Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah

Felix Siauw

Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah

felix siauw Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah


Di channel telegram legal Felix Siauw (Aktivis Hizbut Tahrir) mecatat; “saya pernah ditanya mengenai hal bagaimana dakwah Islam dalam merubah warga. Tentu saja dengan contoh dari Rasulullah, bukan yang lain. Maka saya menyampaikan setidaknya ada 3 ciri dakwah Nabi, yaitu dengan pemikiran, pendekatan kekuasaan, dan tanpa ada aksi anarkis, begitu yang kita dapat dari sirah.” (Channel Telegram Felix Siauw Offcial, 6/8/2017).

Ummat Islam meyakini Muhammad saw ialah Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah Beliau. Selaku Nabi dan Rasul, Muhammad saw bukan manusia biasa. Dia saw orang spesial yang diutus Allah swt. Efektifnya selama 23 tahun Nabi Muhammad saw dakwah mulai dari bi’tsah di Makkah sampai wafat di Madinah. Kehidupan Beliau saw ialah sejarah spesial. Cuma terjadi sekali tidak akan terulang sampai hari kiamat. Karena itu ‘sejarah’ kehidupan Nabi Muhammad saw disebut sirah nabawiyah bukan tarikh.

Sirah Adalah kumpulan info global mengenai hal kehidupan Nabi saw yang disusun secara kronologis, diriwayatkan layaknya hadits. Pemahaman kepada kejadian dalam sirah nabawiyah amat mungkin berbeda-beda tergantung sudut pandang orang yang membacanya. Hal ini kelihatan dari banyaknya kitab sirah yang ditulis ulama menurut corak mereka masing-masing. Yang pasti pemahaman kepada sirah bukan sirah itu sendiri.

Sirah Nabawiyah jadi semacam road map aktivis gerakan Islam dalam mewujudkan kehidupan Islam secara totalitas (kaffah) yang meliputi seluruh aspek kehidupan (syumuliyah) sebab dalam sirah nabawiyah tergambar kehidupan Islam yang sempurna. Di samping sungguh telah kewajiban saban muslim untuk ikut Nabi Muhammad saw selaku uswah dan qudwah. 2 argumentasi ini, kewajiban mengamalkan syariah secara kaffah dan kewajiban ikut Nabi saw, jadi landasan syar’i kalangan aktivis gerakan Islam menapaktilasi sirah nabawiyah.

Dari kalangan Ikhwanul Muslimin terbit buku sirah nabawiyah yang populer di kalangan aktivis mereka, di antaranya: Manhaj Haraki karangan Syaikh Abdul Munir Ghadban, Sirah Nabawiyah yang ditulis Syaikh Said Ramadhan al-Buthi dan Fiqih Sirah karya Syaikh Muhammad al-Ghazali. Sayyid Quthub di kitab Hadza al-Islam dan Ma’alim fi ath-Thariq juga menyebutkan urgensi menapaki jalan dakwah Nabi saw untuk mewujudkan generasi yang sama dengan generasi awal Islam.

Hizbut Tahrir lebih tegas lagi mengakui bahwa metode dakwah mereka ikut metode (thariqah) dakwah Nabi saw. Secara spesial ada 4 kitab yang mengurai metode dakwah Nabi saw yaitu kitab Ta’rif Hizbut Tahrir yang ditulis Syaikh Abdul Qadim Zallum, Daulah Islam karangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Manhaj Hizbut Tahrir li Taghyir dari materi presentasi delegasi HT di Amerika dan kitab Dakwah Islam yang disusun oleh Syaikh Ahmad Mahmud.

Uniknya, dari sirah yang sama menghasilkan pola gerakan yang tak sama, IM melaksanakan aktivitas ishlah berangsur dan alami min fardhiyah ila daulah dalam sistem kehidupan yang tengah berjalan sedangkan HT melaksanakan gerakan revolusi total taghyir min nizhamul kufr ila Daulah Khilafah. Kecuali IM dan HT, masih ada jama’ah dakwah yang mengambil Sirah selaku sumber inspirasi gerakannya menyebut saja misalnya Jama’ah Tabligh, Hidayatullah, DI/TII Kartosuwiryo.

BACA JUGA :
Astaghfirullah! Begini Strategi Propaganda Online Kelompok Teror di Indonesia, Simak Penelusurannya

3 hal yang Penting dicermati dari pemahaman jama’ah dan harakah Islam berkenaan dengan sirah nabawiyah. Sirah nabawiyah selaku inspirasi model pengorganisasian kubu dakwah, sifat dakwah dan metode praktis serta maksud akhir kubu dakwah.

Sungguh telah seharusnya ummat Islam termasuk Felix Siauw beserta teman-teman HTI-nya ikut sunnah Nabi saw dalam berdakwah. Ini niat mulia. Tetapi niat mulia tanpa pemahaman yang benar akan menjerumuskan untuk amalan yang sia-sia.

Kalau maksud ikut sirah nabawiyah untuk meng-copy perjalanan dan kehidupan Islam di masa Nabi saw, lalu mem-paste-nya di perkumpulan mereka dan kehidupan ummat masa sekarang, tentu pemahaman ini tidak ada faktanya. Andaikan memasukkan gajah ke lubang jarum. Kehidupan Islam di bawah bimbingan wahyu Allah, dipimpin oleh Nabi Allah swt mustahil terulang kembali.

Kehidupan di masa Nubuwwah amat ideal dan sempurna sehingga pasti cita-cita ingin hidup sama persis seperti itu lebih Adalah angan-angan kosong. Bukan kehidupan sama persis dengan zaman Nabi saw yang dimaksud dengan Islam kaffah.

Paling realistis bagi jama’ah dan harakah Islam ialah menjadikan sirah nabawiyah selaku dasar untuk membikin formula dakwah yang dikenal dengan istilah manhaj/minhaj nubuwwah. Masing-masing jama’ah dan harakah punya makna tersendiri atas manhaj/minhaj nubuwwah. Perbedaan makna ini akibat perbedaan streesing dalam membaca sirah.

Ciri dakwah Nabi saw yang disampaikan Felix Siauw di tulisan yang berjudul The Right Way pada channel telegram, mengambil dari pandangan HTI. Wajar sebab dia aktivis HT di Indonesia. Ciri dakwah Nabi saw fikriyah, siyasiyah wa la unfiyah (pemikiran, politik dan tanpa aksi anarkis). Ciri ini disimpulkan oleh HTI dari Sirah Nabawiyah.

Problem muncul tatkala pemahaman kepada sirah nabawiyah mau diterapkan dalam kehidupan nyata sekarang, dimana Nabi saw telah wafat, wahyu telah berhenti turun, fikrah Islam amat bermacam, kepentingan, aspirasi dan ekspresi politik ummat majemuk. Tidak ada lagi ototitas tunggal yang berhak mengatasnamakan Islam.

Waktu Nabi saw masih hidup, manusia cuma ada 2 golongan, muslim dan kafir. Fikrah Islam vis to vis fikrah jahililiyah. Fikrah Islam bermakna aqidah wa syariah. Fikrah Islam 1 pihak, Fikrah kafir di pihak lain. Dalam konteks Indonesia sekarang naif sekali kalau Felix Siauw dan kawan-kawan HTI-nya memposisikan fikrah-nya selaku fikrah Islam seperti dalam settingan sirah nabawiyah.

Makna fikrah Islam di tengah-tengah ummat yang heterogen sekarang ini ialah fiqih. Fiqih sendiri hasil pemahaman kepada syariah. Amat relatif, tentatif dan kompetitif tatkala berjumpa fiqih yang tak sama. Fiqih HTI yang diikuti Felix Siauw belum tentu sama dengan fiqih NU, Muhammadiyah, FPI, Persis, al-Irsyad, dan lain-lain.

Adapun siyasah selaku ciri dakwah Nabi saw dijelaskan Felix: “Kecuali itu, semenjak awal Nabi juga telah mengarahkan dakwahnya pada penerapan Islam secara total melalui kekuasaan. Waktu beliau hijrah ke Madinah, itu terwujud.” Dakwah dengan pendekatan kekuasaan.

Muhammad saw Nabi dan Rasul terakhir. Misi Beliau saw mengajak manusia menyembah Allah swt tanpa mensekutukan-Nya. Beliau saw mengajar, membimbing dan memberi contoh bagaimana beribadah untuk Allah swt dalam segala aspek kehidupan.

Untuk itu kekuasaan politik dibutuhkan selaku fasilitas. Kekuasaan bukan maksud Beliau saw. Beliau saw diutus bukan untuk jadi penguasa. Beliau saw bukan Khalifah. Beliau saw Nabi dan Rasul yang mempergunakan kekuasaan untuk menyempurnakan misinya.

BACA JUGA :
Alhamdulillah! Densus 88 Amankan 10 Orang Terduga Teroris di Merauke

Nabi Muhammad saw tidak menuntut kekuasaan semenjak awal dakwahnya. Dia saw meminta orang kafir Quraisy beriman untuk Allah swt. Tawaran kekuasaan agar Beliau saw menghentikan dakwah yang diusulkan pembesar Kafir Qurais ditolaknya. Pun di Madinah, Beliau saw tidak meminta kekuasaan politik. Kekuasaan politik yang diberikan oleh para pemimpin suku ‘Aus dan Khazraj tidak lebih selaku konsekuensi keimanan mereka untuk Allah swt dan Rasul-Nya.

Saat aspek siyasah dalam sirah nabawiyah akan diterapkan dalam konteks Indonesia, mungkin Felix Siauw menutup mata bahwa telah ada penguasa syar’i yang dipilih ummat untuk memimpin mereka. Dari Presiden sampai ketua RT. Siyasah selaku usaha meraih kekuasaan untuk menerapkan syariat seperti yang tertera dalam sirah, tidak relevan diikuti sebab sungguh tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad saw.

Pemberian kekuasaan secara mutlak oleh para pemimpin ‘Aus dan Khazraj untuk Muhammad saw sebab kapasitasnya selaku Nabi dan Rasul yang wajib diimani. Apakah sekarang ada orang memilliki kemampuan seperti sehingga pantas menerima kekuasaan secara mutlak dari ummat.

Pantaslah konsep thalabun nushrah yang diadopsi Felix Siauw dari HTI, ditengarai untuk melegitimasi metode kudeta HT untuk meraih kekuasaan di luar cara-cara pemilihan pemimpin yang normal berdasar prinsip ridha wa ikhtiar (suka rela dan atas pilihan bebas).

Siyasah dengan makna thalabun nushrah konsep ngawur yang bertentangan dengan ajaran Islam mengenai hal kebebasan memilih pemimpin politik.

Aktualisasi ciri siyasah dakwah Nabi saw lebih pas dengan patuh bersyarat untuk penguasa pilihan ummat. Patuh kalau penguasa menerapkan aturan yang sesuai, seirama dan serasi dengan aturan Allah swt (syariah) dan mengontrol, mengoreksi serta Tidak mau patuh kalau penguasa maksiat untuk Allah swt pada perkara yang dimaksiatinya saja, seraya tetap mengakui kekuasaannya. Tidak boleh melaksanakan kudeta selagi pemimpin masih shalat.

Adapun ciri dakwah Nabi saw yang terakhir yaitu la unfiyah (tanpa aksi anarkis) telah jadi bagian integral dakwah Islam semenjak dulu. Walisongo, para Kyai NU, da’i-da’i dari ormas lain telah lebih dulu dakwah tanpa aksi anarkis dengan dakwah bil lisan, bil qalam dan bil hal.

Terakhir. Keinginan ikut metode dakwah Nabi saw dengan menerapkan sirah nabawiyah apa adanya sesuai pemahaman sendiri tanpa memperhatikan fiqih dakwah akan berbenturan dengan realitas ummat. Ummat sekarang bukan ummat tatkala Nabi Muhammad saw masih hidup. Ummat ini ummat yang hidup sesudah 1448 tahun wafatnya Nabi saw. Ummat ini hidup bersama-sama dan dalam bimbingan ahli waris para Nabi ialah para ulama waratsatul ambiya.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://www.facebook.com/ayik.heriansyah.39/posts/169224887994468

(Suara Islam)


Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah

Recommended For You

About the Author: Ahmad Abrori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *