Lebaran Ini Tidak Mudik

Lebaran Ini Tidak Mudik

Oleh Syakir NF

Umar Kayam menutup cerpennya yang berjudul Menjelang Lebaran dengan cerita seorang ibu bernama Sri yang tengah memikirkan kata-kata yang pas untuk disampaikan ke putra-putrinya, bahwa di tahun tersebut tidak mudik.

“Mas, Ade, kita tidak jadi mudik Lebaran ke Jawa. Soalnya, Bapak… ah…” begitu kalimat penutup cerpen tersebut.

Cerpen itu berkisah mengenai hal sebuah Famili yang pada akhirnya wajib mengurungkan niatnya untuk mudik ke kampung halamannya di daerah Jawa. Hal itu mengingat kepala Famili, ayah bocah kecil dan suami dari Sri, diberhentikan oleh perusahaan yang mempekerjakannya. Karena, tempatnya bekerja juga terdampak oleh krisis moneter yang tengah terjadi di dalam negeri.

Bagi yang merantau, mudik lebaran tentu jadi bagian agenda wajib saban tahun. Akan tetapi, siapa disangka keadaan terkadang menuntut hal yang sebaliknya. Sebagaimana terjadi waktu ini, kita tidak diperkenankan mudik untuk melarang meluasnya persebaran virus Corona yang waktu ini tengah jadi pandemi.

Umar Kayam melalui cerpennya yang masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 1999 itu sebetulnya tidak saja ingin mengisahkan perihal dampak krisis moneter pada tahun 1998 kepada suatu Famili Muslim yang akhirnya tidak jadi mudik. Lebih dari itu, ia ingin memperlihatkan komunikasi yang baik dengan memperlihatkan percakapan di antara para tokohnya.

Sebagaimana disebutkan di awal, seorang ibu menjelang istirahatnya memikirkan kata-kata yang pas untuk disampaikan ke putra-putrinya. Sekiranya, kalimat yang diutarakan ke anak-anaknya tersebut tidak melukai mereka, tidak membikin kecewa, dan mereka juga tidak Penting mengetahui bahwa ayahnya waktu ini sudah tidak lagi mempunyai pekerjaan.

Sebelum itu, cerpen tersebut juga memperlihatkan komunikasi yang begitu apik sang ibu kepada anaknya. alasannya, waktu itu sang anak ingin memperoleh kepastian berlebaran bersama-sama kakek dan neneknya di kampung. Akan tetapi, sang ibu menjawab dengan mengisyaratkan sebuah ketidakpastian.

READ
China kritik keras Politisasi Virus oleh Amerika

“Kita jadi Lebaran ke Jawa ke rumah eyang kakung dan putri ‘kan, Be dan Bu?”

“Insya Allah, Mas, Ade.”

Sang anak tentu saja tidak puas dengan respon yang sedemikian. Karenanya, mereka mengatakan dengan tegas ulang, “Kok masih pakai Insya Allah Be, Bu?”

Sang ibu berusaha meyakinkan mereka, bahwa seluruh hal atas perkenan Tuhan. Karenanya, frasa yang berasal dari bahasa Arab itu mesti diucapkan. “Lho, wajib dong. ‘Kan wajib dengan perkenan Allah. Ya, to?”

Anaknya terus menuntut kepastian tersebut. Ia pun menanyakan kembali ke ibunya, bahwa mudik mereka tidak saja ke Yogya, tetapi juga ke Solo. Tetapi, lagi-lagi sang ibu menjawabnya dengan respon yang sama. “He, he, he. Iya, Insya Allah Mas dan Ade. Jikalau diperkenankan Tuhan tentu kita berangkat.”

Ada ruang pertanyaan untuk mendesak bagi sang anak, “Jikalau tidak diperkenankan Tuhan?”

Sri tetap tenang menguping desakan pertanyaan anak-anaknya tersebut. Ia pun menjawabnya dengan full optimisme. “Ya Gusti Allah pasti mempunyai argumentasi kuat dan baik untuk tidak memperkenankan kita berangkat.”

Sungguh, Umar Kayam pun tidak menutupi kekecewaan bocah kecil dengan respon tersebut dengan memunculkan respon mereka. Hal itu wajar saja di kalangan bocah kecil. Tetapi kita Penting menyaksikan betapa komunikasi yang dibangun oleh Sri selaku ibu ke 2 anaknya cukup baik mengingat saban kata katanya keluar tanpa emosi seseorang yang tengah didera problem cukup pelik.

Pengambilan Keputusan Tidak Mudik

Sebelum Famili tersebut memutuskan untuk tidak mudik terjadi dialog yang cukup panjang di antara orang tua. Mereka berusaha mengambil jalan the best untuk semuanya, tidak terkecuali sang pembantu rumah tangga yang sudah menemani mereka selama beberapa tahun.

READ
AS Kudeta Proses Perdamaian PBB

Dalam pengambilan keputusan, setidaknya ada tujuh langkah yang wajib dilalui, yaitu (1) identifikasi problem, (2) komunikasikan problem, (3) kembangkan alternatif, (4) buat sebuah keputusan, (5) letakkan keputusan tersebut bersama-sama dampaknya, (6) awasi tindakannya, dan (7) evaluasi dan modifikasi keputusan tersebut. Hal ini pula yang rupanya diperhatikan betul oleh Umar Kayam dalam membikin cerpennya. Keputusan Famili dalam cerita tersebut tidak cuma diambil oleh 1 pihak, baik suami saja ataupun istrinya saja, tetapi keduanya.

Pada mulanya, dalam hitungan awal Sri, uang tabungannya cukup untuk menggaji Nah, pembangu, dan mudik sekeluarga. Keputusan awal ini pun diambil bersama-sama. Akan tetapi, keputusan ini diralat mengingat saat belanja, harga dari barang-barang kebutuhannya itu melambung tinggi sehingga hitung-hitungan tabungannya pun berubah.

Dengan amat terpaksa, mereka meminta Nah untuk berhenti menemani Famili mereka. Menguping keputusan tersebut, mata Nah mengalir. Ia menangis sebab selama ini jadi tulang punggung keluarganya di kampung saat di sana juga kehidupannya telah tidak menentu. Kalau tidak lagi bekerja, ia tidak tahu lagi mesti bagaimana menghidupi keluarganya. Jangankan keluarganya, ia sendiri juga belum tentu.

Menguping tangis tersebut, Kamil pun dengan kebijakannya menarik keputusannya tersebut. Ia mempersilakan Nah tetap bekerja ke keluarganya. Akan tetapi dengan syarat Nah tidak memperoleh gaji selama ia belum memperoleh kerja. Nah masih dapat memperoleh kehidupan, makan dan minum bersama-sama mereka. Ia telah menganggap Nah selaku bagian dari keluarganya sendiri. Keputusan ke-2 ini jadi 1 evaluasi dan modifikasi atas keputusan ke-1.

hubungan

Dari cerpen tersebut, kita sebetulnya belajar untuk menjaga komunikasi yang baik di antara member Famili supaya tercipta rasa saling percaya 1 sama lain. Kita tentu menyaksikan betapa suami istri tersebut saling menyokong dan bocah kecil tetap dengan keceriaannya. Pun pembantunya juga sedikit terselamatkan.

READ
Hadis Bukan Untuk Ramalan

Rasa-rasanya, hal ini juga yang layak kita bangun di tengah dunia yang tengah diguncang dengan pandemi seperti ini. Suami dan istri Penting menjaga komunikasi dengan baik. 1 hal penting yang tersirat dalam cerpen tersebut ialah keterbukaan sehingga tercipta kepercayaan di antara mereka. Pun perbincangan orang tua kepada anaknya juga wajib terbuka. Tentu saja bahasanya wajib disesuaikan dengan mereka, seperti perkataan yang halus dan mudah dicerna oleh pikiran seusia mereka.

Keputusan untuk tidak mudik telah bulat. Mereka sebelumnya telah membuka perbincangan akan kemungkinan tersebut, tidak kemudian menjanjikan akan pulang ke kampung kakek nenek anak-anaknya, juga tidak secara langsung menjelaskan tidak akan mudik. Baru, sesudah bulat keputusan, mereka memikirkan juga perkataan yang akan disampaikan ke putra-putrinya itu.

Akan tetapi, kita juga menyaksikan bahwa keterbukaan itu juga tidak serta-merta disampaikan bahwa ayahnya telah tidak lagi bekerja akibat keadaan negara yang tengah tidak stabil. Pikiran mereka belum sanggup untuk memahami situasi yang sedemikian sehingga orang tua tersebut amat pas untuk tidak menceritakan perihal tersebut.

 

Penulis ialah maha siswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan aktif selaku pengurus di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU)

Lebaran Ini Tidak Mudik
Sumber: NU-Online

loading...

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *