KH. Afifudin Muhajjir
KH. Afifudin Muhajjir

Ini Penjelasan soal Larangan Shalat Jumat dan Berjamaah waktu Corona

Diposting pada 36 views

Ini Penjelasan soal Larangan Shalat Jumat dan Berjamaah waktu Corona

Hitungan total Perkara terinfeksi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia masih memperlihatkan tren kenaikan. Sebagian sembuh, sebagian lagi menjalani perawatan, dan sebagian lain meninggal dunia. Bahkan, amat mungkin sebagian orang yang terinfeksi belum masuk data laporan Kementerian Kesehatan RI sebab sejumlah keterbatasan.

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) pada 19 Maret 2020 berdiskusi dan merilis keputusan seputar hukum Pelaksanaan shalat Jumat dalam situasi wabah seperti ini. Ketetapan disusun berdasar sejumlah dalil dan pertimbangan maslahat dan mudarat yang matang. (Baca: LBM PBNU Keluarkan Larangan Shalat Jumat bagi Masarakat Muslim di Zona Merah Covid-19).

meskipun seperti ini, rupanya sebagian orang ada yang masih salah dalam memahami keputusan tersebut. Berikut ini penjelasan KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU yang juga bagian perumus keputusan LBM PBNU soal aturan shalat Jumat di tengah maraknya Covid-19. Penjelasan ini Adalah hasil Tanya Jawab tim dari Ma’had Aly Situbondo sebagaimana tayang di saluran Youtube.

Kenapa yang ditutup cuma masjid dan yang diliburkan cuma shalat Jumat dan jemaah sementara pasar, mal, dan lain-lain masih jalan terus?  

Fatwa yang berisi pelarangan shalat Jumat dan jemaah sekaligus penutupan masjid itu tidak berlaku umum. Akan tetapi spesial zona-zona merah, zona-zona bahaya, zona-zona rawan. Adapun untuk zona-zona yang aman, maka shalat jemaah mesti jalan terus.

Kenapa karena? Sebab jemaah dan shalat Jumat khususnya, mesti jalan terus. Sebab shalat Jumat ini, kita tahu, ialah fardlu ‘ain (hukumnya) yang mesti Dilakukan oleh saban muslim yang sudah memenuhi syarat.   Lantas saya sampaikan bahwa fatwanya para ulama menyangkut pelarangan dan penutupan masjid ini, cuma berguna dan penting untuk mereka yang rajin melakukan (shalat) Jumat dan shalat jemaah. Sebab ada kemungkinan sebagian dari mereka ada yang tidak tahu, bahwa pada saat-saat tertentu, apa yang wajib seperti (shalat) Jumat jadi tidak wajib. Bahkan dalam keadaan tertentu, apa yang wajib dapat jadi haram. Ada kemungkinan.

Adapun mereka yang sungguh malas ke masjid, atau bahkan sama sekali tidak mau ke masjid, untuk mereka tidak Penting fatwa. Sebab tanpa fatwa pun mereka telah tidak (shalat) Jumat. Tanpa fatwa pun mereka telah tidak melakukan shalat jemaah.

Pertanyaannya, kenapa kok cuma masjid saja yang ditutup? Kok cuma shalat Jumat dan jemaah saja yang dicegah? Saya menjawab begini: yang wajib saja itu jadi haram, apalagi yang tidak wajib seperti (ke) mal. Jika orang-orang yang dapat sedikit berpikir telah dapat memahami: dari pelarangan kumpul-kumpul di masjid dalam rangka shalat Jumat dan jemaah dicegah, ya apalagi untuk kepentingan-kepentingan yang lain.

Dan bedanya lagi, shalat jemaah dan Jumat ini kan diperlukan kedisiplinan yang luar biasa. Shaf-nya rapat, dan seterusnya. Sementara aktivitas-aktivitas di luar, walaupun mereka banyak orang, kan dapat menjaga jarak 1 sama lain. Untuk menghindarkan penularan dapat jika di luar. Namun jika shalat Jumat dan jemaah sulit. Kecuali jika shaf-nya dibuat renggang, sebagaimana yang kadang ditunaikan orang.   Jika tempat-tempat maksiat, di situ tidak berlaku istilah penutupan. Kenapa karena? Sebab semenjak dari awal, tempat-tempat itu tidak boleh dibuka. Iya, kan?

READ
Imam Ghazali Membagi 3 Kategori Manusia dalam Beragama

Ada yang menganggap fatwa ulama (untuk meliburkan shalat Jumat) bertentangan dengan ajaran tawakal. Apa benar?  

Islam itu tidak cuma mempunyai ajaran tawakal. Akan tetapi Islam juga mempunyai ajaran mawas diri dan ajaran waspada, iya kan? Betapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajak kita agar supaya senantiasa tawakal ke Allah SWT. Pasrah.   Akan tetapi juga banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang memerintahkan kita agar supaya mawas diri dan waspada.

Bagian contohnya, Allah SWT berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya: Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah ke Allah orang-orang yang beriman mesti bertawakal.” (QS at-Taubah: 51).

Katakanlah bahwa tidak ada musibah apa pun yang akan menimpa kita, kecuali apa yang telah ditakdirkan. Oleh sebab itu, marilah kaum mukminin bertawakal ke Allah SWT. Ini kan ajaran tawakal.

Ayat lain menjelaskan:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

Artinya: “Di mana saja engkau Ada, akan terkejar oleh maut, kematian. Walaupun engkau Ada di benteng-benteng yang kokoh dan kuat” (QS an-Nisa:78).

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

قُلْ لَّنْ يَّنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ اِنْ فَرَرْتُمْ مِّنَ الْمَوْتِ اَوِ الْقَتْلِ وَاِذًا لَّا تُمَتَّعُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Lari tidaklah berguna bagimu, kalau engkau menyelamatkan diri dari kematian atau tindakan mematikan, dan kalau seperti ini (engkau terhindar dari kematian) engkau cuma akan mengecap kesenangan sebentar saja’,” (QS al-Ahzab: 16)   Jika engkau mau lari dari kematian dan tindakan mematikan, maka larimu tidak berguna bagimu, jika sungguh telah ditakdirkan mati. Ini ajaran takdir namanya.

Akan tetapi juga banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita agar supaya kita ini waspada dan mawas diri. Misalnya firman Allah SWT:

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah engkau menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, sebab sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Baqarah: 195)

Ayat ini mengandung arti begini: “Janganlah Anda semua melaksanakan hal-hal yang menyebabkan engkau celaka”. Sebaliknya: “jangan engkau meninggalkan hal-hal yang menyebabkan engkau celaka”. Ini kan ajaran mawas diri namanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: firra minal majdzûmi firaraka minal asad. “Hendaklah engkau lari”–maksudnya menghindar–“dari orang yang terjangkit penyakit kusta, sama halnya engkau mesti lari dari singa”. Dekat-dekat dengan orang yang mengidap penyakit kusta, sama dengan orang yang dekat dengan singa. Artinya dalam keadaan bahaya. Ini kan mesti mawas diri namanya.

READ
Humor Gus Dur: Boleh Nikah via Internet

Ini artinya bahwa ajaran tawakal dan ajaran waspada mesti berjalan seiring. Dalam waktu yang sama kita tawakal, dan dalam waktu yang sama pula kita mesti mawas diri dan mesti waspada. Artinya tidak ada pertentangan antara ajaran tawakal dan ajaran waspada dan mawas diri. Wajib sama-sama ditunaikan.

Ada 2 hadits yang sekilas kelihatan bertentangan: “firra minal majdzûmi firaraka minal asad” dan “laa ‘adwa walaa tiyarata”. Bagaimana menurut kyai?  

Sungguh ada hadits yang secara dhahir bertentangan. 1 hadits menjelaskan seperti yang saya sampaikan tadi itu: “firra minal majdzûmi firaraka minal asad”. Hendaklah engkau menghindar dari orang yang terjangkit penyakit kusta, sebagaimana engkau mesti menghindar daripada singa.

Hadits yang 1 menjelaskan: “lâ ‘adwa walâ tiyrata”. Hadits ini menjelaskan bahwa yang namanya menular itu tidak ada. Sementara hadits ke-1 kan mengesankan penularan itu ada. Hadits yang ke-2 tegas menjelaskan lâ ‘adwa, ialah penularan tidak ada. Kan bertentangan, itu. Ini yang dalam ilmu hadits disebut dengan ilmu mukhtalifil hadits. Yang pertama-tama membikin istilah ini dan konsepnya sekalian ialah Imam Syafi’i radliyallahu ‘anh. Yaitu ada 2 hadits yang tampaknya bertentangan.

Berhadapan dengan hal yang seperti ini, pertama-tama yang mesti ditunaikan ialah melaksanakan al-jam’u, melaksanakan kompromi. Hal yang seperti ini mengajarkan ke kita bahwa tidak mungkin kita memahami 1 hadits, tanpa dikaitkan dengan hadits yang lain.

Kita tidak akan memahami hadits “firra minal majdzûmi..,” jika tanpa dikaitkan dengan hadits “laa ‘adwa…”. Sebaliknya, kita tidak akan memahami apa arti daripada “laa ‘adwa…” jika tanpa dikaitkan dengan “firra minal majdzûmi..”.

Ini artinya bahwa, penularan itu tidak ada dengan tabiatnya sendiri. Tidak ada sesuatu yang menular dengan tabiatnya sendiri. Sebaliknya: penularan itu ada dengan kehendak Allah SWT. Kehendak Allah SWT terkait dengan penularan ini akan terjadi kalau dikaitkan dengan bagian karena. Bagian karena yang menyebabkan penularan ialah “mukhalathathus shahiihi lil mariidli,” ialah berkumpulnya orang sehat dengan orang yang sakit. Berkumpulnya orang sehat dengan orang yang terjangkit penyakit kusta.

Jadi jika 2 hadits ini dimaknai, bahwa pada hakikatnya penularan itu tidak ada, terkecuali jika dikehendaki oleh Allah SWT, melalui sebab-sebab yang Allah SWT sendiri ciptakan.

Dalam keadaan darurat perang saja masih dianjurkan shalat jemaah, mengapa waktu berhadapan dengan virus Corona dicegah?  

Shalatul khauf atau shalat dalam suasana perang termasuk di dalamnya ialah shalat jemaah, sesungguhnya menyaksikan tata-caranya itu, Adalah perpaduan antara ajaran tawakal, dilihat dari 1 sisi, dan ajaran mawas diri dan waspada, di sisi lain.

Kita tahu bahwa jemaah dalam suasana perang itu tidak sepenuhnya mereka shalat bersama-sama. Sebab begini: jika dikatakan bahwa musuh tengah Ada di arah kiblat, maka jemaah yang ada dalam suasana perang itu dibagi jadi 2 shaf. katakanlah shaf ke-1 dan shaf ke-2. Mereka tidak sujud bersama-sama. Waktu shaf yang ke-1 itu sujud, maka shaf yang ke-2 tetap berdiri menjaga-jaga musuh. Baru saat shaf yang ke-1 itu bangun, maka shaf yang ke-2 itu baru sujud. Begitu seterusnya.

READ
Untuk Kemaslahatan Berbarengan, Akhirnya PBNU Menunda Munas dan Konbes NU di Sarang

Pada waktu musuh itu tidak Ada di arah kiblat, maka jemaah, yang tidak lain ialah para pasukan, itu dibagi 2 kubu, gantian shalat.   Ini dari 1 sisi ialah ajaran tawakal. Dalam suasana perang pun masih dianjurkan untuk shalat jemaah. Namun di sisi lain di situ ada ajaran mawas diri. Buktinya, ya ada praktik shalat seperti itu: gantian.

Di dalam Al-Qur’an dikatakan: walya’khudzu khidzrahum, hendaklah mereka itu mawas diri dan waspada. Ini kan dalam rangka kehati-hatian dan waspada. Tetapi berhadapan dengan Corona ini kan tidak dapat dibagi, sebab kita tidak tahu Corona sekarang tengah ada di mana? Tidak dapat dibagi-bagi jemaah itu, seperti jemaah dalam suasana perang, kan? Tidak mungkin.

Oleh sebab itu tidak ada jalan lain kecuali ya dicegah itu. Seandainya kita tahu bahwa yang tengah mengidap Corona itu Si A, barangkali SI A ini dikeluarkan saja dari masjid. Atau Coronanya Ada di selatan. Walhasil, ya tidak mungkin kita melaksanakan antisipasi sebagaimana kita menyaksikan musuh yang kasat mata, yaitu manusia itu.

Apa pesan kyai untuk santri, alumni pesantren dan masyarakat Nahdliyin?  

Taatilah ulil amri. Ulil amri ini ialah pihak yang mempunyai otoritas. Atau ulil amri itu siapa? Jika dalam soal agama – khususnya agama Islam – ialah para ulama, khususnya para fuqaha (ahli fikih). Jika dalam bidang kesehatan, para ulil amri atau orang yang punya otoritas ialah dokter dan pakar-pakar kesehatan. Para ulama sendiri tidak mungkin berfatwa menyangkut pelarangan tanpa lebih dulu tanya ke para dokter dan ahli kesehatan. Mereka wajib ditaati. Kalaupun ada sebagian ulama yang tak sama, walaupun jumlahnya amat sedikit, tapi negara kita telah ikut para ulama yang mencegah.

Dengan seperti ini, maka semua masyarakat negara terikat dengan keputusan negara itu. Jadi, dengan negara kita ini mengambil pandangan yang mencegah, artinya khilaf telah tidak ada. Jadi, hukmul hakim yarfa’ul khilaf. Oleh sebab itu, kita selaku masyarakat negara, kaum muslimin, yang sekaligus jadi masyarakat negara yang baik, mesti patuh ke ulil amri-nya. (Sumber: Warta Batavia)


Ini Penjelasan soal Larangan Shalat Jumat dan Berjamaah waktu Corona

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *