Ketika Penyebar Hoaks Pandemi Berasal dari Kalangan Agamis

Ketika-Penyebar-Hoaks-Pandemi-Berasal-dari-Kalangan-Agamis.jpg
Ilustrasi


Tidak bisa dipungkiri rumitnya penanganan pandemi di Indonesia karena dikotori oleh banyaknya hoaks yang membingungkan masyarakat. Yang menyebarkan tidak hanya dari kaum abangan, sekuler, yang termakan teori konspirasi, tapi bertambah rumit ketika yang ikut menyebarkan adalah kaum agamis, bahkan tokoh agama.

Dr. Andani Eka Putra, Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas, pernah mengungkapkan kegelisahannya, “Saya masih banyak mendengar ustadz dan penceramah, bahkan ulama mengatakan hal hal berkaitan dengan bahasa bahasa seperti konspirasi, rekayasa dan lain lain, bagaimana pertanggungjawabannya di akhirat ketika ada yang meninggal karena mengikuti kata kata itu,”

Memang benar, menyebarkan hoaks itu ibarat menanam dosa jariyah, belum lagi kalau korban hoaksnya sampai cedera atau bahkan meninggal dunia.

Tak heran, Dirut RSUP Dokter Muhammad Djamil Padang, Yusirwan Yusuf mengajak masyarakat yang tak percaya dengan virus corona (Covid-19) untuk melihat langsung ruang perawatan. Dia ingin kalangan yang tidak percaya untuk melihat langsung kondisi saat ini.

“Siapapun yang tidak percaya, ayo ikut bersama saya ke ruangan Covid tersebut,” Kata Yusirwan Yusuf

Dunia Kristen juga menghadapi persoalan yang serupa. Beberapa akun Kristen fanatik rajin mengunggah konten anti vaksin, dan anti protokol kesehatan. Ada yang menganggap bahwa vaksin itu akan mengubah DNA manusia, sehingga kalau divaksin mereka tidak bisa masuk surga, karena bukan lagi manusia, DNAnya berubah. Atau mereka menganggap bahwa vaksin tidak perlu, karena cukuplah darah Yeshua yang suci. Narasi seperti ini masih memenuhi berbagai group diskusi di media sosial dengan anggota ribuan orang.

Narasi hoaks yang dibalut dengan keyakinan, adalah hal yang sangat berbahaya bagi masyarakat kita. Karena tidak jarang masyarakat lebih mendengar tokoh agamanya ketimbang nasihat dari dokter ataupun otoritas kesehatan.

BACA JUGA :   Puasa Ramadhan untuk Lansia dan Orang Pikun

Untuk itu perlunya Kementerian Agama, MUI, NU, Muhammadiyah, PGI, KWI untuk merapatkan barisan, kompak bersama, untuk menjelaskan kepada masyarakat untuk tidak termakan hasutan yang memperalat agama.

Contohlah seorang Kyai di Banyumas, yang berhasil menanamkan sikap patuh terhadap protokol kesehatan kepada jamaahnya yang seorang tukang arit. Meski telanjang dada, tukang arit tetap menggunakan masker.

Karena ia percaya kata Kyai-nya, menggunakan masker bernilai ibadah, dan dengannya bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya ibadah bisa membawa banyaknya rejeki, ini adalah ajaran keteladanan. Kita butuh banyak Kyai dan tokoh agama yang bisa membumikan pentingnya prokes dengan bahasa yang sederhana dan membumi.

Muhammad Jawy

Sumber: https://www.facebook.com/Abu.Muhammad.AlJawy/posts/3135457153365357

(Warta Batavia)


Ketika Penyebar Hoaks Pandemi Berasal dari Kalangan Agamis

Recommended For You

About the Author: Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *