Jaga Kualitas Penjualan, Digitalisasi UMKM Sebuah Kewajiban

Jaga Kualitas Penjualan, Digitalisasi UMKM Sebuah Kewajiban

Jaga Kualitas Penjualan, Digitalisasi UMKM Sebuah Kewajiban

Jakarta, Warta Batavia — Lebaran pada tahun 2020 ini amat tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab dampak dari pandemi COVID-19, lebaran tahun sekarang diwarnai dengan keprihatinan, salah satunya kepada pelaku UMKM.

UMKM biasanya sanggup berhadapan dengan krisis seperti pada tahun 1998 dan 2008. Tetapi pada masa pandemi ini, UMKM amat terpukul. Dampak yang dinikmati pelaku UMKM pada waktu menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak yang mesti beralih usaha untuk dapat bertahan hidup.

Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Jend. Pergerakan Masarakat Milenial (PMM), Mukhtar Ansori Attijani pada Jumat (22/5/2020).

Menurut Mukhtar, pemerintah mesti cepat memberikan sokongan agar bagian UMKM dapat kembali bangkit. Penting ada pelatihan dan pendampingan pemanfaatan platform digital atau online untuk pelaku UMKM. Kecuali itu pelaku UMKM mesti memperoleh sokongan Sarana agar dapat mempergunakan platform online seperti akses dan pulsa, kualitas sinyal yang baik, dan kebutuhan logistik.

“Bulan Juni-Juli akan jadi titik kritis bagi pelaku UMKM. Oleh sebab itu, pasca Lebaran ini, pemerintah mesti bertindak cepat untuk memberikan stimulus. Pemerintah dan swasta di Indonesia mesti memberikan dukungan permodalan untuk UMKM. Anjuran kami ini juga berdasar rekomendasi dari webinar yang Dilakukan PMM beberapa waktu lalu mengenai hal taktik bertahan UMKM di tengah pandemi COVID-19,” terang Mukhtar seperti dilansir dari siaran pers.

READ
Dzikir Pagi dan Petang sesudah Shalat Ijazah Abah Guru Sekumpul

sebelum ini, pada hari Kamis (14/5), PMM menggelar Webinar dengan topik `Kesempatan dan Taktik Bertahan UMKM di Tengah Pandemi COVID-19`. Datang beberapa pembicara, di antaranya, Ekonom yang juga pernah jadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Prof. Dr. Sri Adiningsih, Staf Spesial Menteri Koperasi dan UKM, Fiki Chikara Satari, Pelaku Koperasi Abner Nones, dan Pendiri Rumah Milenial Indonesia yang juga Pegiat UMKM Sahat Martin Philip Sinurat.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dan Founder Institute of Social Economic and Digital, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. menjelaskan bahwa merebaknya pandemi Covid-19 sudah berdampak pada Pergantian segmentasi pasar, konsumen sekarang mulai beralih diri dengan penjualan dan pemasaran digital.

“Kedepan saya kira digitalisasi UMKM yang jumlahnya 3 juta, mesti menggunakan teknologi dan tentunya edukasi serta adanya pendampingan untuk menjaga kualitas penjualan,” ujarnya.

Menurut eks Ketua Watimpres di periode ke-1 pemerintahan Presiden Joko Widodo ini, pelaku UMKM mesti dapat sokongan Sarana agar dapat mempergunakan platform online, seperti akses, pulsa, kualitas sinyal yang baik, dan kebutuhan logistik.

“Pelaku UMKM telah mesti dapat menggunakan teknologi (online) agar usahanya sanggup bertahan,” jelasnya.

Staf Spesial Menteri Koperasi & UKM, Fiki Satari menjelaskan bahwa sebelum pandemi COVID-19, Ada 87% UMKM di Indonesia yang masih berbasis offline.

Fiki juga menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM tengah memotivasi gerakan go digital bagi UMKM di Indonesia dengan menghadirkan program-program kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berupa seri podcast, kakak Asuh UKM, warung sembako online, serta pusat pelayanan konsultasi.

READ
Ekspor Capai USD 4 Miliar, Kemampuan Industri Pengolahan Ikan Terus Dipacu

“Kita ingin menjaga mekanisme pasar dan di antaranya, warga yang membagikan sembako dapat Ikut membantu pelaku UMKM. Jangan beli bahan-bahan tersebut ke agen besar. Beli barang-barang tersebut di warung-warung Jiran. Pemerintah juga mempunyai program katalog warung Jiran yang sampai waktu ini telah mendata kisaran 110 warung di Jabodetabek dan akan terus ditingkatkan,” lanjut Fiki.

Pendiri Rumah Milenial Indonesia, Sahat MP Sinurat menyampaikan bahwa di masa pandemi COVID-19 ini terjadi Pergantian pada UMKM akibat pembatasan yang ada, sehingga UMKM mesti berubah digital.

“UMKM yang sebelum pandemi ini telah mempergunakan cara digital cenderung lebih kuat bertahan di masa pandemi. Kondisi normal baru memaksa kita untuk lebih banyak mempergunakan teknologi digital di dalam aktivitas sehari-hari,” kata Sahat.

Sahat menilai, UMKM mesti memperoleh stimulus ataupun dukungan permodalan agar dapat bangkit dan eksis kembali, khususnya di tengah masa pandemi ini.

“Permasalahan permodalan di masa pandemi ini dapat diselesaikan salah satunya dengan model Indo to Indo investment. Model ini menuntut peran aktif pemerintah atau swasta di Indonesia untuk memberikan akses permodalan ke UMKM agar aktivitas ekonomi UMKM dapat kembali berjalan, dan prosesnya juga jangan berlebihan berat. Dengan adanya akses permodalan ini akan merangsang roda ekonomi di tengah warga. Menyelamatkan UMKM ialah langkah menyelamatkan kehidupan rakyat banyak,” pungkas Sahat. (Very)

READ
Makna Kemabruran Haji

Jaga Kualitas Penjualan, Digitalisasi UMKM Sebuah Kewajiban

loading...

Recommended For You

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *