Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA INDONESIA / KH. Nashiruddin Qodir yang Mempunyai Sifat Khumul

KH. Nashiruddin Qodir yang Mempunyai Sifat Khumul

/
/
/
14 Views

KH. Nashiruddin Qodir yang Mempunyai Sifat Khumul

Islam Nusantara – Ulama, menurut Imam Ghazali, ialah Dokter Spiritual. Jikalau dokter medis bertugas mengobati penyakit-penyakit fisik, maka ulama bertugas mengobati penyakit-penyakit hati. Ulama juga melaksanakan diagnosa kepada penyakit-penyakit kemasyarakatan dan berusaha mengobatinya. Kenyataannya, kalau sudah mencapai derajat kearifan yang tinggi, ulama siap menampung segala tumpahan permasalahan warga serta siap pula memberikan keteduhan pada mereka. Ulama, bagi warga, andaikan air telaga yang tenang dan menenangkan. (Hamid, Ahmad. 2012).

Seperti halnya dokter klinis, tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik kalau dia sendiri sakit. Begitu pula ulama. Kalau masih mengidap penyakit hati, dia akan mengalami kerepotan untuk mengobati penyakit hati masyarakatnya dengan maksimum. Penyakit itu akan bertahan lama di warga, dan makin lama mungkin makin parah.

Dengan seperti ini, seorang ulama wajib mempunyai hati yang relatif bersih. Dia mesti melaksanakan mujahadah dan riyadhah (olah spiritual) untuk mencapai Kedamaian jiwa (an-nafsul muthmainnah), sehingga dia sanggup membimbing warga dan dapat menampung keluh kesah mereka. Dalam kata-kata sufi, “Dia andaikan awan yang menaungi seluruh benda dibawahnya, tanpa pandang bulu. Dia ialah air hujan yang membasahi siapapun, baik yang jahat maupun yang baik.”

Umumnya, khususnya dikalangan NU, seorang kyai mempunyai pesantren atau lembaga pendidikan, tempat ia menularkan ilmunya. Ulama atau kyai banyak ragamnya. Dilihat dari kiprahnya di dalam warga, ada kyai yang melibatkan diri dalam organisasi kemasyarakatan (NU misalnya) atau organisasi politik, ada juga kyai yang mengambil jarak dengan namanya organisasi. Tapi, yang pasti peran ulama’ atau kyai (wajib dapat) jadi teladan atau teladan masyarakatnya. Kyai jadi tempat menanyakan, tempat mengadu, juga jadi personifikasi ajaran islam, tempat warga bercermin. Demikianlah figur seorang ulama’ sejati. (Hamid, Ahmad. 2012).

Kyai Nashiruddin ialah sosok kyai yang mempunyai peran ganda. Kecuali aktif di Organisasi Nahdlatul ‘Ulama (PWNU Jawa Timur), beliau juga aktif menekuni kajian agama di pesantrennya sendiri, kajian agama rutin kitab ihya’ ulumuddin di beberapa masjid jami’ di beberapa kota Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan istiqomah selaku Muballigh yang berkarakter ahlussunnah wal jama’ah.

Walaupun telah puluhan tahun aktif di NU, beliau ialah sosok yang mengubur keberadaan dirinya di dalam bumi khumul (ketidak-terkenalan), bukan pula sosok yang suka memberi komentar di depan awak media Soal isu-isu yang berkembang. Semenjak muda, kemungkinan beliau dikenal selaku sosok macan podium di ajang bahtsul masa’il diniyyah baik di tingkat lokal maupun nasional. Tapi, sesungguhnya beliau ialah sosok yang lebih mementingkan pembinaan para santri di pondoknya serta pembinaan warga pada umumnya.

Kyai Nashiruddin cukup unik, sesungguhnya beliau termasuk seorang ilmuwan agama yang ilmunya luas dan dalam, khususnya dibidang ilmu alat, fiqih, hadits, tasawuf dan syi’ir. Namun kepakaran beliau ini terselubung oleh sifat khumul (suka dengan ketidak-terkenalan). meskipun begitu, banyak santri dan warga yang antusias mengaji kepadanya. Kajian agama yang senantiasa dijadikan wiridan selama berpuluh-puluh tahun ialah Kitab ihya’ ulumuddin karya Imam Ghazali (sesudah jama’ah subuh) di ndalem beliau. 

Kajian agama warga (majelis ta’lim) rutin saban malam Selasa dan malam Jum’at dihelat di pondoknya, dengan kitab Tafsir Jalalain dan Kitab Al Mukhtar fi Kalamil Akhyar dihadiri ratusan orang yang meluber sampai di serambi mushala. meskipun tidak ada Sarana apa-apa, warga tetap setia Hadir mengaji sebab maksud mereka, khususnya, ialah mengambil barokah dari beliau.

Kyai Nashiruddin juga andaikan buku yang terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja sebab corak tasawuf yang dianutnya ialah tasawuf Ghazalian, seperti yang dianut umumnya kaum sunni. Bukan tasawuf falsafi, yang dalam penampakan lahir di mata awam, orangnya tidak lumrah. (Hamid, Ahmad. 2012). 

Kyai Nashir juga bukan seorang Majdzub (kyai yang berkelakuan ganjil) dan dalam sehari-hari beliau menjalani syari’at secara full. Cara hidupnya pun normal belaka. Tidak ada yang aneh. Pakaiannya pun cukup necis dan rapi.

Masa Kecil

Kyai Nashiruddin lahir tepatnya di Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bersesuaian dengan Agresi Angkatan bersenjata Belanda ke-2. Beliau lahir di sebuah rumah yang menyerupai gudang, waktu ibunya tengah mengungsi akibat agresi belanda. seusai beliau lahir, dan keadaan aman. Barulah kembali ke daerah asalnya, yaitu Desa Sendang, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban. beliau dibesarkan oleh orang tuanya di sebuah rumah kuno yang terletak persis di sebelah sungai/ dan buatan Belanda. Sebuah rumah berukuran besar  kisaran 10 x 40 meter dan tinggi kisaran 4 meter lebih. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang tebal, begitu pula pilarnya. Tengah pintunya, yang tingginya mencapai 3 meter, terbuat dari kayu pilihan yang matang dan tebal. Seluruh dari kayu pilihan.

Kyai Nashiruddin lahir kira-kira pada tahun 1950 M. Ini artinya beliau lahir waktu pemerintah Kolonial Belanda melaksanakan Agresi Angkatan bersenjata ke-2 yang dibantu oleh serdadu Sekutu. Orang tua beliau ialah H. Abdul Qodir dan Hj. Suwaedah. Seorang petani desa yang sederhana tekun dan senantiasa mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk senantiasa mencintai dan menimba ilmu agama dari para kyai dan ulama’. 

Kehidupan beliau amat sederhana bahkan dapat dikatakan sering dalam keadaan kekurangan. Hitungan total saudaranya pun 12 orang. Terdiri dari : Ibu Unsiyah, Ibu Ny. Raihanah (Karas, Sedan), Abdussyukur (wafat waktu masih kecil), Rofi’ah (Hj. Maghfiroh), Hj. Siti Azizah (Kebonharjo, Jatirogo), Khoirul Huda, Masyhudi (wafat waktu masih kecil), Abdul Mun’im, Alifatun (wafat waktu masih kecil), Mahfudz, Mustamid (Bojonegoro), dan Siti Chalimah (wafat waktu masih kecil). 4 orang wafat waktu masih kecil. 

KH Nashiruddin Qodir

Namanya waktu kecil bukan Nashiruddin, tapi Mun’im, Mun’im tumbuh selaku anak yang pintar dan lincah. “nakalnya luar biasa”,kata Hj. Maghfiroh, kakak beliau. Mun’im kecil bukanlah anak manis, yang sehari-hari diam di dalam rumah. Tidak, Mun’im kecil ialah anak extrovert, lebih banyak bermain di luar rumah, bermain layang-layang, tawu (mencari ikan), mandi (beluron, red) di sungai sebelah rumahnya, bermain kasti, jirek (kemiri), gendan, keh-kehan, tembak-tembakan (bedil-bedilan), gobag sodor dan permainan tradisional lainnya. Alhasil, masa kecilnya betul-betul dinikmati dengan full kegembiraan ala anak desa.

Sesungguhnya masa kecil Mun’im tidak cuma dipakai untuk bermain. Dia juga mengaji, yang ke-1 ke ayahnya sendiri, lalu ke KH. Ahmad Shiddiq (Pamannya), Kyai Kharomain (Kakak iparnya), KH. Abdul Fattah dan Kyai sepuh lainnya di desanya. Pendidikannya waktu itu murni didapatkan dari sentuhan para kyai dan ulama’. Kecuali itu, orang tuanya sering memotivasi anak-anaknya untuk mengumpulkan jagung dan kerikil, lantas Mun’im dan saudaranya berlomba-lomba untuk membaca Surah Al Ikhlas dengan hitungan jagung dan kerikil tadi. Lantas memberitahukan ke orang tuanya.

Saat musim panen tiba. Sekeluarga bersiap-siap berangkat untuk bersilaturrahmi (sowan) ke ndalem beberapa ulama’ sepuh untuk ngalap barokah, ke-1 kali sowan ke Mbah Ma’shum (lasem) bermalam beberapa hari, lantas ke Mbah Baidlowi (Ayahnya Mbah Hamid Baidlowi), Mbah Fathur (Lasem), Mbah Maftuchin. seusai dari Lasem, maksud berikutnya yaitu sowan-sowan ke ‘Ulama di Sarang seperti Mbah Ahmad bin Syu’aib, Mbah Imam, Mbah Zubair, Mbah Ali, Gus Maemun Zubair (waktu masih muda) . di Senori yang disowani ialah Mbah Juned, Mbah Maliki, Mbah Fadhol. Tujuannya ialah menghaturkan sebagian hasil panen berupa emping (beberapa kuintal), dibuat dari beras ketan yang masih muda, lalu ditumbuk, lantas dikukus dan diberi campuran parutan kelapa. “Rasanya sungguh-sungguh spesial dan gurih sekali”, kata beliau.

Mun’im semasa kecilnya telah mulai tampak kemungkinan kecerdasannya. Hal ini dilihat oleh H. Ashari yang lantas jadi mertuanya. H. Ashari Adalah putra dari KH. Abdussyakur (Ulama’ dan figur publik pejuang di warga). H. Ashari terkenal selaku seorang pemuda yang heroik, dermawan, mempunyai usaha tembakau dan rokok yang cukup besar, penampilannya stylish dan mempunyai temen dari bermacam kalangan. 

Walaupun wataknya terkenal keras, akan tetapi hatinya amat tawadlu’ kepada kyai dan ‘ulama. Sampai akhir hayatnya pun waktu bersilaturrahmi di rumah seorang kyai. Mun’im akhirnya dijodohkan dengan putri beliau bernama Siti Khoiriyah, yang waktu itu masih berumur 13 tahun, sebelum berangkat menimba ilmu di Makkah Al Mukarromah.

Di Pesantren

Saat orang tuanya mengantarkan kakaknya, Khoirul Huda, yang mondok di Sarang. Mun’im kecil yang waktu itu berumur 10 tahun ikut serta. Entah sebab faktor apa, seketika dia tertarik ingin mondok di Sarang. Niat ini disampaikan ke bapaknya. Menguping hal itu, sesungguhnya hati kecil orang tuanya amat kuatir, mengingat usianya yang masih berlebihan kecil untuk tinggal di pondok. Alhasil, keinginan untuk mondok di Pesantren Sarang pun dikabulkan oleh orang tuanya. Tentunya dengan tanpa persiapan dan bekal seadanya. Padahal semenjak dari rumah, Mun’im telah menaruh pakaiannya didalam karung beras milik kakaknya, tapi tidak diketahui oleh siapapun.

Pesantren Sarang waktu itu terkenal dengan para ‘ulamanya yang ‘Alim dan ‘allamah. Seperti Mbah Zubair Dahlan, Mbah Imam, Mbah Mat, dan Gus Maemun Zubair dan Kiai sepuh lainnya. Kiai-kyai ini diibaratkan selaku tempat untuk menyepuhkan ilmu bagi para santri yang sebelumnya pernah mondok dari bermacam daerah di Indonesia. Ke-1 kali, Mun’im mondok di pesantren MIS (Ma’had ‘ilmi As Syar’iyyah) selama sepuluh (10) tahun, lantas ikut mendirikan Pesantren Al Anwar (selaku panitia pembangunan) yang diasuh oleh Al Mukkarrom KH. Maemun Zubair. Di Al Anwar kira-kira selama 4 (4) tahun, waktu berumur 17 tahun, Mun’im telah jadi guru (ustadz) di Madrasah Sarang. Tiap-tiap bulan memperoleh bisyaroh untuk membiayai ongkos hidupnya, waktu itu Adalah titik tolaknya jadi seorang remaja (santri) yang mandiri. sesudah itu meneruskan mondok di Makkah Al Mukarromah selama 5 (5) tahun lebih.

Sebelum berangkat ke Makkah, Mun’im sempat beberapa kali ikut kajian agama kilatan dan pasanan 2 kali di Mranggen (Demak) oleh Kiai Muslich dengan Kitab Mizanul Kubro, Sya’roni dan Muhadzab. Lantas ikut khataman kitab Shohih Muslim, di bulan Jumadil Akhir, di Pesantren Poncol yang diasuh Kiai Ahmad Asy’ari. Antusias mengaji beliau tumbuh semenjak dari kecil sebab buah dari didikan orang tuanya untuk senantiasa mencintai dan memuliakan Kyai/Ulama. Cobaan besar yang dihadapi oleh Mun’im sebelum ke Makkah ialah keadaan ibunya yang sakit cukup parah. Mun’im dengan sabar dan telaten merawat dan melayani ibundanya yang tengah sakit. Hatinya sungguh-sungguh terasa berat untuk berangkat meninggalkan ibunya.

Tapi, pikiran Mun’im terbaca oleh ibunya. “Engkau wajib tetap berangkat ke Mekkah” kata ibunya. Dengan niat dan tekad yang bulat, Mun’im berangkat ke Makkah dengan bekal seadanya, dan tanpa adanya motivasi dari saudara-saudaranya. Hatinya tetap tegar walaupun terkadang merasa kecil hati. Cuma niat “li I’la’I kalimatillah” yang menjadikan tetap bertahan. 

Saat pesawat bersiap-siap lepas landas, ada berita bahwa ibundanya, Hj. Suwaidah sudah berpulang ke Rahmatulloh. “innalillahi wa inna ilaihi roji’un”, hatinya sungguh-sungguh menjerit sejadi-jadinya, tangisannya pun tidak dapat dibendung. Tiada kata lain yang dipegang, sesuai amanah ibundanya, “wajib tetap ke Makkah”. 

seusai tiba di Makkah, kesedihannya masih menyelimuti, walaupun ditutup-tutupi. Guru beliau Sayyid Muhammad Al Alawi Al Maliki, dapat menyaksikan guratan kesedihan di wajahnya. “saya menyaksikan walaupun jasadmu ada di Makkah, tapi Jiwamu tidak Ada disini (di jawa, Indonesia),” Kata Sayyid Muhammad. Mun’im pun berterus jelas bahwa ibundanya baru saja wafat waktu dia akan berangkat ke Makkah. Lantas Sayyid memotivasi Mun’im dan berusaha menghiburnya.

Problem Nama

Semenjak kecil sampai remaja, Kyai Nashiruddin mengalami Pergantian nama waktu di Makkah. Yaitu dari yang sebelumnya bernama Abdul Mun’im lantas diganti oleh Sayyid Muhammad dengan nama Muhammad Nashiruddin. Pergantian nama tersebut mulai berlaku waktu beliau di Makkah sampai waktu ini. Sayyid Muhammad Al Alawi pun terkadang sering memanggil beliau dengan julukan “ya Kiai”, padahal dihatinya tidak terbesit maksud sedikitpun kelak untuk jadi seorang Kyai. Cuma niat belajar ilmunya Allah yang jadi motivasinya. Tapi Allah SWT menakdirkan lain. Mun’im anak petani desa yang sudah berubah nama Nashiruddin ditakdirkan jadi seorang Kyai yang berkhidmat untuk melayani ummat.

Memulai dari Famili

seusai pulang dari Makkah, Kyai Nashiruddin memulai hidup barunya dengan istri yang sudah setia menunggunya selama 5 tahun. Aktivitasnya pun dijalani dengan apa adanya. Selaku petani ya ikut menggarap sawah, kebun dan tentunya seraya mengajar ngaji di rumah mertuanya. Semuanya dijalani tanpa ada rasa canggung, malu atau gengsi. Walaupun basic pendidikannya tidak mengarahkan untuk bekerja seperti itu. Kisaran 2 bulan sesudah pulang dari Makkah, Mertua beliau, H. Azhari, yang senantiasa memberikan perhatian dan motivasi berpulang ke rahmatulloh. Tidak hayal lagi, kesedihan untuk kesedihan pun terus menyelimuti kehidupannya. 

Adik iparnya yang masih kecil-kecil (yatim) berjumlah 7 (tujuh) orang dirawat dan dibesarkan sampai jadi dewasa dan berkeluarga

Pada pertengahan tahun 1980-an, lahirlah putra pertamanya, diberikan nama Ahmad Husam, 2 tahun lantas lahir lagi putri diberikan nama Laela, 2 tahun lantas lahir putra diberikan nama Muhammad Hilmi. Disusul Hamnah, Ita Salwa, Tutya Manal Robbiya dan Muhammad Hullah Maemun. Ketujuh putra beliau senantiasa diarahkan untuk patuh ke ke-2 orang tua, ke guru,belajar ilmu agama di pesantren, memuliakan para ulama’, membesarkan pendidikan Islam (pesantren). 

Putra Ke-1, Agus Ahmad Husam ZF nikah dengan Ning Nurul Hesti Makhotmi (Magelang) dikaruniai 2 orang Putri, Nilna Anfasal Hila dan Naseem Al Shoba, putri ke-2 beliau, Ning Laila nikah dengan KH. Abdulloh Hasyim, Lc, S.Pdi (Pamotan, Rembang), mempunyai Putra/i : Muhammad Nawwaf, Arwa Inas Sarkha, Kareen Ayati Izzati, dan Muhammad Naquib. Putra ketiga Muhammad Hilmi Badruttamam nikah dengan Hj. Nailul Marom (Surabaya) dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Imdad Bardja Soqrowi. Menikmati kehidupan dimasa tua bareng anak dan momong cucu ialah kenikmatan tersendiri bagi Syaikhina KH. Nashiruddin Qodir.

Kiprah di Organisasi

Saat masih muda, Kyai Nashir aktif diberbagai macam organisasi, waktu di Makkah, beliau aktif di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Saudi Arabia dan Korps Maha siswa Nahdlatul Ulama’ (KMNU) Saudi Arabia. Di Indonesia beliau aktif di Lajnah Bahtsul Masa’il. Kiprah beliau diawali dari tingkat kecamatan, regional sampai nasional, lantas jadi Rais Syuriyah PCNU Senori-Bangilan, Kab. Tuban, Wakil Ra’is Syuriyah PWNU Jawa Timur (1985-1986), Jadi Tim 9 (sembilan) NU Perumus “Tajdid Nahdliyyah” bareng KH. Sahal Mahfudz dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1986-an. Pada tahun 1997 sampai 2009 beliau aktif 3 periode selaku anggota DPR di DPRD Kab. Tuban. Kesibukan organisasi beliau tidak mengurangi peran beliau selaku Pengasuh di Yayasan Pondok Pesantren Daruttauhid Al Hasaniyyah, Sendang Senori Tuban.

Ujaran fatihah ke beliau yang sudah meninggalkan kita terlebih dahulu sampai pengabdiannya dengan segudang ilmunya. Amin Ya Rabbal Alamin. [dutaislam/ka]

KH. Nashiruddin Qodir yang Mempunyai Sifat Khumul

KH. Nashiruddin Qodir yang Mempunyai Sifat Khumul

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar