Agama 696x392
Agama 696x392

Kenapa Orang Pindah Agama? | The Truly Islam

Diposting pada
Views: 39
Read Time:3 Minute, 21 Second

Kenapa Orang Pindah Agama? | The Truly Islam

Foto Ilustrasi (Andhika Akbarayansyah/detikcom)


Banyak umat agama, khususnya di kalangan Muslim dan Kristen, yang menganggap kalau orang pindah agama (konversi) dari X menjadi Muslim itu karena yang bersangkutan telah mendapat hidayah atau Roh Kudus telah bekerja kalau ia hijrah dari agama X ke Kristen (yang saya maksud dengan “Kristen” disini adalah pengikut Kristus, baik Protestan, Katolik dan lainnya). Saya tidak tau apa istilah dalam agama Hindu, Buddha, Konghucu dan lainnya (ada yang mau berbagi informasi?).

Antropolog sudah lama meneliti dan menulis tentang “antropologi konversi agama” dan hasilnya persoalan konversi agama ini syarat dengan latar belakang, motivasi, kepentingan, dan tujuan yang bersifat profan-duniawi, bukan karena persoalan “hidayah” atau “Roh Kudus”.

Lagi pula, siapa yang tahu bahwa ia pindah agama (atau pindah aliran, denominasi kelompok agama) karena mendapat hidayah atau Roh Kudus? Logikanya, kalau pemberi hidayah / Roh Kudus itu adalah Tuhan, maka Dialah seharusnya yang tau siapa-siapa yang mendapatkan si hidayah dan Roh Kudus itu.

Pula, dari mana kita tahu kalau si A pindah agama dari agama X ke Islam itu lantaran mendapat hidayah? Bisa jadi sebaliknya. Dari mana kita tau kalau si A pindah agama dari X ke Kristen itu karena telah mendapatkan Roh Kudus? Bisa jadi sebaliknya. Pada akhirnya, masalah memperoleh hidayah dan Roh Kudus itu hanyalah klaim subyektif sepihak saja. Tidak lebih tidak kurang.

READ  Mengenal Sosok Kyai Amir Chamzah, Guru Mahbub Djunaidi

Dalam literatur antropologi konversi agama dan juga dari fakta-fakta yang bisa kita amati sehari-hari, orang pindah agama itu karena dilatari oleh berbagai faktor sosial, psychological, ekonomi, politik dlsb. Ada pula karena “faktor pragmatis” saja supaya memudahkan urusan.

Misalnya, banyak teman-temanku yang bule non-Muslim (Kristen maupun bukan, beragama maupun bukan) mendadak menjadi “Muslim” supaya bisa menikah dan gampang mengurus proses pernikahan dengan gadis pujaan yang kebetulan ber-KTP Islam. Setelah menikah ya mereka balik lagi seperti sedia kala. Biasanya laki-laki bule (selain “bule dombrun”) nggak peduli agama dan mau dicantumkan sebagai pemeluk agama apa.

Di negara-negara Arab Teluk, banyak orang-orang non-Muslim dari Filipin, India, Sri Lanka dlsb yang “pindah” menjadi Muslim (setidaknya di ID) asumsi mereka supaya lebih mudah dalam urusan pekerjaan, imigrasi, dan lainnya. Di negara-negara Barat, khususnya Amerika yang saya amati, banyak juga populasi orang-orang Asia yang bermigrasi menjadi Kristen dengan asumsi untuk mempermudah akses ekonomi, pekerjaan, pendidikan dlsb.

Ada lagi yang pindah agama untuk mempermudah akses politik, memperlancar karir politik, atau agar mendapatkan “keistimewaan politik” dari rezim politik tertentu.

Yang lain pindah agama supaya popularitasnya moncer bisa ndobos dimana-mana: dari got dan pengkolan hingga tipi dan forum pengajian.

Yang lain lagi pindah agama karena trauma dengan peristiwa getir yang menimpanya dan dilakukan oleh “orang seiman” (misalnya kekerasan, terorisme dlsb).

READ  NU Kabupaten Sukabumi Bantu Pesantren di Lengkong yang Terbakar

Yang lain pindah agama gara-gara cekcok dan berbeda pendapat dan prinsip dengan tokoh dan pemuka agama mereka.

Ada lagi yang pindah agama karena tekanan sosial masyarakat di lingkungannya.

Banyak pula yang pindah agama karena dipaksa oleh rezim politik dan pemerintah atau “memaksakan diri” supaya tidak diintimidasi oleh rezim politik dan pemerintah itu. Dulu zaman Pak Harto, pasca “tragedi ’65/66” banyak sekali orang yang berbondong-bondong pindah ke agama-agama yang diakui secara resmi oleh negara / pemerintah: Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha, lantaran takut dicap ateis-komunis.

Banyak juga yang terpaksa pindah agama untuk menghindari kekerasan dan persekusi kelompok militan seperti yang menimpa komunitas Yazidi di Irak yang diintimidasi dan menjadi objek kekerasan ISIS.

Demikianlah, konversi agama itu masalah yang sangat pelik atau kompleks. Tidak bisa hanya mengatakan karena “hidayah” atau “Roh Kudus”. Sekarang, ane mau tanya: kaliyen yang kebetulan pindah agama karena faktor apa? Ayo jawab yang jujur, orang jujur anunya subur.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumanto Al-Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/762670522/posts/10164389465895523/

(Warta Batavia)


Kenapa Orang Pindah Agama? | The Truly Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *