Kebajikan dalam Prinsip Kedaruratan | The Truly Islam

Astaghfirullah Hoaks Bermunculan Pasca Pembatalan Haji 2021 Mulai Kuota sampai Dana Kebajikan dalam Prinsip Kedaruratan | The Truly Islam
Ilustrasi, Masjid Agung. (Foto: AFP)


Disarankan agar shalat Idul Adha di seluruh Indonesia dilakukan di rumah masing-masing. Alasannya kita semua tahu, karena pandemi Covid-19 sedang berkecamuk. Indonesia kini berada dalam situasi yang sangat serius, termasuk yang terburuk di dunia. Ini adalah situasi yang sangat genting. Oleh karena itu, langkah yang harus kita ambil juga harus sesuai dengan keadaan.

Sholat Idul Adha merupakan ibadah sunnah yang dalam keadaan normal bisa ditinggalkan, apalagi dalam keadaan darurat. Bahkan, pemerintah dan ulama juga telah memastikan bahwa shalat Jumat wajib ditiadakan untuk sementara waktu. Keputusan itu jelas dibuat dengan pertimbangan yang sah, berdasarkan aturan fiqh. Tidak perlu ada tindakan hukum terhadap keputusan semacam itu.

Masalahnya seringkali orang yang tidak menggunakan dasar pertimbangan ilmu agama, tetapi hanya menggunakan selera. Tidak baik mengabaikan kewajiban yang telah Allah perintahkan. Ini seperti mendurhakai Tuhan, tetapi tidak ada kontradiksi. Memaksa untuk terus berkumpul dan beribadah yang mengakibatkan kerugian sebenarnya merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Allah.

Bukan hanya kami. Kota Mekkah sebagai pusat peribadatan umat Islam juga menerapkan hal yang sama. Pemerintah Arab Saudi telah membatasi jumlah jemaah haji dan sangat membatasi akses ke Masjidil Haram. Praktis tempat suci itu ditutup untuk kegiatan di luar ziarah.

Tujuan kita sekarang adalah untuk melindungi diri kita sendiri dan orang lain. Ini juga perintah Tuhan, jangan salah paham dengan prinsip yang salah, mengatakan bahwa kematian adalah kehendak Tuhan, maka manusia bisa lengah. Kematian adalah takdir Allah, tetapi melindungi diri sendiri dan orang lain adalah kewajiban manusia.

Tujuan selanjutnya adalah membantu orang yang membutuhkan. Muhammadiyah telah mengambil langkah yang sangat mulia dengan merekomendasikan agar dana yang semula diperuntukkan bagi pembantaian qurban disalurkan untuk membantu mereka yang terkena dampak pandemi ini.

BACA JUGA :   Innalillah! Kamar Isolasi Covid-19 Memprihatinkan, Warganet ke Anies: Anggaran Formula E dan Jalur Sepeda Milyaran, untuk Covid Malah Minta Sumbangan!

Mereka berdua memiliki tujuan yang sama. Pengorbanan juga bertujuan untuk membantu orang yang membutuhkan. Namun dalam situasi saat ini, bantuan daging kurban sudah menjadi sangat mewah, dimana yang paling dibutuhkan masyarakat adalah sesuatu yang dapat menopang kehidupan mereka dalam arti harafiah, yaitu obat-obatan dan alat kesehatan. Bantuan tersebut harus diberikan prioritas tertinggi.

Pemikiran kita tentang standar kebajikan harus diubah, disesuaikan dengan keadaan. Dalam keadaan darurat, prinsip-prinsip darurat harus menjadi dasar pemikiran. Sangat salah jika pemikiran di balik tindakan masih dipegang dengan pola pikir situasi normal.

Masalah ini perlu ditegaskan berulang-ulang, karena masih banyak orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Ironisnya, suara-suara keberatan terhadap petikan tersebut tidak hanya datang dari masyarakat biasa. Ada pula pengurus pusat MUI yang menyatakan keberatan dengan penghilangan aliran sesat di masjid-masjid dalam ketentuan PPKM darurat yang dikeluarkan pemerintah. Banyak pemuka agama di berbagai tempat memiliki suara yang sama.

Parahnya lagi, masih ada yang berpendapat bahwa langkah yang diambil pemerintah tersebut merupakan bentuk permusuhan terhadap umat Islam. Seolah-olah pemerintah ingin melarang orang beribadah. Pemerintah digambarkan sebagai kelompok anti-Islam.

Ini adalah situasi darurat. Dalam situasi darurat sangat penting untuk mendengarkan dan mengikuti perintah pemimpin, tanpa terlalu banyak bertanya, apalagi menuntut. Apalagi untuk hal-hal yang sebenarnya memiliki status hukum yang sangat jelas dalam fiqh.

Jika kita tidak bisa membantu, setidaknya jangan menjadi beban atau penghalang.

Hasanuddin Abdurkhman

Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-5648535/kebajikan-dalam-principle-emergency?

(suara islami)


Kebajikan dalam Prinsip Kedaruratan | The Truly Islam

Recommended For You

About the Author: Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *