Mustofa Bisri

Sore itu saya malu mengetuk pintu rumahmu. Maka saya
menanti waktu di bawah pohon jambu. Kulihat burung
di ujung rimbun, bernyanyi-nyanyi membangun sarang. 
Daun kuning gugur menepi, angin yang sebentar lindap
lalu menjauh berangkat.

Cuaca kering di luar pagar. Angin panas mungkin bertiup
dari pantai. Namun di sini udara cukup teduh
untuk menghentikan dunia. Maka kuhitung-hitung hitungan total kerikil dari pandangan muskil, —seraya menduga-duga,
bahwa di antara batu halaman yang tertata, ada tanah
yang dibawa para santri dan kyai.

Lalu saya membaca alfatihah
untuk mereka.

Namun siapakah itu, seketika senyum padaku,
pria bersarung yang merapikan sandal tetamu,
ia melambai ke langit lalu berkata: “Saya badal
yang bertugas menjaga sandal. Karena tiap-tiap tamu
membawa tanah dari asal. Maka kubacakan shalawat
untuk mereka, agar jejaknya kelak membawa selamat
bagi sesama.”

Namun suara apakah itu, yang terdengar riuh di sana,
sekelebatan sayap berhamburan dari angkasa, membikin
pusaran cahaya. Lalu kulihat 1 pria bersayap hinggap
di dahan jambu, membelai burung yang tengah bernyanyi.

Engkaukah malaikat
pembawa rahmat, bagi rumah yang
didatangi ummat?

Jendela rumahmu senantiasa terbuka, Abah Mustofa.
Kucium-cium aroma masakan bermacam rupa, denting piring,
dan senda-gurau gembira. Kuhirup-hirup aroma kopi,
serta lantunan doa, yang gamblang terdengar
dari sana.

Doa selamat bagi tetamu yang berangkat.
Doa bahagia bagi tetamu yang Hadir.

READ
Teks Lirik Ya Khoiro Maulud (Arab dan Latin) - Mayada Album

Pintu rumahmu senantiasa terbuka, Abah Mustofa.
Dari siang berganti malam, dari malam sampai kembali petang.
Laki-laki bersarung penjaga sandal, setia menjawab
waalaikum salam bagi mereka yang pulang,
lalu mengucap waalaikum salam
bagi mereka yang Hadir.

Saya memilih malu, di sore itu. Kupalingkan muka
di balik pohon jambu. Kupanjat dahan,
untuk menyembunyikan muka, dari suaramu
yang seketika memanggiku:

“Siapatah tamu di luar,
yang memanjat pohon jambu
halaman rumahku? Masuklah ke dalam.
Jangan lepaskan pahala surga
yang diperuntukkan
bagiku.”

Yogyakarta, 2018

(Joni Ariadinata, Sastrawan tinggal di Yogyakarta)

Source link | Mustofa Bisri

loading...

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *