Meluruskan Jidat Hitam Khalid Basalamah (Tafsir Al-Fath Ayat 29)

jidat hitam tafsir surat al araf 29
Page Visited: 8
Read Time:10 Minute, 54 Second
jidat hitam di dahi menurut khalid basalamah
Makna jidat hitam yang disalahpahami oleh Khalid Basalamah. Foto: istimewa.

Warta Batavia – Sudah beredar di Youtube rekaman tanyajawab antara Sdr Khalid Basalamah dengan bagian jama’ah. Berikut ini kutipan transliterasi dari tanyajawab tersebut:

Pertanyaan:
Langsung saja ustadz. Apakah Rasulullah Saw mempunyai tanda hitam di dahinya? Apakah sahabat-sahabat Beliau memiki tanda hitam di dahinya?

Respon Khalid Basalamah:
Terang Al-Qur’an menerangkan problem itu ya. Surat Al-Fath ayat terakhir, jika nggak salah ayat 29,kan gitu. Allah Azza Wajalla menjelaskan, a’udzubillahi minas syaithoniirrajim:

Muhammadur Rasuulullah“, Muhammad benar utusan Allah. “Walladziina ma’ahum“,  dan yang bersamanya para sahabat. “Asyida-u aalal kufaari ruhama-u bainahum“, tegas dengan orang orang kafir dan kasih sayang di antara mereka.

Lalu Allah sebutkan cirinya: “Taroohum rukka’an sujjadan yabtaghuuna fadllan minallahi wa ridlwaanan“. Kamu akan menyaksikan mereka, cirinya akan senantiasa ruku’ dan sujud ya, untuk mencari keridlaan dari Tuhan mereka.

Lalu Allah bilang apa? “Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud“, di muka mereka terang tanda tanda. Siapa di sini? “Muhammadur Rasulullah Walladziina ma’ahum“, Nabi Muhammad Saw. dan sahabat-sahabatnya.

Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud“, di muka mereka kelihatan tanda sujud. Di mana tanda sujud itukah? Di dahi, gitu kan? Baca: Jidat Hitam Bukan Sunnah, Tetapi Ciri Khawarij.

Dan muka disebutin, sujud dalam hadits yang lain kata Nabi Saw diperintahkan saya sujud dengan tujuh member tubuh. Di muka ini dan dahi, kan gitu. Baru ke-2 telapak tangan 2 lutut 2 kaki.

Artinya yang dimaksud “Siimaahum fii wujuuhihim“, tanda tanda sujud di muka mereka itu ialah dahi. Jadi terang sekali firman Allah Swt. Jadi tuh yang kita pegangi. Wallahu a’lam.

Tanggapan:
Sehubungan dengan penjelasan yang sudah dipaparkan oleh Khalid Basalamah pertanyaannya ialah: 1). Termaktub dalam kitab apa? 2). Karangan siapa? 3). Bab apa? dan 4). Siapa nama ulama’nya?

Bunyi Surat dimaksud secara teks ialah:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Artinya:
Muhammad itu ialah utusan Allah dan orang-orang yang berbarengan dengan dia ialah keras kepada orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud“. (QS. Al-Fath: 29).

Yang mentafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “Siimaahum fii wujuuhihim” dalam Al-Qur’an Surah Al-Fath ayat 29 tersebut ialah “tanda hitam” di kening? Kemudian, bagaimana dengan beberapa penjelasan ulama tafsir berikut ini:

BACA JUGA :   Begini Rahasia Ibunda Presiden Joko Widodo Besarkan Putra-putrinya

1. Tafsir al-Khazin karya ‘Alauddin al-Khazin, menerangkan:
Terjadi perbedaan pandangan ulama Soal makna “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” ke 2 pandangan. Pandangan ke-1 tanda itu muncul pada hari qiyamat nanti. menurut pandangan ini, dikatakan tanda itu berupa cahaya putih yang muncul pada muka mereka yang dengan sebabnya mereka dikenali nanti di hari akhirat selaku orang yang suka sujud di dunia. Ini bagian riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas. Pandangan lain berdasar pandangan ke-1 ini ialah bagian muka mereka yang kena sujud seperti bulan purnama. Pandangan lain menjelaskan mereka akan dibangkit pada hari akhirat nanti dalam kondisi putih yang indah sehingga mereka dikenali dengannya.

Pandangan ke-2 menjelaskan tanda itu muncul di dunia. Muka mereka bersinar pada waktu siang sebab banyak shalat pada waktu malam. Pandangan lain berdasar pandangan ke-2 ini mempunyai perilaku yang yang baik, khusyu’ dan tawadhu’. Pandangan lainnya bersih muka sebab berjaga malam. Hal itu dapat dikenali pada 2 orang dimana salah satunya berjaga malam untuk shalat dan ibadah, sedangkan satunya lagi berjaga malam untuk main-main Maka begitu pagi tiba, nyatalah beda antara keduanya, pada muka orang shalat muncul cahaya dan sinar, sedangkan pada muka yang suka main-main muncul kegelapan. Pandangan lain lagi berdasar pandangan ke-2 ini munculnya bekasan tanah pada dahi mereka sebab mereka sujud atas tanah, bukan atas kain.

(Alauddin al-Khazin, Tafsir al-Khazin, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hlm. 172)

2. Tafsir Ibnu Katsir
Dalam menafsirkan “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka” Ibnu Abbas menjelaskan perilaku yang baik. Mujahid dan lainnya menjelaskan khusyu’ dan tawadhu’. Al-Suddi menjelaskan shalat memperbaguskan muka. Sebagian salaf menjelaskan orang yang banyak shalat pada waktu malam akan memperbagus wajahnya pada waktu siang.

(Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut Juz. VII, Hlm. 337)

3. Tafsir al-Thabari
Dalam tafsirnya, Al-Thabari sesudah menyebut pendapat-pendapat Soal penafsiran “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka” sebagaimana yang sudah dikemukakan al-Khazin dan Ibnu Katsir di atas, beliau menjelaskan :

“Pandangan yang lebih pas ialah sesungguhnya Allah Ta’ala memberitahukan bahwa mereka ialah kaum yang disifati dengan suatu sifat dari bekas sujud dan sifat itu tidak terkhusus pada suatu waktu, maka itu ada pada tiap-tiap waktu. Sebab itu, tanda mereka yang dapat dikenali mereka dengan sebabnya ialah bekas Islam, yaitu berupa khusyu’, hidayah, zuhud, perilaku yang baik, bekas menunai ibadah fardhu dan sunnatnya. Adapun di akhirat tanda-tanda mereka sebagaimana khabar tentangnya ialah putih pada wajahnya, putih pada tangan dan kakinya sebab bekas wudhu’ dan putih muka sebab bekas sujud.

(Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hlm. 265)

BACA JUGA :   Yaman Konfirmasi Perkara Corona Ke-1

4. Tafsir al-Qurthubi
Dalam Tafsir al-Qurthubi selain dari pendapat-pendapat di atas disebutkan juga Malik mengumumkan tanda mereka pada muka mereka berupa bekas sujud, yaitu tanah yang bersangkut pada dahi mereka pada waktu sujud. Pandangan ini juga Adalah pandangan Sa’id bin Jubair. Ibnu Juraij menjelaskan berwibawa dan bercahaya. Syimr bin Athiah menjelaskan pucat muka sebab mendirikan malam. Hasan menjelaskan apabila kau menyaksikan mereka, kau sangka mereka sakit, padahal mereka tidak sakit. Zhahak menjelaskan tidak ada bekas apapun pada muka mereka, tetapi itu pucat.

(Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. XVI, Hlm. 293)

5. Tafsir al-Jalalain dan Hasyiah nya, al-Shawi
Dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan cahaya putih yang dapat dikenali mereka dengan sebabnya di hari akhirat kelak. Dalam al-Shawi ‘ala al-Jalalain dikatakan terjadi perbedaan pandangan Soal makna tanda tersebut. Sebagian ulama menjelaskan bagian muka yang kena sujud itu dilihat pada hari kiamat laksana bulan purnama. Pandangan lain menjelaskan pucat muka sebab berjaga malam. Sebagian lain berpendapat khusyu’ yang muncul pada member tubuh sehingga seperti dilihat mereka dalam kondisi sakit, padahal mereka tidak sakit. Berikutnya al-Shawi mengatakan dengan tegas tidak termasuk dari maksud tanda dari bekas sujud itu apa yang dilaksanakan oleh sebagian orang bodoh yang sengaja memperlihatkan tanda bekas sujud pada dahinya, maka itu ialah perbuatan kaum Khawarij. Lalu al-Shawi mengutip hadits Nabi yang berbunyi:

اني لابغض الرجل واكره اذا رايت بين عينيه اثر السجود

Artinya:
Sesungguhnya saya amat tidak suka seseorang apabila saya menyaksikan di antara 2 matanya bekas sujud“.

(Al-Shawi, Hasyiah al-Shawi ‘ala al-Jalalain, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hlm. 106)

Hadits yang dikemukakan oleh Al-Shawi di atas Adalah Utama dari hadits dari Syarik bin Syihab. Beliau berkata:

كُنْتُ أَتَمَنَّى أَنْ أَلْقَى رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُحَدِّثُنِي عَنِ الْخَوَارِجِ، فَلَقِيتُ أَبَا بَرْزَةَ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقُلْتُ:يَا أَبَا بَرْزَةَ، حَدِّثْنَا بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُهُ فِي الْخَوَارِجِ. قَالَ: أُحَدِّثُكَ بِمَا سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَرَأَتْ عَيْنَايَ: أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِدَنَانِيرَ يُقَسِّمُهَا، وَعِنْدَهُ رَجُلٌ أَسْوَدُ، مَطْمُومُ الشَّعْرِ، عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ، بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَتَعَرَّضَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَتَاهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا، فَأَتَاهُ مِنْ قِبَلِ يَمِينِهِ فَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا، ثُمَّ أَتَاهُ مِنْ خَلْفِهِ فَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا، فَقَالَ: وَاللَّهِ يَا مُحَمَّدُ مَا عَدَلْتَ فِي الْقِسْمَةِ مُنْذُ الْيَوْمِ. فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – غَضَبًا شَدِيدًا ثُمَّ قَالَ: ” وَاللَّهِ لَا تَجِدُونَ بَعْدِي أَحَدًا أَعْدَلَ عَلَيْكُمْ مِنِّي ” قَالَهَا ثَلَاثًا.ثُمَّ قَالَ: ” يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ – كَانَ هَذَا مِنْهُمْ – هَدْيُهُمْ هَكَذَا، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَا يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ “. وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ ” سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، لَا يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ” قَالَهَا ثَلَاثًا ” شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ ” قَالَهَا ثَلَاثًا».

Artinya:
Saya menginginkan dapat berjumpa dengan salah seorang shahabat Rasulullah Saw. yang dapat menceritakan hadits soal Khawarij kepadaku. Suatu hari saya berjumpa dengan Abu Barzah yang Ada berbarengan 1 iring-iringan para shahabat pada hari ‘Arafah. Saya berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah Saw. soal Khawarij”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan ke kau suatu hadits yang didengar sendiri oleh ke-2 telingaku dan dilihat oleh ke-2 mataku. Sejumlah uang dinar diberikan ke Rasulullah Saw. lalu beliau membaginya. Ada seorang yang berkulit hitam dan plontos kepalanya dan ada bekas sujud di antara ke-2 matanya. Dia mengenakan 2 lembar kain berkelir putih. Dia mendatangi Rasulullah Saw. dari arah depan, tetapi Rasulullah Saw. tidak memberinya sesuatupun, lalu dia mendatanginya dari arah kanan, tetapi Rasulullah Saw. juga tidak memberikannya sesuatu pun, lalu dia mendatanginya dari arah belakang, akan tetapi Rasulullah Saw. pun tidak memberikannya. Dia kemudian berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Menguping ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Untuk Allah, sesudah saya meninggal dunia Anda semua tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Seperti ini beliau ulangi sebanyak 3 kali. Lalu beliau bersabda, “Akan keluar dari arah Timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia ialah bagian dari mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka meroket dari agama sebagaimana anak panah meroket dari hewan sasarannya kemudia mereka tidak akan kembali ke agama. Rasulullah Saw. meletak tangan beliau di dadanya, lalu menjelaskan, ciri khas mereka ialah plontos kepala. Mereka akan senantiasa muncul sehingga muncul yang terakhir dari mereka. Apabila Anda semua melihatnya, maka bunuhlah mereka. Seperti ini beliau ulangi sebanyak 3 kali. Mereka ialah seburuk-buruk kejadian dan makhluq. Seperti ini beliau ulangi sebanyak 3 kali. (H.R. Ahmad dan al-Azraq bin Qais, sudah dinyatakan tsiqqah oleh Ibnu Hibban, sedangkan rijal lainnya ialah shahih)

BACA JUGA :   Tembus 36 Ribu Perkara Positif, Ini Sebaran 1.111 Perkara Baru Virus Corona 12 Juni

(Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hlm. 229, No. Hadits 10408).

Semoga penjelasan ini dapat direnungi oleh balakurawa wahabi Indonesia dan mudah-mudahan sampai juga ke Khalid Basalamah. [Warta Batavia/ab]

Source link | Meluruskan Jidat Hitam Khalid Basalamah (Tafsir Al-Fath Ayat 29)

loading...

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *