Jalan keluar Waktu Pandemi, Seluruh Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru

Jalan keluar Waktu Pandemi, Seluruh Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru

Surabaya, Warta Batavia
Pandemi Covid-19 sungguh-sungguh melumpuhkan nyaris semua sendi kehidupan di Tanah Air. Penduduk wajib menerima keadaan sebenarnya kegiatannya dibatasi, sementara pemerintah masih mencoba mencari formula the best agar sebaran virus tidak makin merebak. Pada waktu yang sama juga memastikan roda perekonomian berjalan sesuai harapan.

 

Dalam implementasinya di lapangan, menjembatani 2 kepentingan ini ternyata tidak mudah. Baik pemerintah dan penduduk sama-sama mengalami kegagapan dalam berhadapan dengan pandemi covid-19. Mengingat, permasalahan yang muncul terus berkembang dan berdampak ke bagian lain. Sehingga, keputusan strategi yang dikeluarkan untuk menangani permasalahan ini sering kontradiktif di warga. Penduduk juga ikut bingung dan tergagap-gagap dalam memahami keputusan strategi pemerintah maupun permasalahan baru yang terus bermunculan.

 

Sejumlah permasalahan tersebut mengemuka pada dialog online bertopik ‘New Normal: Berdampingan dengan Corona’ yang dihelat Pengurus Pusat Ikatan Famili Alumni (IKA) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Jumat (22/5). 

 

Di 1 sisi pemerintah menerapkan keputusan strategi Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB, akan tetapi ada keputusan strategi lain yang memperbolehkan transportasi umum beroperasi. “Ini kan dapat kontraproduktif,” kata Bupati Lumajang, Thoriqul Haq waktu menyampaikan paparan. 

 

Seperti ini pula terkait sokongan yang diberikan pemerintah untuk warga terdampak Covid-19. Ada janda yang sebelum pandemi telah miskin, lalu ada pelaku usaha katering yang usahanya mandek telah 2 bulan lebih sebab tidak ada pesanan. Padahal, yang bersangkutan wajib menuntaskan kewajiban membayar buruh dan kredit di bank untuk modal usaha. 

READ
Cerita Nabi Muhammad 1: Lahirnya Cahaya

 

“Mana yang wajib dibantu lebih dulu? Ini dilema. Belum lagi permasalahan yang lain, seperti Penting mendahulukan penyelesaian dari sisi kesehatan atau sosial ekonominya. Akibatnya, banyak warga yang tidak percaya dengan keputusan strategi pemerintah,” keluh alumnus Fakultas Adab UINSA tersebut. 

 

Sementara itu, Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jatim, Ismail Nachu menyampaikan bahwa, kegagapan tidak cuma dialami pemerintah tapi juga semua komponen warga. Sebab itu, agar tidak makin gagap harusnya saling menyokong dan membantu menuntaskan masalah, bukan saling menyalahkan. 

 

“Karena, akan jadi bahaya bila sampai menimbulkan distrust (ketidakpercayaan) warga kepada pemerintah,” papar Ismail yang juga dikenal selaku Pebisnis properti. 

 

Ismail mengajak seluruh komponen warga untuk mempergunakan akal sehat dalam berhadapan dengan pandemi. Di antaranya dengan mengedepankan berpikir hikmah. Yaitu, mengajak untuk melaksanakan kebaikan berbarengan. 

 

“Kita wajib sadarkan rakyat supaya sedikit ngersulo (mengeluh), melainkan wajib senantiasa positif thinking (berpikir positif),” ajak Ismail.

 

Terkait dengan era new normal pada masa pandemi, Thoriqul Haq menganjurkan untuk mengurai dulu problematikanya. Apakah itu terkait dengan new culture, new economic, new social maupun new schooling. Misalnya, agar pelaku usaha tidak terus mati sebab pandemi Corona tidak diketahui sampai kapan berakhir, akhirnya dibuat keputusan strategi baru. Seperti PKL, pasar dan mal diizinkan buka kembali. Masjid-masjid diizinkan menggelar ibadah, dan lain sebagainya. 

READ
Ini 5 Hal yang Dapat Merusak Pahala Puasa

 

“Tetapi, langkah bijak itu wajib disertai dengan pembatasan atau pengetatan agar Corona tidak terus berkembang. Seperti inilah bentuk new normal. Jadi, wajib ada pembatasan-pembatasan yang lebih keras sebab ini sungguh pilihannya supaya rakyat tidak makin terpuruk dari sisi sosial ekonominya,” papar Thoriq.

 

Apa yang disampaikan Thoriq juga diamini oleh Ismail Nachu. Dirinya menjelaskan secara terus jelas mengenai hal ketidaksetujuannya dengan keputusan strategi pemerintah yang mencegah masjid menggelar ibadah berjamaah. 

 

“Jangan masjidnya yang ditutup, tetapi orang beribadah ke masjid diperlakukan dengan pembatasan sesuai petunjuk dari para ahli yang mengerti,” pungkasnya. 

 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 

Jalan keluar Waktu Pandemi, Seluruh Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru
Sumber: NU-Online

loading...

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *