Meneguhkan Pancasila selaku Dasar Bernegara

Meneguhkan Pancasila selaku Dasar Bernegara

Meneguhkan Pancasila selaku Dasar Bernegara

Di tengah-tengah pandemi yang menghantui dunia, seketika saja DPR mengusulkan rancangan undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang akhirnya jadi kontroversi sebab bagian pasalnya mengekstraksi Pancasila jadi trisila dan lantas ekasila selaku pemaknaan kepada Pancasila. Nahdlatul Ulama bareng dengan ormas Islam lainnya menentang hilangnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang secara substansi dapat dimaknai pengubahan Indonesia dari negara religius jadi sekuler. 


5 sila yang jadi dasar dalam kehidupan bernegara ini Adalah hasil abstraksi pemikiran dan dialog panjang para pendiri bangsa (founding father) yang berasal dari bermacam back-ground. Semenjak awal 1900-an, di Nusantara sudah muncul bermacam organisasi yang punya tujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Budi Utomo, PNI, dan lainnya. Masing-masing organisasi mewakili agama atau ideologi tertentu. 


Zaman itu Adalah masa bersemainya usaha kemerdekaan bermacam bangsa yang selama ratusan tahun mengalami kolonisasi. Masing-masing pejuang kebangsaan berusaha mencari prinsip-prinsip dasar yang jadi visi bareng dalam berbangsa. Agama, humanisme, sosialisme, dan bermacam ideologi lain yang berkembang berusaha menawarkan jalan keluar atas bermacam masalah yang muncul. Para pemikir kebangsaan di Indonesia pun tidak ketinggalan, mengaji bermacam konsep tersebut. 


Waktu itu ummat Islam berharap negara yang akan dibentuk Adalah negara agama. Kubu sekuler liberal berharap pemisahan full antara kehidupan agama, sementara kubu sosialis berharap sebuah negara yang Menegaskan prinsip keadilan sosial selaku yang paling Inti. Pada akhirnya, dialog intens yang diadakan oleh para pendiri bangsa tersebut akhirnya menghasilkan konsensus berupa Pancasila yang memasukkan prinsip-prinsip dasar agama dan ideologi besar yang berkembang di dunia, seperti ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Ummat Islam bersedia berkompromi terkait penghapusan redaksi pada sila ke-1 dalam Piagam Jakarta yang berbunyi Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya jadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini untuk menyatukan bermacam pandangan dan kubu yang amat bermacam di Indonesia. 

BACA JUGA :   Rizieq Munarman, Akhirnya Lebaran Kuda


Akan tetapi bukan artinya langkah seterusnya berlangsung dengan mudah sesudah kemerdekaan dideklarasikan. Bermacam Bughot di daerah yang terjadi selama Orde Lama, perdebatan dalam sidang Dewan Konstituante, sampai dengan kejadian 1965, bahkan amandemen UUD 1945 yang berlangsung pada periode 1998-2002 mencerminkan pertarungan konsep bernegara antar-berbagai kubu dan ideologi. Komitmen-kesepakatan dasar tersebut belum sepenuhnya diterima. 


Apa yang terjadi waktu ini Adalah pertarungan lanjutan dari kontestasi ideologi yang sudah muncul semenjak sebelum kemerdekaan. Ummat Islam arus Inti sudah menerima Pancasila, akan tetapi beberapa kubu Islam masih mengampanyekan jargon-jargon negara agama seperti sistem khilafah, NKRI bersyariah atau nama lainnya yang intinya ingin merubah Indonesia jadi negara agama. Kubu sekuler dengan bermacam variannya, baik liberal, sosialis atau lainnya juga tetap memperjuangkan pemisahan agama dengan kehidupan bernegara. Bermacam pandangan dan kepentingan ini mungkin tidak akan pernah hilang dan perebutan pengaruh terus berlangsung dalam produk bermacam undang-undang dan aturan turunan di bawahnya. 


Dalam tataran yang lebih operasional, pemaknaan kepada nilai-nilai Pancasila juga mengalami Pergantian sesuai dengan rezim yang berkuasa. Yang masih melekat dalam ingatan banyak orang, khususnya yang lahir di era 80-an ialah keputusan strategi Orde Baru terkait dengan Pancasila, yaitu Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dengan butir-butir Pancasila-nya. Akan tetapi, waktu rezim tersebut tumbang, program-program yang diusungnya telah tidak lagi populer di warga.


Sekalipun melelahkan, kalau menengok perjalanan panjang dalam menentukan arah kita berbangsa, maka bentuk kenegaraan kita makin mengalami kristalisasi. Akan senantiasa ada perbedaan pandangan dalam sebuah masalah, tetapi dalam hal-hal yang sifatnya mendasar, Komitmen tersebut sebaiknya tidak Penting lagi pro kontra. 

BACA JUGA :   Soal Investasi Bodong 212 Mart, Haikal Hassan Mau Cuci Tangan


NU dan organisasi Islam lainnya menerima Pancasila selaku dasar berorganisasi sesudah memastikan bahwa Pancasila tidak dapat menggantikan Islam selaku agama. Sebab itu, wajar kalau terjadi penolakan keras waktu muncul usaha memeras Pancasila jadi trisila, apalagi ekasila yang menghilangkah prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Perdebatan soal trisila dan ekasila Adalah bagian dari ide-ide para pendiri bangsa yang lantas masing-masing menyepakati yang the best bagi bangsa ini. 


Kalau hal-hal prinsip tersebut terus saja pro kontra, maka usaha implementasi dari nilai-nilai tersebut akan jauh dari apa yang kita harapkan.Nilai-nilai dalam Pancasila Adalah prinsip universal yang baik yang diterima seluruh bangsa. Saatnya kita bergerak maju untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. Korupsi, ketimpangan sosial, polarisasi politik, ucapan kebencian, dan lain-lain yang masih marak di Indonesia Adalah cerminan dari jauhnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 


Keberhasilan sebuah pemerintahan atau partai politik yang berkuasa, jangan lagi didasarkan pada merubah konsep-konsep yang telah disepakati para pendiri bangsa. Kalau usaha merubah itu terus ditunaikan, maka penguasa seterusnya berkemungkinan akan kembali melaksanakan Pergantian sesuai dengan perspektifnya sendiri. Dengan sedemikian, kita akan jadi sebuah bangsa yang tidak pernah selesai dalam menentukan jati dirinya. 


Penerimaan Pancasila di warga, akan ditetapkan oleh sejauh mana keberhasilan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kalau sekedar jadi jargon yang diteriakkan dalam bermacam perjumpaan atau dituliskan di papan-papan pengumuman yang tidak dibaca, maka cita-cita untuk merubah konsep dasar negara akan senantiasa hidup. Itulah tugas kita sekarang, untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. (Achmad Mukafi Niam)

 

Meneguhkan Pancasila selaku Dasar Bernegara
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *