Kata Intelijen dan Prediksi Puncak Kasus COVID 19
Kata Intelijen dan Prediksi Puncak Kasus COVID 19

Kata Intelijen dan Perkiraan ujung tertinggi Perkara COVID-19

Diposting pada 25 views

Kata Intelijen dan Perkiraan ujung tertinggi Perkara COVID-19

13 Maret yang lalu, mungkin banyak yang salah tangkap bahkan cenderung mencemooh waktu bagian Deputi BIN, menyampaikan prediksinya.

Kok Perkiraan COVID-19 ditunaikan intel? BIN tahu apa?

Kira-kira begitu tanggapan orang-orang di luar sana.

Dapat dimaklumi, sebab dapat jadi mereka punya trauma, pengalaman, dan pengetahuan di masa lampau, wabil spesial di era Orba, dengan lembaga negara ini, maupun orang-orang mereka, walaupun tidak sepenuhnya pas!

Menurutku, pernyataan Deputi BIN itu sejatinya kasih alert, beliau memukul lonceng tanda bahaya! Ke siapa? Kita seluruh!

Ya, jika baca UU Intelijen, sejatinya single pengguna BIN ya Presiden, seluruh Perkiraan dan analisis tidak boleh disampaikan langsung terbuka ke publik…

Akan tetapi piye maneh?

Skenario terburuk dampak COVID-19 ini wajib diketahui banyak orang, agar aware, sadar, dan sama-sama dapat mengantisipasinya…

Menurut berita-berita yang kubaca, Perkara COVID-19 ini diprediksi oleh BIN akan terjadi di bulan Ramadhan, pada waktu musim mudik tiba.

Musim mudik, ialah waktu migrasi besar-besaran dari kota-kota ke desa-desa.

Ya, termasuk dari kota-kota yang masuk ZONA MERAH utawa Perkara positif COVID-19 terkonfirmasi amat banyak dan berdampak di saban kecamatan dan kelurahan!

Sekarang, coba bayangkan sejenak.

Bagaimana kalau dari jutaan pemudik itu ada yang positif COVID-19, tapi gak tahu jika mereka sejatinya positif?

READ
Edy Rahmayadi, PSSI Dapat Apa?

Sebab gak terasa berat gejalanya, cuma merasa sumeng, demam biasa, batuk-pilek biasanya, dan sebagainya.

Dalam Perkiraan BIN pula, seperti yang terbaca, pada masa puncak, akan terjadi lonjakan Perkara eksponensial, 4.000 Perkara per hari.

Ya, 4.000 Perkara per hari!

Bagaimana jika itu terjadi dan sebarannya di desa? Di kampung-kampung? Di pulau-pulau terpencil? Di wilayah yang akses dan Sarana kesehatan maupun tenaga medisnya sangat-sangat terbatas?

Kabooom!

Tetapi itu khan di desa, di kampung, di wilayah terpencil, bukan di kota? Kita yang #StayAtHome di kota dan gak mudik, aman dong?

Wooooi!
Bangun!

Anda semua terpikir gak sih, itu beras kita ditanam di mana? Sayur-mayur segar yang kita makan itu kebanyakan metik di mana? Sapi, kambing, ayam dan telornya itu lebih banyak dikembang-biakkan dan diternakkan di mana? Ikan-ikan dan produk laut kita diambil dan diolah di mana?

They die, you die, we die!

Dan tampaknya, analisis intelijen yang Memperkirakan puncak Perkara COVID-19 jatuh di bulan Mei, dapat jadi Hadir lebih cepat.

Sebab seperti dalam jejak digital OSINT (Open Source Intelligence) atau sederhanya hasil googling, diketahui bahwa ada ribuan perantau dari Wonogiri memilih mudik lebih cepat!

Dan…

Bagian positif COVID-19 di Wonogiri, Adalah Driver Bus jurusan Wonogiri!

Sampai sini, apakah dapat dipastikan di antara ribuan perantau yang naik bus yang dikemudikan driver bus yang positif COVID-19 itu tidak tertular? Bisakah dipastikan mereka gak berkemungkinan jadi carrier di daerahnya, di desanya, di kampungnya?

READ
Penyiapan Akomodasi jema'ah Haji Indonesia di Makkah Nyaris Final

Itu baru 1 Perkara perantau yang mudik ke Wonogiri? Bagaimana dengan perantau dari daerah lain yang juga telah mudik duluan? Apakah mereka seluruh telah dipastikan buruk COVID-19 dan aman-aman saja mudik ke desanya, ke kampungnya, ke pulau asalnya? Bagaimana jika tidak ada kepastian terkait status mereka?

Telah terbayang?

Dalam beberapa hari ke depan, kita wajib siap-siap menguping lonjakan Perkara, seperti Perkiraan BIN sebelumnya, 4.000 Perkara per hari.

Wis yo, next time, jika ada yang kasih alert, early warning, jangan dinilai enteng, apalagi diacuhkan – terlebih waktu kita gak tahu betul bagaimana kerja mereka hari-hari ini…

Akhirnya, sampai sini, saya cuma dapat mengatakan dengan tegas lagi “prepare for the worst, hope for the best” – bersiap untuk seluruh kemungkinan terburuk, tetapi tetap tidak berhenti, tidak terputus, berkeinginan senantiasa yang the best.

‘Alaa kulli hal, saya cuma dapat bermunajat – dengan wirid seperti yang pernah diajarkan Almarhumah Ummi waktu anaknya dirundung sedih, kecewa dan kuatir maupun berhadapan dengan ujian – dan juga sudah diijazahkan langsung oleh Mbah kiai Mustofa Bisri beberapa hari lalu:

اَللهُ الْكَافِى رَبُنَا الْكَافِى قَصَدْنَا الْكَافِى وَجَدْنَا الْكَافِى لِكُلِ كَافٍ كَدَفَانَا الْكَافِى وَنِعْمَ الْكَافِى اَلحَمْدُ لِلهِ

Allahul kafii, robbunal kafii, qosshodnal kafii, wajadnal kafii, likulin kafii, kafanal kafii, wa nimal kafii alhamdullilah

READ
Cegah Virus Corona, Banser Sidorejo Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Masjid dan Sekolah

Allah yang mencukupi, Tuhan kita yang mencukupi, yang mencukupi seluruh maksud keinginan kita, yang mencukupi segala sesuatu, yang mencukupi segala kebutuhan, dan Allah lah sebaik-baik Zat yang mencukupi, segala puji bagi Allah.

Penulis: Dr Mahmud Syaltout, Wasekjend PP GP Ansor.


Kata Intelijen dan Perkiraan ujung tertinggi Perkara COVID-19

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *