lukisan mbah liem klaten
lukisan mbah liem klaten

Ini Pengalaman Spiritual Pelukis Waktu Melukis Mbah Liem Klaten

Diposting pada 26 views

Ini Pengalaman Spiritual Pelukis Waktu Melukis Mbah Liem Klaten

Pelukis Nabila Dewi Gayatri mengklaim punya pengalaman waktu melukis KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem. Ia mengalami kondisi yang amat suka sampai tertawa-tawa sendirian waktu menggoreskan koas ke kanvasnya.

“Saya mengalami suka yang belum pernah saya alami. Ketawa sendiri, sueneng, dan cepet selesai. Saya merasa bahagia, ngakak-ngakak,” katanya.

Waktu melukis kyai dari Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah itu, ia mengklaim dengan cepat menemukan karakter lukisannya. Sampai proses melukisnya pun terbilang cepat daripada kiai-kiai lain.

Pelukis kelahiran Gresik, Jawa Timur, pada 1969 itu mengklaim, pada masa kecilnya pernah diajak ayahnya bersilaturahim untuk Mbah Liem. Waktu dewasa, Nabila pernah juga berjumpa kyai itu di PWNU Jawa Timur.

Pada perjumpaan itu, Mbah Liem menanyakan kepadanya, “Koe iseh nabuh beduk? Masih suka gambar? Nyanyi?” tanyanya untuk Nabila yang sungguh selain melukis juga suka menabuh drum, yang dalam istilah Mbah Liem menabuh beduk, serta menyanyi.

“Masih,” jawab Nabila waktu itu.

“Yo wis, Berkah, berkah, berkah…” lanjut Mbah Liem.

Menurut Nabila, sosok Mbah Liem jadi bagian dari ekshibisi untuk Memperingatkan orang untuk bagian sifatnya yang mempunyai perhatian tingkat tinggi untuk fakir miskin.

Pelukis jebolan Jurusan Aqidah Filsafat Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menambahkan, dengan melukis Mbah Liem, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid, Kyai Abbas Buntet dan kyai lain, ia menginginkan, orang yang melihatnya akan mengingat jasa dan teladan mereka.

READ
Cerita Nabi Muhammad 1: Lahirnya Cahaya

Menurut Ali Mahbub pada tulisannya yang dimuat di Warta Batavia, Mbah Liem mengajarkan santri dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung. Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

1.“Nguwongke uwong, gawe legane uwong.”

Mbah Liem senantiasa menghargai dan menerima saban orang dengan segala kemungkinan dan niat baiknya. Kalaupun kita tidak memerlukan, mungkin manfaatnya dapat dinikmati Famili, Jiran atau msyarakat kita.

Contohnya saban kali ada tamu, baik pejabat maupun publik figur yang lain, Mbah Liem senantiasa menyambut dengan hangat siapa pun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/publik figur dengan warga.

2. “3 T“

titi–tatak–tutuk

Mbah Liem mengajarkan waktu melakukan saban tugas dalam hidup, haruslah,

TITI (cermat, teliti dan selektif),

TATAK (legowo, sabar),

sehingga TUTUK (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan).

3. “3 K “: kuli-kiai-komando.

Tiap-tiap santri haruslah sanggup memerankan diri selaku,

KULI (siap bekerja keras),

KIAI (siap mengamalkan ilmu dan berdoa),

KOMANDO (siap jadi pemimpin yang piwai memutuskan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita wajib tegak, tegas dan tegar selama benar.“

Tiap-tiap melakukan kebenaran, kita wajib tegak (full keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apa pun), tegas (tidak kenal kompromi kepada pelanggaran aturan), tegar (ikhlas, sabar).

5. “3 R “: rampung bangunane – rame jama’ahe – rukun masyarakate “.

Dalam mendirikan fasilitas apa pun, ada 3 hal yang wajib diupayakan ialah “r ampung bangunane “ (dapat terwujud ), rame jama’ahe (berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), rukun masyarakate (jadi sumber kedamaian dan perekat persatuan).

READ
Gus Anam Kisahkan Waktu Sahabat Abu Hurairah Tidak Makan Selama Seminggu

6. “Aja mung benteng ulama, ning nahnu anshorullah, masyriq-maghrib“ di samping perannya selaku benteng ulama, Banser semestinya sanggup menjalankan peran yang lebih luas di semua permukaan bumi, dalam bingkai “nahnu anshorulloh ”.

7. “ 3 S “:  shalat-sinau-sungkem.

Maksudnya “shalat“, seorang santri wajib tekun beribadah, prihatin dan berdoa. Sinau,  santri wajib belajar terus menerus. “Sungkem“ santri wajib mempunyai akhlak yang mulia, tahu sopan santun, tawadhu’ pada kyai/guru.

8. “ 2 B“: berhasil-berkah.

Dalam mencapai cita-cita/usaha wajib mempunyai tekad bulat yang kuat agar tercapai yang di inginkan.” Berkah “saban cita-cita/ usaha wajib di mulai dengan niat ibadah (niat baik) agar memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

9. “Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo ngising barang ”

(Jadi orang itu jangan cuma makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh cuma melulu mencari harta terus, tapi kita juga wajib rajin bersedekah.

Penulis: Abdullah Alawi (Warta Batavia).

Tulisan ini ke-1 dimuat Warta Batavia pada Ahad 14 Mei 2017  dengan judul “Kyai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis”.


Ini Pengalaman Spiritual Pelukis Waktu Melukis Mbah Liem Klaten

loading...

READ
Tafsir al-Bayyinah Ayat 2: Benarkah Nabi Tidak Dapat Membaca?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *