Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA DUNIA / Ketegaran Kyai Said Hadapi Ribuan Tantangan dalam Memimpin Ormas Islam Terbesar di Indonesia

Ketegaran Kyai Said Hadapi Ribuan Tantangan dalam Memimpin Ormas Islam Terbesar di Indonesia

/
/
/
32 Views

Ketegaran Kyai Said Hadapi Ribuan Tantangan dalam Memimpin Ormas Islam Terbesar di Indonesia

Oleh: Muhammadun

Perjuangan menegakkan ke-Indonesia-an dipenuhi dengan tantangan yang berliku. Cercaan, hinaan, bahkan sampai pengkafiran dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Tetapi langkah jika telah ditegakkan, tidak boleh mundur sejengkalpun. Itu pula yang dijalani KH Said Aqil Siraj, Ketum PBNU waktu ini. Sejauh jadi Ketum PBNU semenjak 2010, banyak sekali cibiran yang dialami Kang Said, panggilan akrabnya, tetapi antusias pengabdian dan perjuangan untuk NU dan Indonesia tidak dapat ditawar lagi. Bahkan label kafir yang diterimanya tidak membikin dirinya gamang untuk menjalankan tugas dan amanah para kyai dalam meneguhkan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Ke-4 pilar ini sering disingkat Kang Said jadi PBNU.

Ketegaran Kang Said dalam berhadapan dengan bermacam tantangan dan dalam memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU, tidak lain sebab didikan pesantren yang amat melekat dalam dirinya. Lahir di Cirebon, 3 Juli 1953, Kang Said langsung memperoleh didikan ilmu dasar agama dari ayahnya, KH Aqil Siraj. Pengembaraan keilmuannya dilanjutkan di Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Mahrus Ali, lalu ke Pesantren Krapyak Yogya di bawah asuhan KH Ali Maksum, dan Universitas Ummul Quro Mekah. Tahun 1994, Kang Said kembali ke Indonesia dan langsung diajak Gus Dur masuk dalam kepengurusan PBNU. Selepas Muktamar di Pesantren Cipasung Tasikmalaya 1994 itu, Gus Dur mendudukkan Kang Said dalam posisi Wakil Katib Aam PBNU. Gus Dur bahkan memuji Kang Said selaku doktor muda NU yang berfungsi selaku kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 rujukan.

Karakter Kitab Kuning

Pengembaraan dari bermacam pesantren itu jadi sikap dan karakter Kang Said dalam menyikapi bermacam masalah kebangsaan dan kenegaraan. Kitab kuning yang jadi ciri khas keilmuan pesantren melekat kuat, sehingga dalil-dalil kitab kuning senantiasa dipaparkan Kang Said dalam menguatkan nasionalisme kebangsaan. Lihat saja waktu memaknai jihad. Tatkala “mereka” menyempitkan jihad cuma sebatas “perang”, Kang Said tampil dengan ide yang brilian. Kitab kuning jadi rujukannya, yaitu kitab Fathul Mu’in. Kitab ini ditulis oleh Syeikh Zainuddin al-Malibary (w. 1552) dari India.

Dalam Fathul Mu’in, Kang Said menerangkan bahwa jihad itu ada 4 macam. Ke-1, jihad mengatakan dengan tegas eksistensi Allah di muka bumi seperti melantunkan azan, takbir, dan bermacam-macam dzikir dan wirid. Ke-2, jihad menegakkan syariat dan agama (iqomatu syari’atillah), seperti shalat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Ketiga, berperang di jalan Allah (al-qital fi sabilillah). Artinya, kalau ada perkumpulan yang memusuhi kita, dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama, kita baru dapat berperang sesuai rambu-rambu yang ditetapkan, tidak asal saja. Ke-4, mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang yang wajib ditanggung oleh pemerintah. Cara pemenuhan itu dapat dilaksanakan dengan mencukupi pangan, sandang, dan papan.

Dari ke-4 model ini, tidak 1 pun mengajarkan jadi teroris. Jikalau berperang, itu pun sebab ummat Islam terlebih dahulu diserang. Perang pun dalam Islam juga ada aturan main, diantaranya menjaga kaum wanita, bocah kecil, yang masuk masjid, dan kaum lemah. Jikalau ada yang berperang secara membabi-buta, apalagi dengan seperti bom Kendat, menteror orang lain, menghabisi, seluruh itu sama sekali tidak Warta Batavia sama sekali dengan aturan main berperang dalam Islam. Perang Adalah “pilihan terakhir yang paling sulit” yang disyariatkan Islam untuk menjaga diri dari kerusakan.

Di sini, Kang Said seringkali mengartikan jihad dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, yaitu menjaga Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Nasionalisme senantiasa diteguhkan Kang Said, bahkan di bermacam kajian agama dengan masarakat di pelosok desa. Ini bukan saja Kang Said sendiri yang menggaungkan, ada ribuan kyai pesantren yang senantiasa mengatakan dengan tegas itu seluruh di bermacam kajian agama di kampus, masjid, musholla, majlis taklim, dan lainnya. Nasionalisme dengan panduan kitab kuning jadi ciri khas para kyai pesantren yang menjadikan keberagamaan di Indonesia dapat sejuk, nyaman, moderat, dan saling mengasihi.

Dari sini, maka bermacam tudingan dan cacian yang dituduhkan ke Kang Said tidak mempengaruhi jalan pikir Kang Said sendiri, juga jalan pikir masarakat santri secara umum. Kang Said tetap teguh mendakwahkan Islam yang full kasih sayang, tetap melangkah untuk senantiasa setia ke Pancasila dan NKRI. Banyak cacian yang dialamatkan ke Kang Said dari bermacam Perkara yang diplintir, seperti Warta Batavia jenggot, Kang Said selaku figur publik liberal, Kang Said selaku agen wahabi, Kang Said selaku agen syi’ah, Kang Said yang membela bacaan al-Quran dengan langgam Jawa, dan lain sebagainya.

Sebab telah dididik dalam karakter santri, Kang Said berhadapan dengan itu seluruh dengan dingin dan biijaksana. Itulah karakter yang telah diteguhkan dalam pesantren, sebab gemblengan santri bukan saja sebetas Mempertajam kecerdasan, tetapi juga Mempertajam kesabaran, ketekunan, dan kesantunan. Sesungguhnya yang menentang Kang Said bukan saja dari kaum radikal, tetapi juga dari kalangan pesantren sendiri. Kang Said beberapa kali diundang pesantren untuk “diadili”, tetapi jiwa santri tetaplah santri. Kang Said tetap sabar, menjawab pertanyaan dengan full pertanggungjawaban, dan menghormati para kyai yang tak sama dengannya. Kang Said tetap cium tangan para kyai, walaupun mereka itu kyai kampung. Kang Said sadar betul posisinya dalam NU yang senantiasa mengedepankan akhlaq dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun terjadi kontroversi, tetapi akhlaq santri menjadikan kontroversi itu malah selaku media belajar bersama-sama dan saling menghargai.

Dalam tradisi pesantren, dialog dan debat Warta Batavia kitab kuning amat tajam. Itu berlangsung dalam bahtsul masail (membicarakan masalah). Dalam bahtsul masail, para santri berdebat amat serius, saling menggugat dalil. Itu semata menguji ketelitian dalam bacaan kitab kuning, agar tidak asal baca dan asal memaknai. Seorang bukan saja membuka 1 kitab, tetapi amat banyak kitab yang disajikan. Tanpa bacaan yang benar, padahal hurufnya tidak berharokat, maka santri itu akan ditolak pendapatnya. Perdebatan sengit itu tidak mencederai brothership sama sekali, bahkan mengakrabkan. Setelah bahtsul masail, ada makan bersama-sama dalam 1 nampan, atau kembulan. Itulah yang membikin mereka amat akrab, walaupun dialog amat keras antar santri. Di sana lahir brothership, kasih sayang, dan nasionalisme dalam membangun bangsa dan negara.

Ajaran Nasionalisme

Dalam membangun bangsa dan negara, tradisi kitab kuning melakat kuat dalam tradisi pesantren. Ini disadari betul oleh Kang Said. Makanya, kitab kuning senantiasa jadi rujukan Kang Said dalam menerangkan bermacam masalah kebangsaan dan kenegaraan. Ini diilhami dari para kyai yang setia membela NKRI. Dalam laporan Majalah Bangkit, edisi Maret 2015, dikisahkan KH A Wahab Chasbullah dalam mempergunakan kitab kuning, khususnya fiqh, ushul fiqh, dan kaidah fiqh dalam merumuskan jalan keluar kebangsaan dan kenegaraan. Tatkala Pemerintah kerajaan Belanda secara legal pernah berjanji ke pemerintahan RI, bahwa Irian Barat akan diberikan ke Indonesia pada tahun 1948. ternyata sampai tahun 1951 Belanda masih belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat.

seusai beberapa kali diselenggarakan perundingan untuk menuntaskan Irian Barat dan senantiasa gagal, Bung Karno lantas menghubungi Kyai Wahab di Jombang. Bung Karno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat? Kyai Wahab menjawab, “hukumnya sama dengan orang yang ghosob”. “Apa artinya ghosob itu pak kyai?,” tanya Bung Karno.

Kyai Wahab menerangkan bahwa ghosob itu istihqoqu malil ghoir bighoiri idznihi (menguasai hak milik orang lain tanpa izin).  Solusinya untuk berhadapan dengan orang yang ghosob ialah menggelar perdamaian. Bung Karno masih penasaran, sehingga mengadu kembali, apakah kalau diselenggarakan perundingan damai akan sukses?

“Tidak!,” jawab Kyai Wahab. “Lalu kenapa kita tidak potong kompas aja pak Kyai?,” kata Bung Karno. “Tidak boleh potong kompas dari syari’ah,” jawab kyai Wahab. Berikutnya, sesuai anjuran Kyai Wahab untuk bernegosiasi dengan Belanda. Bung Karno mengutus Subandrio untuk menggelar perundingan konflik Irian Barat dengan Belanda. Perundingan inipun akhirnya gagal. Kegagalan inipun disampaikan oleh Bung Karno ke Kyai Wahab. Bung Karno menanyakan lagi: Kyai, apa jalan keluar seterusnya untuk menuntaskan konflik Irian Barat?

Kyai Wahab menjawab: “Akhodzahu qohrun (ambil/kuasai dengan paksa).”

Bung Karno menanyakan lagi, apa rujukan pak Kyai dalam mengambil keputusan problem ini? Lantas Kyai Wahab menjawab, “saya mengambil literatur kitab Fathul Qorib dan syarahnya (al-Baijuri).”

seusai Bung Karno mantap dengan pandangan Kyai Wahab yang mengkontekstualisasi literatur kitab Fathul Qorib agar Irian Barat dikuasai (diambil paksa) dengan paksa, lantas Bung Karno membentuk Trikora (3 komando rakyat). Terbukti, akhirnya Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI.

Di sini, Kyai Wahab menaruh kitab kuning selaku realitas objektif yang jadi keseharian jama’ah NU dan jam’iyah NU. Kitab kuning bukan sebatas aturan Warta Batavia ibadah saja, melainkan seluruh realitas yang mewujud dalam keseharian masarakat. Kitab kuning jadi pondasi Inti dalam menggerakkan roda kebangsaan, apalagi didesain dengan antusias tradisi yang telah mengakar kuat dalam masarakat.

Spirit hidup dan kepahlawanan Kyai Wahab ini jadi rujukan Inti para figur publik NU, termasuk Kang Said. Sejarah para kyai dalam membela NKRI menjadikan Kang Said senantiasa full energi dalam membangun ke-Indonesia-an. Apapun yang terjadi, Kang Said tetap Ada di garis terdepan dalam menjaga bangsa dan negara tercinta ini. Tentu saja, Kang Said akan senantiasa ditemani para kyai dan santri yang tersebar di bermacam pelosok negeri.

*Muhammadun, Sekretaris LTN PWNU DIY via bangkitmedia.com

Ketegaran Kyai Said Hadapi Ribuan Tantangan dalam Memimpin Ormas Islam Terbesar di Indonesia

Ketegaran Kiai Said Hadapi Ribuan Tantangan dalam Memimpin Ormas Islam Terbesar di Indonesia

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar