Meluruskan Ustad Youtube yang Mendadak Jadi Kritikus Film Cuma Menyaksikan Trailer ‘The Santri’ Saja

Breaking News 2

Meluruskan Ustad Youtube yang Mendadak Jadi Kritikus Film Cuma Menyaksikan Trailer ‘The Santri’ Saja

Oleh K.H. Imam Jazuli. Lc. MA.*

KH Imam Jazuli Lc. MA merespon bermacam kritik kubu orang yang Tidak mau film The Santri.

Alumni Universitas Al Azhar Mesir itu, merinci 1 persatu poin kritikan mereka dan menjawabnya dengan cara elegan.

Tanggapan Kyai Imam disampaikan melalui artikel yang diterbitkan Tribunnews.com.

Menakar Respon Instan Atas Trailer Film The Santri

Paham radikalisme tidak pernah surut. Ideologi Islam radikal; takfiri, tadhlili, terus berganti muka. Terus diteriakkan, sekali pun telah di luar nalar kewajaran. Termasuk dengan melontarkan tudingan adanya pemurtadan melalui film The Santri, besutan sutradara Livi Zheng yang Disokong NU Chanel. Cuma sebab perbedaan pandangan seputar hukum ikhtilat, santri masuk gereja dan “percintaan” dunia remaja?

Ustad Maheer Atthuwailibi Jakarta, ustad Yahya al-Bahjah Cirebon, dan ustad Luthfi Bashori Malang, ialah contoh kecil orang-orang yang menuding ada pemurtadan dalam film The Santri. Dalam Perkara Film The Santri, Mendadak saja mereka jadi ahli dan kritikus film. Cukup bermodal bahan trailler dan setumpuk kebencian dalam dada, jadilah mereka kritikus yang lantang. Bahkan, mereka setuju memboikot penayangan film ini.

Bukti yang banyak mereka soroti ialah cuplikan adegan santriwati menyerahkan nasi tumpeng untuk orang di gereja. Dengan argumen sekenanya, mereka menuding itulah fasilitas pemurtadan film The Santri.

Tudingan tidak saja ‘ghuluw’ atau keterlaluan melainkan melampaui keputusan para ulama dari bermacam mazhab. Padahal, 4 mazhab setuju bahwa muslim masuk gereja tidak murtad.

Sungguh benar sebagian ulama mazhab Syafi’iyah dan Hanafiyah mengharamkan muslim masuk gereja. Pandangan tersebut dikeluarkan oleh, di antaranya, Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj, 2/424), Syihabuddin ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj, 2/63), Qalyubi dan Umairah (Hasyiatu Qalyubi wa Umairah ala Syarhi al-Mahalli ala Minhajit Thalibin, 4/236).

Argumentasi ulama mengharamkan muslim masuk gereja ialah sebab di dalam gereja Ada syetan (Ibnu Najim, Bahrur Raiq, 7/364). Akan tetapi, hukum haram tidak kemudian membikin pelakunya jadi murtad. Misal, daging babi haram. Namun, muslim memakan daging babi tidak jadi murtad.

Sebab hukum haram mempunyai ‘illat, maka ulama lain mencoba memberikan batasan, ialah cuma kalau di dalam gereja Ada gambar dan patung Yesus, bunda Maria, dan lainnya. Kalau illat hukum ini tidak ada maka boleh muslim masuk gereja (Abdus Salam bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, 5/327).

Illat hukum ini berlaku tidak saja di dalam gereja. Namun berlaku secara umum, termasuk di dalam rumah orang muslim sendiri. Hadits riwayat Ibnu Abbas menjelaskan, “kalau Nabi saw. menyaksikan ada gambar di dalam rumah maka beliau tidak masuk sampai gambar itu dihapus/diturunkan,” (HR. Bukhari).

Illat inilah yang jadi pedoman bagi mazhab Hanbali, dengan menjelaskan bahwa muslim masuk gereja itu makruh dan bukan haram. Apalagi keterlaluan dituduh murtad. Bahkan, apabila orang-orang muslim merasa tidak terganggu oleh adanya gambar dan patung dalam gereja, seperti tidak terpengaruh oleh lukisan penghias dinding di rumah, maka hal itu boleh. Kalau masuknya sebab keperluan penting, seperti musyawarah untuk mufakat, atau Lawatan yang sungguh diperlukan  dalam rangka mempererat brothership dan toleransi, maka hukumnya biasa saja jadi baik.

Ulama Hanbali menyaksikan celah nalar tersebut. Sehingga, mereka memberi hukum yang lebih ringan dibandingkan hukum makruh, ialah hukum mubah atau jaiz. Artinya, muslim boleh masuk gereja sekali pun ada gambar dan patung di dalamnya. Hukum jaiz tersebut dapat dilihat dalam pendapatnya Ibnu Qudamah (al-Mughni, 8/113), Sulaiman al-Marsawi (al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih minal Khilaf, 1/496), dan Ibnu Hazm ad-Dhahiri (al-Mahalli, 1/400).

Membolehkan ummat muslim masuk gereja mempunyai argumentasi kuat. Para ulama selain berdalil pada hadits juga berdalil berdasar kejadian sejarah. Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah memerintahkan ummat Nashrani untuk membangun gereja-gereja mereka dengan ukuran yang lebih besar dan lebih luas. Target keputusan strategi politik Umar ra tersebut ialah agar ummat muslim dapat masuk ke dalam gereja dan tidur bermalam di sana (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Kejadian sejarah lain serupa terjadi waktu penaklukan Negeri Syam. Pada waktu itu, Umar ra dan Ali bin Abi Thalib berangkat ke Syam untuk melihat kota yang baru tunduk itu. Untuk menyambut kehadiran sang Khalifah, ummat Nashrani memasak masakan paling lezat untuk hidangan khalifah. Saat hidangan siap santap, Ali bin Abi Thalib tidak menyaksikan Umar. Dia menanyakan: “kemana Umar?” Orang-orang menjawab: “beliau di dalam gereja.”

Awalnya Ali Tidak mau ikut masuk ke gereja. Tetapi, Umar berkata: “pergilah bareng yang lain!” Ali pun ikut anjuran Umar, ia masuk ke dalam gereja, dan ikut makan bareng orang-orang Nashrani. Di dalam gereja, Ali bin Abi Thalib melihat-lihat seni ukir dan lukisan ummat Nashrani itu (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Kebolehan masuk gereja Disokong oleh Lajnah Da-imah lil Buhuts al-Ilmiah wa al-Ifta’. Muslim boleh (jaiz) masuk ke dalam gereja dengan catatan untuk maksud toleransi (at-tasamuh), memperkenalkan muka Islam yang damai supaya mereka cinta Islam, tidak ikut-ikutan melaksanakan ibadah gereja, dan tidak kuatir terpengaruh oleh ajaran gereja (Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiah wal Ifta’, Riyadh: Darul Muayyid, 1424 H., 2/115).

Telah jadi rahasia umum, para ulama Timur Tengah, khususnya grand syeikh al-Azhar, terbiasa masuk gereja. Mereka duduk bareng dengan Paus dan bapak gereja lainnya. Kalau masuk ke dalam gereja disebut pemurtadan, maka sungguh hal itu lebih tampak selaku kebencian atas nama agama dari pada membela agama dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan.

Kritik lain yang kesannya keterlaluan (ghuluw) dari berdasar pada ilmu agama ialah mengenai hal ikhtilath. Mereka mengkritik adegan para santriwati dan santriwati di suatu tempat yang sama. Kecuali pemandangan seperti ini hal lumrah terjadi di banyak pesantren tradisional, banyak ulama juga membolehkan ikhtilat, apalagi di dalam lembaga pendidikan. Dr. Abdul Masih Sam’an, Guru besar Universitas ‘Ain Syam sekaligus ulama Kuwait, bahkan menjelaskan bahwa ikhtilath antara wanita dan laki-laki di lembaga pendidikan Adalah Kewajiban (la budda).

Menurut dia, negara-negara yang mencegah ikhtilath jauh lebih potensial memancing kerusakan akhlak. Sebaliknya, pembiasaaan ikhtilath semenjak madrasah ibtidaiyah akan mengurangi dampak negatif tersebut. Dengan argumentasi yang sama, Dr. ‘Adil al-Madani, seorang guru besar ilmu psikologi Universitas al-Azhar, Kairo, malah menyaksikan ikhtilath di lembaga pendidikan mesti dilaksanakan semenjak usia dini (ALWATAN,18/1/2012).

Hadits yang dipakai para ulama ialah riwayat Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah saw naik ke mimbar dan bersabda: “semenjak hari ini tidak boleh ada laki-laki masuk ke mughibah (wanita bersuami yang suaminya tengah pergi-pent.) kecuali ia bareng seorang laki-laki lain, atau bareng 2 wanita di sampingnya,” (HR. Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, ia menjelaskan: “Rasulullah saw mendatangi Ummu Haram binti Mulhan, lalu Ummu Haram mempersembahkan makanan pada beliau dan menyisir rambut beliau. Lalu Rasulullah saw tertidur. seusai bangun, Rasulullah tertawa. Ummu Haram menanyakan: ‘apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasul?’ Rasul bersabda: ‘umatku maju ke medan perang, mereka menunggangi kuda seperti gelombang laut,” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits-hadits di atas tidak saja menyokong bolehnya ikhtilath, bercampurnya laki-laki dengan wanita dalam batas yang kewajaran, tetapi juga jadi dalil bagi bolehnya wanita menyisiri rambut laki-laki bukan muhrimnya. Mungkin sebab  menyaksikan ada kelonggaran hukum ikhtilat disini, sebagian para kyai masih membiarkan santriwan dan santriwatinya campur dalam 1 kelas, selaku hal yang wajar dan tidak Penting dicurigai secara keterlaluan.

Sungguh, kritik yang didasari kebencian dan bukan semata ilmu pengetahuan, meninggalkan banyak celah. Hal itu tampak pula waktu mereka memaknai alur percintaan (love story) dalam film The Santri dengan melalaikan prinsip penting yang secara jelas-jelas tertulis pada layar kaca dalam thriller film itu, ialah “friendship”. Kata lain friendship ialah ukhuwah atau brothership.

Adegan pemberian buku oleh santri putra untuk santri putri sebelum berangkat ke Amerika ialah ikatan ukhuwah. Sehingga ‘love story’ hanyalah bumbu film, dan tidak lebih dari sekadar pemanis. Film tanpa cerita cinta akan terasa kering dan tidak menyentuh. Apalagi benih cinta bukan perkara dosa, bukan aib, apalagi jadi pembusukan akhlak.

Sebaliknya, cinta ialah watak alamiah manusia, dan bekal spiritualitas. Maulana Rumi dalam sebuah risalah cintanya mengutip sebuah hadits. Pada waktu itu, seorang sahabat duduk di samping Nabi. Mendadak seorang figur publik pembesar dari sukunya keluar dari arah masjid. Sahabat itu berkata pada Nabi, “wahai Rasul, saya kagum pada dia!” Jawab Nabi, “ungkapkanlah!”. Kagum di sini ialah bentuk persahabatan (friendship).

Pergeseran wacana ke ranah seni sungguh menarik. Tempo hari, Ustad Abdul Somad (UAS) mengkafir para penggemar K-Pop dan film drama Korea. Sekarang, ustad-ustad milenial ini mengkritik film. Modal mereka tetap sama, ideologi takfiri dan tadhlili, pengkafiran dan tudingan sesat kepada kubu lain, sekalipun di luar kemampuan intelektual mereka.

Film ialah 1 dimensi intelektualitas yang menggabung banyak aspek, seperti seni akting, pentas, koreografi, bahkan lighting dalam pengambilan gambar, pembuatan teks skenario, dan lainnya. Ranah kesenian ialah dunia lain di luar kemampuan ustad-ustad milenial tersebut. Syeikh Muhammad Qutub menjelaskan, al-fann al-islami laisa bid dhorurah. Kesenian dalam Islam bukan perkara substansial (Muhammad Qutub, Minhajul Fann al-Islami, Beirut: Dar as-Syuruq, 1983, h. 6).

Artinya, seni Islami bukan ranah agamawan. Sebaliknya, Muhammad Qutub Menegaskan bahwa seni Islam mempertahankan 2 hal: al-Jamal (aspek estetika) dan al-Haqq (aspek kebenaran). Estetika ialah al-haqiqah fi hadzal kawn, substansi kehidupan. Adapun kebenaran ialah dzurrah al-jamal, Utama keindahan (Muhammad Qutub, Minhajul Fann al-Islami, 1983: 15 dan 71).

Perlunya Kearifan

Ustad-ustad selebritis hendaklah lebih banyak belajar dan membaca dari pada banyak berfatwa. Masih hangat dalam ingatan beberapa hari lalu ustad Abdul Somad (UAS) mengkafir-kafirkan para penggemar K-Pop dan film drama Korea. Lalu perkumpulan ustad-ustad milenial macam ini mencari garapan baru dengan mengkritik thriller film The Santri. Polanya tetap sama: keterlaluan dan tergesa-gesa dalam berfatwa.

Padahal, trailer film semenjak awal menampilkan seorang ustad yang mendidik karakter para santrinya, agar mereka percaya pada kesanggupan diri sendiri maupun untuk mimpi yang ingin mereka raih. Ini ialah prinsip kebenaran. Dibumbui dengan adegan olahraga pancaksilat sebelum disusul oleh shalat berjamaah. Lalu apa yang bukan kebenaran?

Kebenaran lain, dengan tegas thriller itu menjelaskan, santri ialah entitas yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah Indonesia. Ini ialah narasi soal nasionalisme. Akan tetapi, para pengkritik mungkin dihantui rasa takut sebab muncul kalimat yang berbau Amerika. “Enam di antara Anda semua (santri) yang terpilih akan berangkat dan bekerja di Amerika. Buatlah bangga negaramu!”

Kalau sutradara film The Santri maupun penulis skenarionya memaksudkan kalimat “siapa yang terpilih akan berangkat dan bekerja di Amerika” selaku spirit belajar sains dan teknologi, maka film ini telah benar dalam kategori Muhammad Qutub mengenai hal batasan seni Islam. Akan tetapi begitu, cara perkumpulan NU sejati dengan orang-orang non-NU itu sungguh tak sama dalam memaknai Amerika.

Kebanyakan intelektual-intelektual NU tidak pernah memilah-milah ilmu pengetahuan, antara agama dan sekuler. Antara Amerika, Eropa dan Timur Tengah. Karenanya, intelektual NU sebagian belajar di Timur Tengah dan sebagian di Eropa dan Amerika. Nasionalisme, pluralisme, jadi konsumsi harian mereka. Tidak Penting heran lalu bila dalam film The Santri ada cuplikan adegan Santri masuk Gereja membawa Tumpeng, karena itu menandakan bahwa Tumpeng selaku kreasi budaya dapat menyatukan Islam dan Gereja.

Persatuan Islam dan Gereja tidak akan pernah dikehendaki oleh musuh-musuh Islam. Cara paling gampang menandai musuh Islam ialah mereka menggunakan nama Islam untuk merusak segala hal, termasuk merusak persatuan dan kesatuan, merusak kerukunan. Ayat-ayat, hadis dan sunnah, bahkan logika dan argumentasi mereka berbalut Islam untuk membawa kehancuran dan menimbulkan fitnah.

Itulah kebenaran-kebenaran (al-Haqq) yang Ada di dalam keindahan estetik (al-jamal) film The Santri. Kebenaran Penting dibicarakan terlebih dahulu sebab al-Haqq ialah Dzurratul Jamal. Lalu apa al-Jamal dalam film The Santri? Sepeti potongan penutup thriller tersebut, “friendship” persahabatan antara santri putra dengan santri putri yang terpisahkan oleh takdir; 1 berangkat ke Amerika untuk belajar dan 1 meneruskan studi di Indonesia. Ini cuma masalah ke-2, menurut kategori Muhammad Qutub.

Film The Santri telah memenuhi kategori selaku Seni Islam, yaitu at-ta’bir al-jamil ‘an haqoiqul wujud min zawiyatut tashawwur islami, mengekspresikan keindaham mengenai hal kebenaran-kebenaran wujud dengan cara yang Islami (Qutub, Minhajul Fann, 1983: 171). Olahraga, pendidikan karakter, nasionalisme, pluralisme, dan ukhuwah (friendship) ialah hakikat-hakikat kebenaran yang Adalah Utama dari estetika Islam.

Anwar al-Jundi dalam Kitab Kaifa Yahtafizhul Muslimun biz Dzatil Islamiyah menjelaskan, kesenian dalam Islam itu ialah usaha transformasi nilai (qiyam), ide (afkar), dan empati (masyair) untuk orang lain, dengan cara-cara estetis, membekas dalam jiwa audiens (al-Jundi, Kaifa Yahtafizhu, Beirut: Tsaqafiyah, 1985). Bagaimana cara hati audiens tersentuh? Tentu saja relatif, sesuai spirit jaman. Kalau roman dan drama ialah cara yang populer di suatu jaman maka drama pun dapat dipakai selaku wasilah. Dan hal itu tidak menyalahi aturan Islam.

Penulis percaya, tidaklah elok kita mengkritik sebuah karya seni berupa film cuma bermodalkan “cangkeman” menurut istilah orang Jawa. Yaitu, justifikasi-justifikasi tidak bermodal dan receh. Kalau sungguh kubu yang suka menghujat kesenian ini punya versi sendiri, tampilkanlah dalam wujud karya nyata. Buatlah film tandingan. Di sanalah kita akan bangun perdebatan mengenai hal esensi dan substansi karya seni Islam.

Terlepas dari kekurangannya, Film The Santri tengah memperjuangkan spirit nasionalisme, pluralisme, inklusifitas, brothership, dan kerukunan antar iman. Selebihnya, hanyalah tafsir yang keterlaluan dan ketakutan tidak beralasan.

Kesimpulan ini didapatkan, sebab misalnya, saat film Ayat-Ayat Cinta, Saat Cinta Bertasbih, Pesantren Rock’N Roll dan, 212 The Power of Love,  yanga adegannya lebih fulgar, mereka malah antusias mengapresiasi, tetapi giliran THE SANTRI, yang sesungguhnya masih dalam batas kewajaran, mereka memberi cap liberal dan tidak syar’i!? Sesunguhnya Anda semua ini ada apa? Apakah ‘benci’ pada Kyai NU? Atau mungkin ada sesuatu yang kami tidak tahu? Wallahu’alam bishawab.

*Alumni Universitas al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Orang Mulia; Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Sumber : Tribunnews

Meluruskan Ustad Youtube yang Mendadak Jadi Kritikus Film Cuma Menyaksikan Trailer ‘The Santri’ Saja

Meluruskan Ustad Youtube yang Mendadak Jadi Kritikus Film Hanya Melihat Trailer ‘The Santri’ Saja

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *