Mukjizat Alquran Tanpa Batas, Melebihi Mukjizat Nabi Musa

Breaking News 9

Mukjizat Alquran Tanpa Batas, Melebihi Mukjizat Nabi Musa

Berita Islam — Berbicara seputar mu’jizat tentu pernah terbesit pertanyaan mengapa mukjizat Nabi Muhammad seakan tidak sehebat Nabi Musa dengan tongkatnya?

Menjawab pertanyaan tersebut, KH. Baha’udin Nur Salim (Gus Baha’) asal Kragan, Rembang berpendapat bahkan Alquran ialah mukjizat yang lebih dahsyat melebihi tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh yang keluar dari batu.

“Jika yang dikataka mukjizat itu ialah sesuatu yang melebihi kadar kesanggupan manusia biasa, Alquran itu bahkan banyak menerangkan penalaran yang obyektif untuk ummat sehingga dapat sering menyaksikan kedahsyatan Allah saban waktu,” katanya dalam Darusan Umum Masjid al-Aqsha Menara di Gedung YM3SK, Rabu malam (29/05/19).

Menurut Gus Baha’ keimanan di era ummat Nabi Muhammad tidak memerlukan hal-hal yang sifatnya khoriqul adat (tak sama melebihi kebiasaan). Cukup dengan bukti penalaran atas penciptaan seekor nyamuk saja itu telah mempertunjukkan dahsyatnya Allah SWT.

“Jika untuk mengetahui adanya Allah SWT saja mesti menanti mukjizat seperti Nabi Musa, itu kecelakaan besar dalam ketauhidan. Misalnya saja kita seluruh disuruh buat nyamuk dapat tidak? Atau patungnya saja lah, dapat? Bukankah itu telah cukup selaku bukti adanya Allah SWT?” tandasnya.

Bagi orang ‘Alim, lanjut Gus Baha’, percontohan nyamuk itu lebih dahsyat daripada tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Cara Allah menerangkan iman cukup sederhana dengan perumpamaan serta hal-hal kecil di kisaran manusia.

“Jika misalnya saya berjumpa dan dipameri Nabi Musa soal kesaktian tongkatnya, saya tetap lebih memilih Nabi Muhammad sebab Alquran memberi nalar yang obyektif dan tidak terbatas. Makanya Rasulullah itu disebut selaku afdholul anbiya’ (Nabi yang paling utama-red),” katanya.

Berikutnya Gus Baha’ memaparkan beberapa risiko mukjizat yang sifatnya khariqul adat seperti tongkat Nabi Musa ataupun onta Nabi Sholeh. Ia menyebut mukjizat makhsushoh seperti itu terbatas karena cuma dapat diketahui oleh manusia yang menyaksikannya secara langsung saja.

“Manusia yang tidak menyaksikannya dapat saja tidak percaya, tetapi dengan kedahsyatan Alquran dengan logika penciptaan alam semesta pasti manusia akan percaya ila yaumil qiyamah,” paparnya.

Lalu, imbuh Gus Baha’, risiko mukjizat yang khariqul adat selanjutnya ialah dikhawatirkan dapat membikin ummat manja dan minta sesuatu yang aneh-aneh. Bahkan sebagian ulama mengkritik bahwa mukjizat yang seperti itu selayaknya tidak Penting dituruti.

“Bagian ulama itu menyebut kalau yang menjadikan seseorang kafir ialah ketergantungannya dia pada kejadian dahsyat untuk mau percaya pada kodrat Allah SWT,” sebutnya.

Khawatirnya lagi, nanti ummat ini akan menggantungkan kebenaran agama berdasar kesaktian para pemimpinnya (para ulama) selaku pewaris Nabi. Ummat akan menuntut supaya para kyai mempunyai kesaktian yang dapat disaksikan berbarengan secara dzahir.

“Jika tidak sakti tidak diakui. Akhirnya muncul lah yang pura-pura sakti, seperti Perkara Dimas Kanjeng,” ucapnya diikuti tawa jemaah.

Oleh karena itu lah Alquran dikatakan selaku mukjizat terbesar bagi ummat manusia. Alasannya Alquran dapat membuktikan dan mengantarkan manusia pada Allah SWT dengan penalaran sederhana, yang orang awam pun dapat memahaminya.

“Dengan begitu lah Nabi Muhammad itu jadi satu-satunya utusan yang berhasil membawa manusia kembali (iman) untuk Allah dengan fasilitas yang tidak terbatas dan ada di mana saja. Bahkan beliau juga berhasil mempunyai ummat yang beriman tanpa mesti ditunggui (dibina secara langsung) sampai hari ini. Cukup dengan Alquran,” terang kyai yang masih mempunyai nasab sampai Mbah Asnawi Sepuh ini. (rid, gie/adb/suaranahdliyin.com)

Mukjizat Alquran Tanpa Batas, Melebihi Mukjizat Nabi Musa

Mukjizat Alquran Tanpa Batas, Melebihi Mukjizat Nabi Musa

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *