Nasihat Imam Abu Thalib al-Makki untuk Orang yang Berpuasa

1588868673

Nasihat Imam Abu Thalib al-Makki untuk Orang yang Berpuasa

Imam Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) Adalah seorang ulama besar yang ahli di bidang fiqih, hadits, dan tasawuf. Ia ialah penulis kitab Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd. Kitab tersebut Adalah bagian kitab yang dirujuk Imam al-Ghazali dalam menyusun Ihyâ’ Ulûm al-Dîn. Nasihatnya untuk orang yang berpuasa di ambil dari kitab ini. Berikut uraiannya.

 

Dalam Qût al-Qulûb, Imam Abu Thalib al-Makki menerangkan soal cita-cita ideal dalam puasa yang wajib dipahami oleh shâim (orang yang berpuasa). Ia menjelaskan:

 

والمراد من الصيام مجانبة الآثام، لا الجوع والعطش, كما ذكرنا من أمر الصلاة أن المراد بها الإنتهاء عن الفحشاء والمنكر. كما قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: من لم يترك قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

 

Terjemah bebas: “Maksud dari puasa ialah menjauhi dosa-dosa, bukan lapar dan haus (saja), sebagaimana yang disebutkan untuk kita soal perintah shalat, bahwa tujuannya ialah pencegahan kepada (perilaku) keji dan mungkar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya” (Imam Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd, Kairo: Maktabah Dar al-Turats, 2001, juz 3, h. 1247).

 

Imam Abu Thalib al-Makki menjelaskan bahwa cita-cita ideal dari puasa ialah menjauhi perbuatan dosa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Penjelasan sederhananya, puasa ialah ibadah yang melibatkan ketahanan fisik, yaitu menjauhi kebutuhan pokok manusia seperti makan dan minum. Banyak orang mencuri sebab kelaparan, dan banyak pula yang berseteru sebab berebut air. Ke-2 hal tersebut ialah kebutuhan primer manusia.

 

Dengan berpuasa manusia dilatih secara fisik. Ia dilatih untuk bertahan dengan menyengajakan lapar dan haus. Artinya, di waktu ia berpuasa, manusia sanggup menghidupi keistiqamahannya. Ia dapat bertahan dari mulai fajar menyingsing sampai matahari tergelincir. Pelatihan fisik ini sejatinya mengandung cita-cita ideal (al-murâd), yaitu menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

 

BACA JUGA :   Astaghfirullah! Beredar Foto Bendera HTI di Meja Pegawai KPK, Mantan Satpam Ungkap Faktanya

Kalau manusia dapat memahami puasa dalam kacamata murâdi (maksud), seperti yang diungkapkan Imam Abu Thalib al-Makki, ia akan jadi pribadi yang berkembang. Tiap-tiap menuntaskan puasanya, ia akan jadi pribadi yang lebih menjaga diri. Ia jadi lebih sadar bahwa ia senantiasa diawasi. Rasa takutnya langsung ke untuk Allah, sehingga saat ia tidak lagi berpuasa, ia merasa takut untuk berbuat dosa.

 

Sebab itu, dalam pandangan Imam Abu Thalib al-Makki, untuk ke puasa yang paripurna, menahan lapar dan haus saja tidak cukup, wajib dibarengi dengan penjagaan diri dari dosa-dosa lainnya. Bagian dosa yang nyaris seluruh orang lakukan ialah berkata bohong, meski dalam tingkat yang paling rendah, seperti pura-pura hendak memberi makan ayam. Imam Abu Thalib al-Makki mengutip hadits Nabi yang menjelaskan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan kebohongan (kepalsuan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya.”

 

Artinya, menahan lapar dan haus tidak artinya apa-apa untuk Allah kalau orang yang berpuasa masih berkata bohong dan full kepalsuan. Hadits inilah yang jadi landasan Imam Abu Thalib al-Makki soal maksud atau cita-cita ideal puasa, sebagaimana shalat yang tujuannya untuk melarang perilaku keji dan munkar.

 

Di paragraf sebelumnya, Imam Abu Thalib mengutip sebuah riwayat soal banyak orang yang berpuasa tapi cuma memperoleh lapar dan haus saja. Ia mecatat:

 

وفي الخبر: كم من صائم حظّه من صيامه الجوع والعطش. قيل: هو الذي يجوع بالنهار ويفطر علي حرام. وقيل: هو الذي يصوم عن الحلال من الطعام ويفطر بالغيبة من لحوم الناس. وقيل: هو الذي لا يغضّ بصره ولا يحفظ لسانه عن الآثام

 

BACA JUGA :   Breaking News! 11 Simpatisan Rizieq Kembali Diamankan di PN Jaktim, Ada Eks FPI Banten

Terjemah bebas: “Dalam sebuah riwayat (disebutkan): ‘Seberapa banyak orang yang berpuasa, (tapi) dari puasanya (cuma) memperoleh lapar dan haus.’ Dikatakan (maksudnya ialah): ‘Ia ialah orang yang lapar di siang hari dan berbuka dengan (hal) yang haram.’ Dikatakan: ‘Ia ialah orang yang berpuasa dari kehalalan makanan dan berbuka dengan ghibah (memakan) daging manusia.’ Dikatakan: ‘Ia ialah orang yang tidak menundukkan pandangannya dan tidak menjaga lisannya dari perbuatan dosa” (Imam Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247).

 

Imam Abu Thalib al-Makki menghendaki kita untuk berhati-hati waktu berpuasa. Berhati-hati dalam segala hal negatif, tidak cuma dalam hal menahan lapar dan dahaga saja. Jangan sampai puasa kita kehilangan maknanya sebab mengumpat, menggunjing, berbohong, dan meliarkan pandangan kita.

 

Andaipun kita telah terlanjur berkata negatif atau menggunjing orang lain, Imam Abu Thalib al-Makki menganjurkan kita untuk mengambil wudhu, sebagaimana yang dikerjakan para ulama terdahulu. Ia menjelaskan: “wa qad kânû yatawaddla’ûna min adzal muslim” (sungguh mereka [para ulama] beruwdlu sebab menyakiti muslim [lainnya]). Ia juga mecatat:

 

لأن أتوضأ من كلمة خبيثة أحبّ إليّ من أن أتوضأ من طعام طيّب

 

Terjemah bebas: “Sebab berwudhu dari kata yang negatif lebih saya sukai daripada berwudhu dari makanan yang baik” (Imam Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd, 2001, juz 3, h. 1247).

 

Tentu, berwudhu di sini ialah berwudhu sebab merasa bersalah dan menyesal sudah menyakiti atau menggunjing orang lain. Pertanyaannya, sudahkah perasaan bersalah itu muncul di hati kita?

 

Wallahu a’lam bish-shawwab

 

 

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

 

Nasihat Imam Abu Thalib al-Makki untuk Orang yang Berpuasa
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *