu bish-shawab.


Hikmah Jum’at Pagi dari Kyai Kuswaidi Syafi’i: Cermin Ilahi

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *