1585150345
1585150345

NU Ampenan Membela Palestina melalui warning Isra Mi’raj

Diposting pada 37 views

NU Ampenan Membela Palestina melalui warning Isra Mi’raj

Pada awal abad 20, Ampenan Adalah pusat kota di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ampenan waktu itu mempunyai pelabuhan ramai sehingga jadi tempat lalu lalang antarbangsa. Waktu ini di Ampenan Ada banyak kampung yang Adalah perwujudan dari bermacam suku bangsa di Indonesia diantaranya Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Arab, dan Kampung Bali. Dari pelabuhan ramai inilah, NU masuk ke pulau Lombok.  


Dalam buku NU Lombok (1953-1984) karangan Ida Bagus Putu Wijaya Kusumah, disebutkan  bahwa NU mulai berdiri secara legal pada tahun 1953. Kalau dilihat dari sisi sejarah nasional NU, artinya semenjak Muktamar NU di Palembang 1952. Pada muktamar itulah, NU memulai babak baru, jadi partai politik. 


Tetapi, menurut TGH Taqiuddin Mansur dalam buku NU Lombok; Sejarah Terbentuknya Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat Disertai Doa Istighotsah dan Wirid Harian mengatkaan bahwa embrio NU diawali kisaran tahun 1934, diawali figur publik dan ulama asal Banjarmasin, Palembang, Arab dan India yang tinggal di daearah Ampenan mengupayakan sebuah organisasi yang berhaluan Ahlussunah wal-Jama’ah (Aswaja). Mereka di antaranya TGH Mustafa Bakri, Sayid Ahmad Al-Idrus, Sayid Ahmad Al-Kaf. Untuk maksud Aswaja itu, mereka mendirikan sebuah organisasi bernama Persatuan Islam Lombok (PIL). Ada juga yang berpendapat Persatuan Ulama Islam (PUIL).

READ
Pomal Kolinlamil Berbarengan Polri dan Pemda, Distribusikan Paket Dukungan Presiden


Para pemimpin organisasi itu itu menggabungkan 2 aktivitas yang terkenal dalam sejarah penyebaran dan Kemajuan Islam, ialah ialah pedagang di samping berdakwah. Sebab itulah, pergaulan mereka dengan bermacam kalangan dan wilayah terbentuk dengan baik. Termasuk dengan pulau Jawa. Kebiasaan berjumpa dengan bermacam kalangan itulah, menyebabkan mereka memperoleh pengetahuan soal organisasi mana yang berhaluan Aswaja, seirama dengan PIL dan yang bukan. Baik di tingkat lokal suatu wilayah, maupun yang sudah berkembang di tingkat nasional. Organisasi Aswaja di tingkat nasional, mereka memperoleh info soal Nahdlatul Ulama. Lantas, mereka meleburkan organisasinya dengan NU. 


Status Ampenan lantas jadi Cabang NU tersendiri. Aktivitasnya terekam di dalam sebuah laporan Berita Nahdlatoel Oelama, majalah 2 bulanan milik NU yang diterbitkan di Surabaya, yang memuat warning Isra Mi’raj Nabi Muhammad NU Cabang Ampenan pada 1939. Berikut laporannya: 

Pada malam senin 27 Rajab bulan Islam Menurut Alamanak NU) dengan bertempat di rumah perkumpulannya sendiri, Nahdlatul Ulama Cabang Ampenan sudah menggelar perayaan Mi’rajnya junjunan kita Nabi Muhammad SAW (openbaaar mi’raj). 

Rapat dibuka oleh voorzitter sdr Achmad Alidrus pada jam 9.30. kurang sedikit dengan bacaan Al-Quran. Rapat dikunjungi oleh kira-kira 400 orang laki-laki dan wanita dan di antaranya telah terhidytng tamu-tamu yang memperoleh undangna spesial. Seperti ini juga wakil dari pemerintah dan pers komprehensif. 

Wakil-wakil perkumpulan: Muhammadiyah dan PAI. 

Wakil-wakil pers: Kebangunan, Sin Po, Sin Tit Po, Sipatahoenan, dan Adil. 

Wakil Pemerintah atau PID terdiri dari hoopd-recherheur dan Mantri Politie.


Dari udangan yang datang kita dapat simpulkan bahwa NU di tingkat cabang saja sedemikian terbuka, walaupun dalam beberapa tak sama pandangan seperti dengan Muhammadiyah dan PAI terkait problem furu’iyah yang pada masa itu hangat pro kontra. 

READ
Soal Perjalanan Virus di Tubuh Manusia


Ke-2, NU di tingkat cabang mempunyai kesadaran dokumentasi yang tinggi dengan mengundang kalangan pers. Hal sebagaimana dikerjakan di tingkat pusat. Tujuannya ialah mempercepat agar NU dikenal publik. Biasanya NU tingkat pusat mengundang pihak-pihak tersebut waktu akhir muktamar dengan diadakannya openbaar tabligh. 


Ketiga, mengundang wakil dari pemerintah selaku bagian dari penghormatan untuk ulil amri, walaupun lantas pemerintahan waktu itu ialah kolonial Belanda bersifat amat sewenang-wenang. Bahkan kesewenang-wenangan itu ditunjukkan pada acara warning Isra Mi’raj yang tengah berlangsung itu. alasannya waktu berceramah, pengurus NU menyabit-nyabit kata “perang” “Palestina”, dan “Inggris” sehingga aktifitas tersebut diinterupsi oleh polisi yang waktu itu datang. 


Kejadian serupa pernah dialami NU Cabang Indramayu waktu mengundang KH Mahfudz Shiddiq. Tetapi, waktu itu atas Perundingan pengurus NU, acara dapat dilanjutkan.  Jadi, walaupun NU bukan organisasi politik waktu itu sungguh-sungguh mengalami kerepotan bergerak. Jikalau tidak dipimpin kiai-kiai yang yang berpandangan luas serta luwes, NU dapat berakhir lebih dini. 


Keluasan dan keluwesan cara berpikir pra kyai itu dalam berhadapan dengan tiap-tiap tantangan zaman, menyebabkan NU sampai waktu ini tetap ada, dan berperan.  Bersambung


Penulis: Abdullah Alawi

Editor: Fathoni Ahmad

 

NU Ampenan Membela Palestina melalui warning Isra Mi’raj
Sumber: NU-Online

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *