Mengatur Pola Tidur waktu Bulan Puasa di Tengah Wabah Covid-19

1588256972

Mengatur Pola Tidur waktu Bulan Puasa di Tengah Wabah Covid-19

Jakarta, Warta Batavia

Aktivitas tidur mempunyai peran penting dalam menjaga keadaan, kebugaran, dan ketahanan tubuh waktu puasa apalagi di tengah merebaknya wabah virus corona penyebab Covid-19.

Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Warga (FKM) Universitas Indonesia (UI), dr Syahrizal Syarif menerangkan bahwa tidur mempengaruhi imunitas tubuh.

“Kalau seseorang kurang, itu akan menurunkan kekebalan atau imunitas. Dan itu amat tidak baik di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang,” ucap Syahrizal, Selasa (28/4) lalu di Jakarta.

Menurut dia, tidur yang baik untuk tetap menjaga kekebalan tubuh ialah 7-8 jam per hari. Dalam suasana bulan puasa, biasanya pola tidur kurang sedikit teratur.

Tetapi sedemikian, menurut Ketua PBNU Bidang Kesehatan ini, tidur sampai 7 jam per hari tidak mesti berurutan sekaligus. “Kalau misal malam hari cuma dapat tidur 4 jam, 3 jam lagi dapat dilanjutkan di siang hari,” terang Syahrizal.

Kecuali itu, ia juga menerangkan bahwa santap makan sahur Adalah bagian ibadah di bulan Ramadhan yang menyimpan berkah bagi orang-orang yang melakukannya sebelum menjalankan ibadah puasa.

Kecuali bernilai ibadah, sahur juga sanggup menguatkan ketahanan tubuh tatkala berpuasa. Hal ini penting di tengah wabah virus corona yang memerlukan cukup ketahanan tubuh selaku langkah pencegahan.

Menurut Syahrizal, santap menu sahur dapat dikerjakan dengan menyajikan sayur-sayuran dan protein lemak.

“Jadi jikalau sahur, itu makan makanan yang susah diolah, makanan yang susah diolah itu yaitu sayur-sayuran, protein lemak agar dapat sedikit tahan lapar sehingga dapat menguatkan ketahanan tubuh,” ujarnya.

“Jadi makanan berlemak itu bagus untuk sahur, tetapi sebaliknya tidak bagus untuk berbuka,” imbuh Syahrizal.

BACA JUGA :   Kata Member Kongres AS soal Planning Israel Aneksasi Tepi Barat

Adapun kalau berbuka jikalau dapat jangan makanan yang susah diolah terlebih dulu, yaitu makanan-makanan yang berupa sayur dan lemak. “Makanan lemak itu untuk santap sahur saja,” katanya.

Untuk berbuka puasa, lanjut Ketua PBNU Bidang Kesehtan ini, jikalau dapat juga jangan makanan yang bersantan. Sebab dalam keadaan berbuka puasa, makanan mesti diolah secara cepat.

“Berbuka puasa dengan yang ringan dan manis itu baik dan sehat, entah itu kurma, teh manis (dingin atau hangat), itu bagus sebab lambung itu telah 12 jam istirahat, sebaiknya jangan langsung makanan berat,” jelasnya.

Ia menerangkan, nasi itu termasuk makanan berat, jikalau yang bagus makan takjil, sesudah itu sholat maghrib, lalu berbuka dengan nasi. “Jangan langsung menu yang berat-berat, kasihan perutnya,” ujar Syahrizal.

Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Kendi Setiawan

Mengatur Pola Tidur waktu Bulan Puasa di Tengah Wabah Covid-19
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *