Berita Islam

Hindari Khutbah atau Ceramah dari Para Pendusta Agama

Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU

Waktu ini, di mana saja masjid, teramat mudah kita mendapati penceramah agama atau khatib yang menyampaikan isi ceramah atau khutbahnya dengan tanpa ilmu agama yang memadai. Ceramah dan khutbah yang mereka sampaikan acap kali bukan atas dasar ilmu, melainkan sebab dorongan hawa nafsu.

Berapa banyak khutbah dan tausiah berisi ucapan kebencian, caci maki, hujatan, fitnah, berita dusta, mengobarkan nafsu para pendengarnya untuk berpecah belah, saling benci, saling bermusuhan, dan bahkan untuk saling menumpahkan darah sesama saudara. Sebab ceramah dan ulah tidak bertanggung jawab dari para khatib provokator penyembah hawa nafsu itulah maka ada sementara jemaah yang makin merasa tidak lagi nyaman untuk beribadah “mendengarkan” khutbah di masjid-masjid. Karena, nyata ada sementara masjid yang para pengurusnya tidak sanggup untuk bersikap selektif dalam memilih penceramah agama atau khatib, sehingga masjid-masjid semacam itu bukan lagi jadi tempat yang pas untuk beribadah, berzikir, dan menenangkan hati, melainkan jadi tempat bersumbernya segala bentuk kegelisahan hati, kegaduhan dan tumbuhnya saling benci dan saling permusuhan.

Senantiasa ada saja khatib Jum’at yang tampil di depan para jemaah tanpa persiapan, tanpa memahami syarat-syarat, rukun-rukun khutbah, sunnah-sunnahnya, dan tidak menerapkan adab-adabnya, dan tidak pula memahami tujuan-tujuan dari isi ceramah atau khutbahnya. Di antara para khatib yang pada hakikatnya belum paham agama itu mungkin saja waktu akan menyampaikan khutbahnya ada belum atau sembarangan dalam bersuci, tidak mandi, tidak menggunakan parfum, dan tidak pula berhias dengan pakaian yang indah sesuai ajaran Islam.

Khutbah Jum’at di sebagian masjid waktu ini bukan lagi disampaikan oleh orang yang lebih mendalam ilmu agamanya, lebih rendah hati, melainkan oleh “sembarang orang” yang ucapannya tidak layak didengarkan dan perilaku kesehariannya tidak pantas diteladani, sifat pribadinya ambisius ingin tampil di mimbar, haus pujian, dan atau sebab motif-motif duniawi dan niat yang amat rendahan. Amat boleh jadi, di antara para khatib itu ada yang tampil berkhutbah dengan cara menyingkirkan khatib lainnya yang menurut ukuran ilmu fikih lebih berhak untuk berkhutbah. Sekali ia tampil di atas mimbar untuk berkhutbah di sebuah masjid, lalu untuk selamanya ia jadi satu-satunya khatib yang merasa paling berhak “menguasai” atas mimbar.

ARTIKEL LAINNYA :
Gus Dur dalam Memoriam Dunia Literasi Gus Zainal

Padahal, dalam rujukan klasik terdahulu para ulama juga sudah membicarakan masalah ini, bahwa untuk berkhutbah dan jadi imam shalat orang yang lebih berilmu agama di tengah warga dan orang yang bernasab mulia diprioritaskan. Andaikata tidak didapati kecuali 2 orang, yang seorang lebih berilmu, sedangkan lainnya bernasab lebih mulia, maka untuk jadi khatib atau imam shalat didahulukan orang yang lebih berilmu dan bertakwa.

Yang juga tidak boleh dilupakan ialah, bahwa di antara syarat Inti dari pemberi nasehat atau khatib ialah wajib orang yang ikhlas sebab Allah dalam menyampaikan nasehat atau khutbahnya, memahami Bahasa Arab dengan baik, mengetahui tafsir, hadits (baik dari sisi riwayat maupun dirayat), Ushul al-fiqh, fikih, dsb. Adapun syarat lainnya ialah bahwa seorang khatib wajib menyampaikan khutbahnya dengan susunan kalimat dan sistematika yang baik, dengan mengukur kadar kecerdasan rata-rata jemaah pendengar (audien), disampaikan dengan kata kata yang santun, lemah halus, bukan dengan bahasa yang kasar, dan bukan pula disertai nafsu amarah yang meledak-ledak.

Mimbar khutbah, atau tempat lainnya, bukanlah tempat untuk berdirinya seorang khatib atau penceramah yang merasa benar sendiri dalam memahami agamanya, sedangkan siapa saja yang tak sama dari dirinya dalam penafsiran distigma buruk, disesatkan, dibid’ahkan, dan bahkan dikafirkan. Berapa banyak pendengar di tengah-tengah jemaah yang datang yang sesungguhnya lebih berhak untuk menyampaikan, akan tetapi sebab kerendahan hatinya ia tidak bersedia untuk berkhutbah atau berceramah.

ARTIKEL LAINNYA :
GP ANSOR Setia Mengawal Politik Indonesia

Nasehat agama dan khutbah sesungguhnya ialah secercah cahaya petunjuk kenabian yang menerangi kegelapan hati dan pikiran ummat manusia pendengarnya, agar jadi orang yang bertakwa, jadi fasilitas kebenaran yang menyerukan terwujudnya keamanan, keamanan, dan kemaslahatan dalam kehidupan bersama-sama. Idealnya ceramah dan khutbah itu berisi penguatan atas rasa persatuan, mencabut sebab-sebab perpecahan, memberikan santapan ruhani bagi ummat agar mempunyai pikiran yang rasional dan berjiwa yang bersih. Penceramah agama dan khatib bertugas untuk Memperingatkan para pendengarnya agar merasa takut untuk Allah, menguatkan manusia yang sudah bersifat baik jadi lebih baik akhlaknya, tetap suci hati dan pikirannya, dan menghindarkan orang-orang baik agar tidak rusak sebab terpengaruh oleh sifat-sifat negatif dari para penjahat, dan bertugas untuk mengobati watak-watak orang agar berhenti dari tiap-tiap kejahatannya. Kecuali itu mereka juga bertugas untuk memadamkan api fitnah, menundukkan nafsu-nafsu amarah manusia dengan ilmu dan arahan-arahan yang tertera dalam ajaran agama.

Berikut ini saya kutipan teks berbahasa Arab dari Kitab Adab al-Khatib, karya al-Imam ‘Alauddin Ali bin Ibrahim bin al-Aththar al-Dimasyqi (wafat tahun 724 H. /1324 M.) terkait apa isi ceramah, nasehat, atau khutbah yang sepatutnya disampaikan.

وينبغي أن تكون الموعظة في كل وقت وزمان على حسب حاجة الناس إليها مما يجهلونه من الأحكام الشرعية والتنزيهات الربانية وما يحمل على طاعة الله تعالى وطاعة رسوله صلى الله عليه وسلم وعلى قصر الأمل في الأمور الدنيوية دون الأخروية وما يحمل على الإيمان بالبعث والمنشور والجنة والنار وعلى العمل والإخلاص فيه وعلى التناصف والتواصل والتراحم وترك التقاطع والتدابر والتظالم وعلى التعاون على البر والتقوى ونصر المظلوم ونصر الظالم بمنعه من الظلم وحث ولاة الأمر على العدل والإنصاف والإحسان وترك الجور والإثم والعدوان وحث الناس على القيام بوظيفة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر التي هي سبب لرفع البلاء والنصر على الأعداء وعدم تعميم العذاب واستجابة الدعاء من رب الأرباب وإنزال البركات وغفر الذنوب والتبعات (أدب الخطيب ص ١٢٥)

ARTIKEL LAINNYA :
Bagaimana Siksa Bagi yang Menyebar Berita Bohong?

Telah sepatutnya ada kata-kata nasehat/mau’idzah (yang baik) pada tiap-tiap waktu dan zaman yang relevan dengan kebutuhan manusia, dari sesuatu yang belum mereka ketahui, berupa hukum-hukum agama, kesucian-kesucian yang bersifat ketuhanan, suatu anjuran patuh untuk Allah ta’ala dan patuh untuk Rasul-Nya SAW., memendekkan angan dalam perkara-perkara duniawi, bukan (memendekkan angan dalam perkara-perkara) yang ukhrawi, apa saja yang mendukung untuk keimanan kepada hari kebangkitan atau hari hari kiamat, untuk surga dan neraka, beramal baik dan ikhlas dalam beramal baik, untuk saling menyadari, saling menyambung tali brothership, saling menyayangi, meninggalkan sikap saling mengambil keputusan tali brothership, saling bermusuhan, dan saling berbuat semena-mena, (mengajak) untuk saling kerja sama dalam kebaikan dan takwa, menolong orang yang dizalimi, menolong orang yang berbuat zalim dengan mencegahnya dari melaksanakan kezaliman, mendukung pemerintah untuk bersikap adil, insaf, berbuat kebaikan, tidak bersikap semena-mena, tidak bekerja sama dalam berbuat dosa dan saling permusuhan, memotivasi manusia untuk mentaati aturan dalam memerintahkan untuk berbuat baik (al-amr bil-ma’ruf) dan melarang kemungkaran (an-nahyu ‘an al-mungkar) yang Adalah karena diangkatnya bencana, tolong menolong dalam mengalahkan musuh, tidak meratakan siksa, mengabulkan himbauan Tuhan, menurunkan berkat, mengampuni dosa-dosa, dan akibat ikut hawa nafsu.

Sumber tulisan lihat di sini. 

Source link | Hindari Khutbah atau Ceramah dari Para Pendusta Agama

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close

Adblock detected!

Matikan Adblock untuk membaca artikel atau berita yang anda cari. Terima kasih.