gus baha
Gus Baha

Kenapa Gus Baha’ Tidak Mau Disowani Para Santrinya?

Diposting pada 27 views

Kenapa Gus Baha’ Tidak Mau Disowani Para Santrinya?

Beginilah penampakan khas KH. Baha’uddin Nursalim (Gus Baha’). Kopiah hitamnya ditarik agak ke belakang, berkemeja putih lengan panjang, di kantung baju selalu ada bolpen, dan senyum tersungging di wajahnya. Amat biasa. Sederhana.

Beberapa temen pernah mengajak saya sowan ke beliau di Kragan, Rembang. Rumahnya tidak berlebihan jauh dari kampung saya. Tetapi saya belum pernah mau diajak sowan. Argumentasi saya sederhana. Gus Baha’ termasuk orang alim yang tidak berlebihan suka disowani.

“Anda semua itu tidak usah Hadir ke rumah saya. Malah ngrepoti. Saya jikalau di rumah, waktu saya untuk Famili dan santri. Jangan diganggu…”

Gus Baha’ senantiasa Menegaskan, beliau yang sowan ke murid-muridnya. Setidaknya saban bulan beliau mengajar di Yogya, Bojonegoro, dan Kudus. “Jika saya sowan ke Njenengan, itu juga selaku laku tawadu’. Karena masih ada guru yang sowan ke muridnya. Bagaimanapun, orang yang belajar itu mulia. Walaupun ya Anda semua ini entah paham entah tidak dengan apa yang saya ajarkan…” ujarnya diselingi candaan.

Saya bahkan penasaran dengan 2 sosok yang senantiasa disebutnya dalam saban mengajar. Semacam murid kinasih yang senantiasa digojloki. Nama mereka ialah Rukin dan Musthofa. Kayaknya sih mereka berdua orang Bantul.

Gus Baha’ pernah berpesan begini: “Jika para kandidat Calon Presiden ikhlas, mereka dapat jadi wali. Sebab bagian jalur kewalian ialah dihina dan difitnah banyak orang. Kau siap tidak, Khin, jadi wali lewat jalur ini?” Saya membayangkan muka Rukhin memerah bangga.

READ
Saya Ingin Berkhidmah di NU Melalui Banser

Beberapa kali Gus Baha’ mengumumkan perbedaan pendapatnya dengan beberapa ulama, tapi tidak pernah dengan nada menghina. Dan tanpa menyebut nama. Beliau memaparkan pandangan ulama yang dimaksud, lalu dia mengumumkan pendapatnya. Dia tunjukkan di mana letak keberatannya.

“Saya itu tidak setuju dengan para ulama yang senantiasa mengumumkan jikalau ibadah kita itu belum tentu diterima oleh Allah. Logikanya tidak dapat seperti itu. Kita itu mau ibadah saja telah luarbiasa. Telah wajib bersyukur. Kok ya orang seperti kita, masih diberi rahmat untuk melaksanakan ibadah….” itu bagian contoh bagaimana beliau mengumumkan ketidaksetujuannya.

“Terus jikalau misalnya ibadah kita tidak diterima Allah lalu kita gak ibadah? Saya ini misalnya dikasih tahu malaikat jikalau nanti masuk neraka, apakah saya lalu tidak beribadah? Saya tetap akan beribadah…

“Maka itu, syukurilah sujud kita. Nikmatilah. Sujud seorang hamba untuk Tuhannya itu amat mulia…”

Penulis: Puthut Ea

*Tulisan ini awalnya berjudul Ketawadhu’an Gus Baha’


Kenapa Gus Baha’ Tidak Mau Disowani Para Santrinya?

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *