Kategori
Islami

Innalillah! Gunakan Antigen Bekas, Manajer Kimia Farma Raup 30 Juta Per Hari

Penjabat kantor Kimia Farma ditetapkan sebagai tersangka bersama empat orang lainnya terkait penggunaan alat tes antigen bekas. (CNN Indonesia / Farida)


Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara mengungkapkan bahwa penggunaan antigen yang digunakan di bandara Kualanamu, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) sebenarnya didaur ulang di Laboratorium Kimia Farma yang terletak di Jalan RA Kartini No. 1 Desa Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan. , Sumatera Utara.

Selain itu, Polda Sumut menyatakan Plt Direktur Niaga Laboratorium Kimia Farma di Medan berinisial PM yang merangkap sebagai Kepala Bidang Pelayanan Kimia Farma.

Perlu dicatat bahwa Kualanamu Airport Diagnostics memperoleh keuntungan sebesar Rp 30 juta per hari dari layanan analisis antigen menggunakan peralatan bekas. Nilai nominal itu terungkap dari pemeriksaan Direskrimsus Polda Sumatera Utara.

“Jadi sisanya sekitar 150 pasien merupakan keuntungan yang didapat PM dari penggunaan antigen bekas. Dimana rata-rata keuntungan dari penggunaan antigen bekas yang diterima dari PM sekitar Rp 30 juta per hari,” kata Panca kepada Polda Sumut. Markas Besar, Kamis (29/4).

Dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi, Panca menyatakan layanan antigen yang digunakan dilakukan oleh pegawai Laboratorium Kimia Farma yang beralamat di Jalan RA Kartini nomor 1, Desa Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan. Itu pun sudah dilakukan sejak Desember 2020 lalu.

“Ini sudah mereka lakukan sejak 17 Desember 2020 dan diperuntukkan untuk dilakukan swab di bandara Kualanamu. Yang memerintahkan untuk mendaur ulang atau menggunakan antigen itu adalah PMnya,” kata Panca.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan lima tersangka, termasuk PM (45). Kemudian SR (19) sebagai kurir dari Laboratorium Kimia Farma Medan yang bertugas mengangkut peralatan yang digunakan untuk swab antigen dari bandara Kualanamu ke Laboratorium Kimia Farma.

Kelima tersangka tersebut dijerat Pasal 98 ayat (3) juncto Pasal 196 UU Kesehatan nomor 36 tahun 2009 dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar dan / atau pasal 8 huruf (b), (d) dan (e).) Jo Pasal 62 ayat (1) Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 2 miliar.

(Warta Batavia)


Innalillah! Gunakan Antigen Bekas, Manajer Kimia Farma Raup 30 Juta Per Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *