Lockdown

Lockdown

LOCKDOWN ialah kata yang mengglobal waktu ini. Tidak terkecuali di negeri ini, khususnya semenjak covid-19 merebak dan menimbulkan korban. Untuk menghambat penularan virus itu, ada yang mengusulkan agar lockdown diterapkan, tetapi ada yang mengumumkan itu tidak Penting. Ke-2 belah pihak yang berseberangan itu mempunyai argumen masing-masing. Tapi, pemerintah, sesudah mempertimbangkan dari bermacam aspek, akhirnya mengambil keputusan tidak Penting lockdown. Masyarakat diminta menerapkan pola social distancing atau membatasi interaksi dengan orang lain. Mengenai hal arti atau makna lockdown tentu seluruh sudah mafhum. Secara umum, kata itu artinya masyarakat tidak diizinkan masuk atau keluar dari wilayah tertentu sebab kondisi darurat. Lockdown juga dapat artinya negara menutup pintu masuk dan keluar atau perbatasannya dengan negara lain.

Begawan Ciptaning

Dalam dunia wayang, sikap social distancing, dan bahkan lockdown pernah dilaksanakan oleh Arjuna. Itu bukan sebab perintah negara atau otoritas lain, tetapi murni atas kesadarannya diri sendiri untuk menjaga keamanan serta kesucian jiwa raganya. Arjuna berinisiatif mengisolasi diri waktu dunia tengah dilanda pagebluk, yaitu ‘virus’ nafsu pragmatisme duniawi. Seperti yang ia lihat dan rasakan sendiri, termasuk yang tengah menjangkiti Famili sepupunya sendiri sesama trah Abiyasa, yaitu Kurawa. Kurawa secara terang-terangan merampas hak konstitusional Pandawa selaku ahli waris kekuasaan Astina. Untuk memperoleh kekuasaan itu, Kurawa tiada henti berusaha membinasakan Pandawa dari muka bumi. Mulai planning tindakan mematikan dalam Perkara Pendadaran Siswa Sokalima, lantas aksi ‘genosida’ di Bale Sigala-gala, sampai penipuan secara telanjang dalam permainan dadu. Tapi, seluruh langkah keji yang didesain dan dieksekusi Kurawa itu gagal. Perilaku barbar Kurawa itu menjalar ke seantero Astina. Masyarakat suka meniru kekejaman para elitenya waktu ingin memburu atau memperoleh sesuatu. Maka, Astina yang awalnya selaku negara serbateladan dalam bermacam bidang, berubah jadi karut-marut, suram, dan tidak beradab. Arjuna bareng ke-4 saudaranya–Puntadewa, Bratasena, Nakula, dan Sadewa (Pandawa), yang tetap memegang teguh watak kesatrianya, mesti menerima akibatnya, terusir dari istana Astina, tempat lahir mereka. Mereka hidup terlunta-lunta. Rumah mereka (Amarta) yang mereka bangun secara swasembada pun juga dirampas Kurawa. seusai menyaksikan ketidakadilan yang memandemi itu, Arjuna ingin untuk sementara waktu tidak bergaul dengan siapa pun, menghindari keramaian. Ia tidak ingin menyaksikan apa yang terjadi di luar sana. Arjuna bertekad menjaga kewarasan dan kesehatan akal, nalar, naluri serta jiwanya. seusai merenung dan mempertimbangkan masak-masak, Arjuna mengambil keputusan meng-lockdown diri. Ia mengasingkan diri atau mengurung diri di belantara di punggung Pegunungan Indrakila. Saking genturnya menjalani laku isolasi diri itu, fisik Arjuna digambarkan sampai berlumut. Dalam seni pedalangan, waktu Arjuna meng-lockdown diri itu memperoleh sebutan Begawan Ciptaning utawa Mintaraga. Menurut bermacam rujukan, Ciptaning dari kata ‘cipta’ dan ‘hening’ yang artinya menciptakan keheningan atau membersihkan jiwa, sedangkan Mintaraga dari kata witaraga, yang artinya menyucikan diri.

READ
Erick Thohir:RS Darurat Penanganan Covid-19 Cepat Beroperasi

Tujuh bidadari

Selama mengisolasi diri itu Arjuna tidak cuma sekali memperoleh gangguan. Dewa berkali-kali menyampaikan misi spesial untuk mengusik Arjuna dari semedinya. Mulai serbuan babi, ular, raksasa, sampai dengan rangsangan libido yang jadi titik lemah Arjuna. Tapi, semuanya itu tidak membuahkan hasil. Gangguan yang dinilai paling berat bagi Arjuna waktu Raja Kahyangan Jonggring Saloka, Bathara Guru, mengutus tujuh bidadari terelok. Para bidadari yang digilai nyaris seluruh titah, termasuk para dewa di kahyangan. Mereka ialah Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lengleng Mulat. Tapi, jangankan melirik, Arjuna bahkan mengatupkan hidungnya rapat-rapat waktu para bidadari menguarkan aroma wangi. Telinganya pun dibuatnya hampa waktu para kembang Kahyangan itu bergantian menyapa dengan senandung rayuan halus. Arjuna sungguh-sungguh kuasa menidurkan seluruh inderanya sehingga godaan apa pun mental. seusai gagal dengan cara memabukkan itu, para bathari lalu memba (mentransformasikan diri) selaku istri-istri Arjuna, di antaranya ada yang jadi Sembadra, Srikandi, Larasati, dan lainnya. Mereka secara bergantian manja merajuki. Tapi, lagi-lagi, pendar-pendar kangen `istri-istrinya’ tidak sanggup membangunkannya. Arjuna dianggap lulus uji sesudah dengan mulus melewati segala godaan, bahkan yang paling berat sekalipun. ‘Kesucian’ jiwanya pun dinilai paripurna sehingga dewa memberikan segudang berkah. Bathara Guru langsung menjumpai Arjuna dan memberikan anugerah berupa panah amat pasopati. Ini selaku bagian tanda bukti bahwa Arjuna sukses me-lockdown sehingga bersih dan selamat dari ‘virus’ nafsu-nafsu kotor duniawi. Guru lantas memerintahkan Arjuna menentramkan Kahyangan yang lagi gonjang-ganjing. Saat itu, Kahyangan dalam ancaman Prabu Newatakawaca. Raja Manimantaka itu akan meluluhlantakkan Kahyangan bila keinginannya meminang Bidadari Supraba ditolak. Singkat cerita, Arjuna sanggup mengenyahkan Newatakawaca. Atas jasanya itu, Arjuna berhak menikahi Supraba dan jadi raja di Kahyangan untuk sementara waktu dengan gelar Prabu Kiritin.

READ
AS Jatuhkan Sanksi Terbaru atas Iran Di Tengah Meluasnya Wabah Corona

Langkah mandiri

Makna cerita itu ialah Arjuna sukses mengatasi segala godaan. Itu Adalah gambaran bahwa ia sanggup membentengi diri dari kemungkinan terpapar bermacam nafsu yang menghancur-leburkan jiwa-raganya. Bermacam berkah yang didapat Arjuna dari meng-lockdown diri itu pada akhirnya jadi bekal ampuh waktu berhadapan dengan Bharatayuda. Dalam Pertempuran yang berlangsung di Kurusetra itu, Pandawa sukses membasmi Kurawa yang menyimbolkan ‘virus’ ketidakadilan. Dalam konteks kebangsaan Saat ini, di tengah masih merebaknya covid-19, cerita Begawan Ciptaning Adalah contoh langkah yang diambil Arjuna secara mandiri tanpa adanya keputusan strategi negara. Ia sadar Penting mengisolasi diri untuk menyelamatkan diri dan juga keluarganya. Hikmahnya, masyarakat Penting mandiri mengatur dirinya sendiri apa yang mesti dilaksanakan sehingga selamat dari penularan virus corona yang mematikan. Misalnya, seperti yang dilaksanakan Arjuna, ‘me-lockdown diri’. Inilah jalan yang bijak dan the best untuk kita seluruh. (M-2)




Lockdown

loading...

Recommended For You

About the Author: Hendro Purwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *