Kategori
Berita

Ke Period Kendaraan Listrik Tenaga Baterai, Ini Peta Jalan dari Kemenperin

Suara.com – KBLBB atau Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electrical Car) jadi bagian kunci penting bagi Indonesia di masa depan. Khususnya untuk pengadaan udara bersih atau bebas polusi.

Dilansir dari kantor berita Antara, menindaklanjuti amanat Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 mengenai hal Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electrical Car) atau KBLB untuk Transportasi Jalan, Kementerian Perindustrian mengumumkan 2 peraturan.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. [Antara]
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. [Antara]

Aturan ini yaitu Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27 Tahun 2020 mengenai hal Spesifikasi, Peta Jalan Pengembangan, dan Ketentuan Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri Kendaraan Bermotor Dalam Negeri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electrical Car), serta Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 28 Tahun 2020 mengenai hal Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai dalam Kondisi Terurai Komprehensif dan Kondisi Terurai Tidak Komprehensif.

“Melalui ke-2 peraturan ini Kemenperin memberikan petunjuk bagi para stakeholder industri otomotif mengenai hal taktik, keputusan strategi dan program dalam rangka mencapai goal Indonesia selaku foundation produksi dan hub ekspor kendaraan listrik,” gamblang Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Senin (2/10/2021).

Baca Juga:
Tampil di Expo 2020 Dubai, Kemenperin Ungkap Kemungkinan Industri Otomotif Indonesia

Hal itu disampaikan Menperin dalam pembukaan bazar “The Future Electrical Car Ecosystem for Indonesia” di JIEXPO, Jakarta.

Berikutnya, Kemenperin menyusun skema importasi KBLBB dalam Kondisi Terurai Komprehensif dan Kondisi Terurai Tidak Komprehensif selaku bagian tahap pengembangan industrialisasi KBLBB di Indonesia.

Berdasar Peta Jalan Pengembangan KBLBB, pengembangan industri diawali melalui skema Fully Knock Down (CKD) sampai dengan tahun 2024, dilanjutkan dengan Incompletely Knock Down (IKD), dan Importasi secara half by half.

“Skema ini ditujukan agar diperoleh nilai tambah berupa peningkatan nilai TKDN melalui pendalaman manufaktur secara berangsur sampai 2030,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

BACA JUGA :   Nia Zulkarnaen-Ari Sihasale semangati atlet Jabar berlaga di Peparnas

Pendalaman manufaktur ini diplaningkan untuk dapat melibatkan sebanyak-banyaknya pelaku industri komponen lokal pada proses bisnis pembuatan ekosistem industri kendaraan listrik.

Baca Juga:
Gagal Capai Komitmen, Pengembangan Mobil Listrik Apple Terhambat

Kemenperin mengumumkan, industri kendaraan listrik di Indonesia mempunyai Kewajiban untuk memperhatikan pengembangan Industri komponen.

alasannya, sejumlah 1.550 perusahaan industri komponen yang terbagi dalam 3 tier selama ini jadi pemasok Inti komponen kendaraan Inner Combustion Engine (ICE). Sebagian besar di antaranya (member tier-2 dan tier-3) Adalah industri kecil dan menengah.

“Proses transisi industrialisasi dari kendaraan konvensional dan kendaraan listrik wajib dapat semaksimal mungkin melibatkan bagian IKM yang selama ini jadi tulang punggung perekonomian nasional,” kata Menperin.

Dalam peta jalan itu Ada panduan penguasaan komponen Inti kendaraan bermotor, yaitu baterai, motor listrik dan konverter.

“Dalam kerangka itu, kami juga memacu pengembangan industri baterai dari mulai proses perakitannya sampai dengan daur ulang baterai, sehingga Indonesia dapat punya industri baterai terintegrasi dan siap untuk menyokong ekosistem industri mobil berbasis listrik,” ucap Menperin.

SUARA DOTCOM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *